Orang-orang itu hilir mudik di depanku. Ada yang berdandan necis berdasi seperti orang kantoran, ada yang memakai baju seadanya sambil memanggul pengki dan cangkul, ada yang memakai pakaian harian seperti mau ke pasar ada juga yang tidak jelas dia maunya apa. Persamaan mereka semua adalah bahwa mereka seolah menganggap aku tidak ada. Hebat ya.
Sejak subuh tadi aku terbangun, mengamati satu per satu orang yang lewat di depanku. Lelaki, perempuan, tua, muda, semua aku perhatikan wajahnya. Dan dia tidak ada di antara mereka semua. Aku akan menunggu sampai mataku tak kuat lagi membuka. Seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi.
Beberapa orang melempar koin kepadaku. Ada juga yang melemparkan makanan, roti, permen, nasi bungkus bahkan air mineral. Dikiranya aku pengemis. Sama sekali aku tidak ada niatan mengemis, hai Tuan Nyonya. Aku hanya sedang menunggu. Tapi aku tidak berbicara. Kau tau, aku hanya berbicara pada diriku sendiri, karena yang lain tidak bisa kupercaya.
Koin-koin itu tidak aku apa-apakan, nanti malam akan ada yang mengambilnya, seperti biasa. Dan makanan minuman itu, aku memakannya jika perutku bilang aku harus memakannya. Tapi sisanya nanti malam juga akan ada yang mengambilnya dari hadapanku, seperti biasa. Mereka butuh koin, makanan dan minuman itu melebihi aku, katanya.
Satu hari
Dua hari
Satu minggu
Dua minggu
Sebulan
Empat bulan
Setahun
Dia tetap tidak ada di antara orang-orang yang lalu lalang.
Bentukku sudah semakin mirip dengan pembatas jalan di belakangku ini.
Hitam, kumal, berdebu dan kotor.
Begitu juga di dalamnya.
Sudah seminggu ini darah keluar dari batukku.
Nafasku juga mulai susah, seperti mengandung ribuan butir debu.
Itu dia. Pemuda gagah berkaos putih itu dia.
Aku berdiri. Susah. Aku bisa berdiri. Aku berlari mengejarnya. Aku terjatuh. Aku tak kuat lagi.
"Anakkuuu!!". Itu satu-satunya kata yang bisa kukeluarkan.
Tubuhku sudah tidak mau lagi bergerak. Aku bergerak sendiri, aku berlari ke arahnya tetapi tubuhku terdiam tergeletak di jalanan. Dia sama sekali tidak mengabaikanku. Aku berbicara, tapi tidak ada suara. Aku seperti tidak terlihat. Seperti biasanya.
Dan dia terus berjalan menjauh, menaiki mobil dan berlalu.
Seperti biasanya.
Showing posts with label flash fiction. Show all posts
Showing posts with label flash fiction. Show all posts
Friday, 13 October 2017
Thursday, 12 October 2017
Kamar Mandi
Di lantai satu kantorku ini, toilet terletak tepat di depan lift.
Toilet perempuan, terdiri dari dua bilik yang bersebelahan.
Jumlah pegawai perempuan di lantai yang kutempati ini adalah 5 orang.
Aku, Mita, Anis, Nurul, dan Rina.
Pukul 12 siang, biasanya para pegawai keluar untuk makan siang.
Aku jarang ikut, karena aku lebih suka bawa bekal dari rumah.
Lebih enak dan murah.
Selepas makan siang, aku ke toilet.
Membawa handphone karena aku berniat buang air besar.
Daripada bengong menunggu hajat selesai, aku browsing.
Terdengar ada yang masuk ke bilik di sebelahku.
Oh rupanya kawan-kawanku sudah pada balik kantor.
Tak lama terdengar kloset disiram dan seseorang itu keluar dari toilet.
Keasikan browsing aku jadi masih disitu sampai terdengar ada langkah lagi orang masuk ke bilik sebelah.
"Na?"
"Ya! Rina yak?"
"Iya. Sore nanti ke rumahku ya."
"Ada acara apa?"
"Nggak kok, cuma kumpul-kumpul aja, ajakin yang lain juga."
"Insyaallah."
Aku menyudahi kegiatanku. Menyiram kloset dan membersihkan diri.
"Duluan ya Rin!"
"Ya."
Aku pun kembali ke ruanganku dan melanjutkan pekerjaanku.
Tak lama beberapa kawanku datang membawa banyak makanan.
Donat, pizza, asinan dan juga berbagai macam jus buah.
"Kami dataaaangggg!"
"Na, ayo makan. Rina ulang tahun ternyata hari ini, makanya dia nyuruh kita-kita bawain ini semua buat kita seruangan," kata Anis semangat sekali.
"Ohh,,pantesan dia nyuruh aku ngajak kalian ke rumahnya sore ini," kataku sambil mengambil donat coklat kacang dan menggigitnya.
"Apaan, nggak jadiii... Rina tadi langsung cabut ke bandara setelah memborong ini semua. Kan adeknya jemput disana tadi," sahut Anis.
"Yeee...bandara dari hong kong, barusan gue ketemu di toilet, dia nyuruh aku ngajak kalian kok," kataku gak mau kalah.
"Yaelah kagak percaya banget, pesawatnya berangkat sore ini jam 3 coy! Dia pulang kampung," sahut Nurul.
"Masak sih?"
Tiba-tiba aku merinding.
Toilet perempuan, terdiri dari dua bilik yang bersebelahan.
Jumlah pegawai perempuan di lantai yang kutempati ini adalah 5 orang.
Aku, Mita, Anis, Nurul, dan Rina.
Pukul 12 siang, biasanya para pegawai keluar untuk makan siang.
Aku jarang ikut, karena aku lebih suka bawa bekal dari rumah.
Lebih enak dan murah.
Selepas makan siang, aku ke toilet.
Membawa handphone karena aku berniat buang air besar.
Daripada bengong menunggu hajat selesai, aku browsing.
Terdengar ada yang masuk ke bilik di sebelahku.
Oh rupanya kawan-kawanku sudah pada balik kantor.
Tak lama terdengar kloset disiram dan seseorang itu keluar dari toilet.
Keasikan browsing aku jadi masih disitu sampai terdengar ada langkah lagi orang masuk ke bilik sebelah.
"Na?"
"Ya! Rina yak?"
"Iya. Sore nanti ke rumahku ya."
"Ada acara apa?"
"Nggak kok, cuma kumpul-kumpul aja, ajakin yang lain juga."
"Insyaallah."
Aku menyudahi kegiatanku. Menyiram kloset dan membersihkan diri.
"Duluan ya Rin!"
"Ya."
Aku pun kembali ke ruanganku dan melanjutkan pekerjaanku.
Tak lama beberapa kawanku datang membawa banyak makanan.
Donat, pizza, asinan dan juga berbagai macam jus buah.
"Kami dataaaangggg!"
"Na, ayo makan. Rina ulang tahun ternyata hari ini, makanya dia nyuruh kita-kita bawain ini semua buat kita seruangan," kata Anis semangat sekali.
"Ohh,,pantesan dia nyuruh aku ngajak kalian ke rumahnya sore ini," kataku sambil mengambil donat coklat kacang dan menggigitnya.
"Apaan, nggak jadiii... Rina tadi langsung cabut ke bandara setelah memborong ini semua. Kan adeknya jemput disana tadi," sahut Anis.
"Yeee...bandara dari hong kong, barusan gue ketemu di toilet, dia nyuruh aku ngajak kalian kok," kataku gak mau kalah.
"Yaelah kagak percaya banget, pesawatnya berangkat sore ini jam 3 coy! Dia pulang kampung," sahut Nurul.
"Masak sih?"
Tiba-tiba aku merinding.
Thursday, 29 November 2012
#FlashFiction (FF) - Other Frame
Malam sudah larut, jam sebelas sudah lewat beberapa jam yang
lalu. Sudah bukan malam lagi rupanya.
Dimatikannya lampu, dirapikannya sekali lagi taplak meja
makan di dapurnya yang mungil. Kemudian dia ke ruang tamu. Menunggu suaminya
yang berjanji akan sampai rumah pukul sebelas malam tadi.
Kokok ayam membangunkannya yang tertidur di sofa. Di kamar,
di dapur, di kamar mandi, tak ditemuinya suaminya. Dibukanya pintu utama,
dipungutnya koran pagi di atas kursi.
“Mayat Tak Dikenal Gegerkan Warga”, hedline koran yang
dibacanya. Diliriknya kue tart dan lilin yang masih tertata rapi di meja makan.
“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi”, suara yang
didengar dari ponselnya.
Tiba-tiba dia berlari ke kamar mandi, muntah sejadi-jadinya.
gambar dipinjam dari sini
Subscribe to:
Posts (Atom)
