Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Sunday, 1 November 2015

Penderitaan Hidup

Kembali dengan filsafat tiong hoa yang menurut saya bagus :) Kali ini tentang penderitaan hidup manusia. Bunyinya begini :

Manusia punya 4 penderitaan hidup :
- Tidak melihat kebenaran
- Tidak bisa merelakan
- Tidak mau kalah
- Tidak bersedia melepaskan

Bagaimana saya memandang filsafat tersebut?

Menurut saya memang benar, orang yang menderita adalakalanya adalah karena tidak bisa melihat kebenaran, tidak bisa merelakan, tidak mau kalah dan tidak bersedia melepaskan.

Coba kita balik, jika kita tidak grasa-grusu memandang segala sesuatu, hingga teranglah untuk kita mana yang baik dan benar pasti kita bisa lebih bijak. Jika kita kehilangan sesuatu, kita pelan-pelan merelakan, insyaallah hati kita juga akan lega, tidak ada beban. Jika kita mau mengalah, insyaallah hidup kita akan lebih damai, dan hati kita akan lebih tenang. Dan ketika kita bersedia melepaskan apa yang bukan hak kita, apa yang tidak mau menjadi bagian dari kita, insyaallah justru hidup kita akan lebih ringan langkahnya.

Beberapa hari kayaknya sharing saya tentang filsafat tiong hoa melulu, apakah saya keturunan tiong hoa? Jawabannya adalah tidak sama sekali. Tapi jika hal itu memang baik, kenapa tidak kita ambil :)

Dalam hidup kita yang cuma sebentar ini, mari kita fokuskan pada kebaikan, fokus pada hal yang positif, insyaallah lebih jelas arah dan tujuan kita nantinya.



Saturday, 31 October 2015

Kekayaan Hidup

Catatan lagi dari filsafat ting hoa. Berikut bunyinya :

Manusia punya 6 kekayaan hidup :
- Tubuh
- Pengetahuan
- Impian
- Keyakinan
- Percaya Diri
- Tekad Juang

Dalam pemikiran saya, betul bahwa kita tanpa harus kaya, tanpa harus cantik, bisa memiliki 6 kekayaan hidup itu.

Dan saya setuju jika dengan keenam kekayaan tersebut kita bisa mendapatkan kekayaan duniawi.

Permasalahan yang ada adalah, menurut pengamatan saya, manusia-manusia sekarang sering lupa bahwa kita memiliki keenam kekayaan hidup tersebut. Kita lupa bahwa tubuh ini adalah kekayaan, pengetahuan adalah kekayaan, impian pun merupakan kekayaan, keyakinan, kepercayaan diri dan tekat juang adalah kekayaan yang sangat berharga. Keenam hal ini merupakan modal utama kita untuk mendapatkan kekayaan duniawi. Sayangnya terkadang kita lupa kita punya enam hal ini dan mungkin kita membuang dengan tidak sengaj ke enam hal ini :(

Ayo kita mulai mengumpulkan keenam hal ini agar kita bisa melangkah semakin mudah dan ringan dalam mencapai tujuan material kita...

Hargai tubuh sehat kita
Asah terus pengetahuan kita
Jangan hapus impian kita
Pertegas keyakinan kita
Teguhkan kepercayaan diri kita
dan terus berjuang penuh semangat :)

Jika bukan kita yang menumbuhkan kekayaan hidup kita sendiri, lalu mau berharap pada siapa?
Jika kekayaan hidup kita ini tidak kita gunakan, maka orang lain yang akan menggunakan kita untuk mencapai tujuan mereka..

Yuk temans,,tanpa harus kaya, tanpa harus cantik,,kita udah punya modal kok :)
Tetap semangat!

Friday, 30 October 2015

Orang Baik

Ada seorang ibu-ibu yang begitu saya melihatnya, saya merasa dia itu orang baik dan patut dijadikan contoh. Orangnya biasa saja, tidak ada yang istimewa dalam penampilannya, tapi ketika kita tau pola pikirannya, tindak tanduknya, kita akan senang dekat-dekat dengannya.

Satu hal yang melekat di kepala saya ketika saya mengingat namanya. Yaitu dia suka sekali berbuat kebaikan dan menebar hawa positif.

Dia menulis begini : Seandainya semua orang tau bahwa Allah membalas semua kebaikan ...

Indah sekali di telinga saya, dan pikiran saya pun melanjutkan sendiri kalimat itu, seandainya semua orang tau bahwa Allah membalas semua kebaikan, tentulah mereka akan berlomba-lomba berbuat baik.

Tidak dibahas bagaimana jika justru orang-orang berbuat jahat. Karena fokusnya bukan itu, fokusnya adalah berbuat baik. Berbuat baik. Dan berbuat baik.

Ada pepatah tiong hoa lagi yang menurut saya sangat bagus untuk kita ambil. Begini bunyinya :



Saat kita menanam padi, rumput ikut tumbuh, 
Tapi saat kita menanam rumput tidak pernah tumbuh padi.
Dalam melakukan kebaikan, kadang-kadang hal yg buruk turut menyertai.
Tapi saat melakukan keburukan, tidak ada kebaikan bersamanya.
Kembangkan terus perbuatan baik dan kebajikan dalam kehidupan kita

Sejauh ini, saya belum pernah melihat hal buruk yang sengaja dilakukan beliau ini, dan ini membuat saya kagum...

Semoga saya bisa mencontoh beliau ya, atau bahkan lebih baik. Amiiin.

Thursday, 29 October 2015

Berhentilah Membanding-bandingkan

Pernah mendengar sebuah quote begini :

"Semua berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya kita mulai membanding-bandingkan".

Sebenarnya, akhir-akhir ini juga saya merasa resah ketika membaca timeline di FB saya. Banyak sekali orang yang ribut, meributkan orang lain dan meributkan entah apalagi.

Dan ketika saya cermati, intinya memang benar sesuai quote di atas. Semua berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya kita mulai membanding-bandingkan.

Padahal menurut saya, tidak sepatutnya semua hal itu dibanding-bandingkan. Kecuali memang pembandingan yang dilakukan itu ada tujuannya. Contohnya, mau membeli mangga, tentu kita bandingkan dan kita pilih yang sesuai selera kita.

Tapi kalo sudah soal pilihan hidup, sifat orang, rasanya kok tidak pas untuk jadi bahan perbandingan.

Dan hari ini saya menemukan ini, salah satu filsafat bijak dari orang-orang tiong hoa yang menurut saya bagus banget. Begini bunyinya :

Gunung memiliki ketinggiannya masing-masing,
Air memiliki kedalamannya masing-masing,
Tidaklah perlu saling membandingkan, karena setiap orang juga punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Angin memiliki sifat yang bebas,
Awan memiliki sifat yang lembut,
Tidaklah perlu kita meniru, setiap orang juga memiliki sifatnya masing-masing.

 Dan mulailah dari diri kita sendiri. Tidak perlu kita menghakimi ibu bekerja, ibu menyusui, ibu yang memberikan susu formula untuk bayinya, ibu yang tidak bekerja, ibu yang bekerja di rumah, proses lahiran normal, proses lahiran caesar dan everything ecek-ecek lainnya.

Karena kita pun pasti tidak suka dibanding-bandingkan, kecuali kalo kita pasti lebih unggul :P #piss


Thursday, 24 September 2015

Prioritas

Jangan bosan ya, ini masih catatan saya hasil membaca bukunya pak Jamil :)

Tentang prioritas. Selama ini saya menerima banyak sekali cara menentukan prioritas dalam hidup. Biasanya teorinya diajarkan dengan membuat kolom-kolom, penting dan mendesak, penting tidak mendesak, tidak penting tapi mendesak dan tidak penting dan tidak mendesak. Kamu pernah juga menerima teori ini mungkin :)

Dan ketika saya membaca buku ini, kepala saya minta direset ulang dalam hal menetapkan prioritas. Saya seakan diingatkan bahwa sesungguhnya dalam islam pun sudah ada petunjuk untuk prioritas. Begini urutan prioritas apa yang harus kita kerjakan dan pilih :

WAJIB ---> SUNNAH ---> MUBAH ---> MAKRUH ---> HARAM

Kita batasi sampai yang MUBAH. Untuk yang makruh dan haram, tidak perlu dipertimbangkan, segera jauhi!!!

Prioritaskan hal-hal yang wajib, kemudian sunnah baru yang mubah. Setiap saat seperti itu. Misalnya, pukul 15.30, terdengar adzan Ashar, kamu sedang nonton film korea yang asyik banget dan udah hampir selesai kira-kira 10 menit lagi. Nah, kira-kira mana yang harus jadi prioritas? :) You, choose!

Dalam semua hal seharusnya kita pertimbangkan itu, misalnya mana yang lebih prioritas antara membaca Al-Quran, mencuci baju dan menonton televisi. Dan seterusnya dan seterusnya. Kita hanya perlu memilih :)

So, kapanpun kamu bingung menentukan prioritas, ga perlu repot-repot membuat tabel desak mendesak dan penting ga penting, cukup ingat hukumnya dalam islam, apakah hal itu wajib? Sunnah? atau Mubah?

Apakah saya sudah menerapkan hal itu dalam kehidupan saya?

Bagi saya, menjadi lebih baik adalah pembelajaran setiap saat. Saya tidak mungkin sesempurna itu tiba-tiba setelah sebelumnya hidup suka-suka. I still trying,,,and keep trying until it done, insyaallah :)

Semoga Allah memudahkan. Amiiin.

Wednesday, 23 September 2015

Kerja Itu Harus ...

Masih dari bukunya pak Jamil.

Kali ini catatan saya tentang kerja. Dalam buku itu dijelaskan bahwa kerja itu ada 3 yaitu :

- Kerja Keras
- Kerja Cerdas
- Kerja Ikhlas

Kerja keras akan mendatangkan rezeki, Kerja Cerdas akan melipatgandakan rezeki dan Kerja Ikhlas akan membuat rezeki kita menjadi berkah dan berlimpah. Amiiin

Catatan dalam hati saya, ketika kita melakukan usaha apapun, kita harus melakukan ketiga-tiganya. Kerja keras itu harus, karena tak ada hasil tanpa usaha, dan hasil tidak akan mengingkari usaha :) Saya percaya itu. Kemudian tentu saja kita ingin hasil yang terus meningkat, maka tak ada cara lain selain kita harus kerja cerdas. Kerja pakai ilmu, caranya? Asah terus ilmu kita, belajar dan belajar...

Satu lagi, apapun yang kita lakukan di dunia ini tidak akan ada hasilnya jika kita tidak melibatkan Tuhan di dalamnya, kita tidak niatkan ibadah saat melakukannya. Karena itu, kita juga harus kerja ikhlas. Libatkan Tuhan dari awal sampai akhir, karena tidak ada sebutir debu pun yang terbang kecuali dengan izin Allah..

Sudahkah saya bekerja keras, cerdas dan ikhlas?

Percayalah, saya sedang berusaha melaksanakannya :)

Tuesday, 22 September 2015

Visi Hidup

Saya sedang membaca sebuah buku berjudul ON, karya Jamil Azzaini.

Sangat menarik. Yang saya tangkap dari buku ini adalah bahwa kita ini hidup harus mempunyai tujuan, mempunya VISI, untuk apa kita hidup, bagaimana cara kita menjalani hidup ini dan apa hasil yang akan kita capai pada akhirnya.

Layaknya perjalanan, jika kita tidak tau kemana arah dan tujuan kita, maka? Maka kita akan berputar-putar, berputar-putar, menghabiskan waktu, menghabiskan saldo umur dan tidak akan sampai kemana-mana karena kita tidak punya tujuan, sehingga pada akhirnya waktu kita habis dan kita harus membayar semuanya. Syukur kalo kita punya uang/bekal, kalau tidak?

Nah, di buku ini diajarkan bagaimana kita harus membuat visi-ON dalam hidup kita. Hidup adalah pilihan, mau berakhir di surga atau neraka? Tentu saja kita pilih surga kan? Nah, kalau kita ingin masuk surga, maka pantaskan diri untuk menjadi penghuni surga. Buat jawaban dari pertanyaan : Kenapa kita harus masuk surga? Amalan apa yang membuat kita layak masuk surga? Buat visi dari situ.

Saya sendiri, sejujurnya saya juga tidak mempunyai visi, jika visi adalah seperti apa yang disebutkan pak Jamil dalam bukunya tersebut. Usia saya sudah hampir 30 tahun dan saya belum pernah mendeklarasikan proposal hidup saya (yang menjelaskan visi saya).

Selama ini saya hanya menjalankan hidup, berusaha menjadi orang baik, menjadi orang menyenangkan dan menghargai orang lain.

Tapi setelah membaca buku ini saya jadi ingin berubah. Bukan, saya belum menyusun visi juga kok, tapi pandangan saya akan hidup menjadi sedikit berbeda. Saya menjadi ingin semakin sering bertanya pada diri saya sendiri, "Pantaskah ahli surga melakukan hal seperti ini?" ketika saya akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Karena hidup adalah pilihan.