Entah dari jaman kapan si infused water itu ngetren di kalangan pengguna instagram, tapi air inpusan itu baru aja ngetren di kalangan ibu-ibu laktasi di kantorku, yeah "kemane aje?" hehehehe,,
Ceritanya, di populasi ruang laktasi, memang gaya hidup itu menular antara ibu2 satu ke ibu2 yang lainnya. Hari senin, salah satu pelanggan ruang laktasi sebut saja Eka, membeli shaker Tupperware dari aku. Yes, shaker, buat bikin shake :)
Nah, hari Rabu kemaren, si Eka membawa shaker tersebut yang sudah berisi air dengan potongan beberapa benda. Benda apakah itu?
Kalo diamat2in isinya itu terdiri dari potongan lemon, potongan mentimun dan potongan nanas.
Kemudian mulailah dibahas tentang isi shaker Eka itu, yang ternyata di dunia nyata dan maya sama-sama disebut dengan infused water. Kalo kata Eka, "Minum infused water biar badan jadi seger". Terdengar seperti iklan kunyit asam ya :D
Dan akhirnya ada dua butir ibu2 laktasi lain yang tiba2 memesan shaker Tupperware juga dengan alasan mau bikin infused water kayak Eka.
Pertanyaannya, apakah untuk membuat sebiji infused water itu diperlukan proses shaking menggunakan shaker? Secara kasat mata jawabannya adalah jelas : TIDAK. :P
Kemudian gue gugling donk, apakah makhluk yang bernama infused water itu. Gue baca-baca dan baca lagi. Akhirnya gue menyimpulkan beberapa hal tentang infused water sebagai berikut (diceritakan kembali dengan bahasa sendiri ) :
1. Infused water adalah air putih yang telah diisi dengan potongan beberapa jenis buah dan atau rempah-rempah kemudian ditutup dan didiamkan selama minimal 2 jam di dalam kulkas. Dipercaya dengan perendaman minimal 2 jam, zat-zat dari isian tersebut akan tercampur dengan air.
2. Konon katanya, air yang sudah menjadi infused water itu akan menjadi beraroma sesuai isiannya, dan memiliki siratan (ceilahhh,,,) rasa seuai isiannya ituh. Dan rasanya lebih segar. Ada yang bilang seger banget,, atau seger bingit :P
3. Syahdan katanya, selain lebih segar, si infused water ini juga mengandung khasiat yang mandraguna! Apakah khasiatnya? Itu tergantung buah atau rempah apa yang menjadi isiannya.
Misalnya : infused water dengan isi lemon, mentimun dan nanas, akan memberikan efek menjaga nafsu makan, membakar lemak dan daya tahan tubuh. Tsaaaahhh...mirip tolak angin :)
Mau efek yang lain? Silahkan gugling, nanti akan banyak variasi yang bisa dipilih mana efek yang kita inginkan.
4. Pertanyaan : Apakah semua jenis buah bisa dijadikan isian? Menurut hasil gugling gue, tidak semua buah bisa dijadikan isian infused water ini. Buah yang bisa dijadikan isian infused water adalah buah yang memiliki sifat acid.
Gue ga tau juga sih maksudnya apa, hahahahaha. Tapi bisa gue kasih tau kalo buah yang biasa dipakai buat isian adalah : lemon, jeruk nipis, nanas, mentimun, apel, jeruk (sunkist, dkk), mangga, apel, pear, strawberry, kiwi, belimbing.
5. Selain buah, biasanya ada juga yang menambahkan rempah-rempah. Rempah apa sajakah itu? Ketumbar? Lada?
Oh bukan,,,haha. Rempah disini biasanya rempah2 yang biasa ada di resep2 masak chef2 di TV, yang kalo orang di kampung mah malah ga tau,,haha. Contohnya : daun rosemary (apaan tuh?), daun mint, batang kayu manis dan jahe.
Pan kalo kita masak di dapur taunya daun kemangi, kol gepeng, ketumbar, lada, lengkuas yak? :D
6. Katanya, infused water ini, yang sudah direndam minimal 2 jam ini, kalo sudah diminum dan habis, dapat diisi ulang. Tapiii,,,apabila kondisi buahnya sudah tidak segar lagi, maka harus dibuang, tidak boleh diisi ulang lagi.
7. Apakah buah bekasan isiannya itu boleh dimakan? Errrrr gue ga tau benernya, ada yang bilang dibuang ada yang bilang dimakan. Kalo kata gue, itu buahnya siapa? Kalo punya ente ya makan-makan aja, asal jangan punya orang lain yang lo makan,, :D
8. Dari beberapa referensi, gue dapat membuat satu kesimpulan juga bahwa, tren infused water ini muncul sebagai salah satu bentuk upaya agar kita-kita ini cukup minum air putih. Dengan adanya infused water ini, diharapkan orang-orang jadi bersemangat untuk minum. Sebab kebanyakan orang suka malas minum, padahal dehidrasi itu efeknya banyak ya, bisa mengurangi kecantikan kulit juga *cieeeeee
9. Satu yang paling penting. Penampilan infused water ini memang rata-rata MENARIK! FRESH! SEGERRRRRR.... (kalo mau bukti, gugling aja image-nya si infused water ini, insyaallah jadi kepengen bikin juga). :P
Dan dengan pengetahuan tersebut, gue yakin seyakin-yakinnya kalo infused water itu sama sekali tidak membutuhkan shaker untuk membuatnya.
Dan hari ini gue ditagih sama dua ekor ibu2 laktasi itu, sebut saja Iva dan Tya, katanya, "Mana shaker gue? Gue kan mau bikin infused water besok".
Tiba-tiba saat gue ngetik ini gue ngerasa haus,,,apakah itu artinya gue butuh beli shaker juga buat bikin infused water? *wink!
Terlihat bahwa, kebutuhan akan shaker dan infused water itu hanya karena iklan semata....dan memang gaya hidup emak-emak itu menular ke emak-emak yang laiinnya...
>,<
Showing posts with label tupperware. Show all posts
Showing posts with label tupperware. Show all posts
Thursday, 20 February 2014
Friday, 29 November 2013
Hidup Hijau
It's called GO GREEN.
Segala hal itu dimulai dari yang kecil. Dimulai dari sini. Dimulai oleh kita sendiri.
Terkadang...
Gue berpikiran jernih dan pengen banget jadi orang yang peduli lingkungan. Yang istilahnya biasanya disebut dengan hidup hijau atau go green. Bukan. Bukan menjadi hulk,,,itu lain cerita :D
Secara barang-barang gue yang judulnya Tupperware udah banyak, terkadang gue berpikir untuk hidup hijau bersamanya. Beberapa kali sih gue praktekin. Dan yang terjadi adalah gue melihat beberapa orang memandang gue dengan mengernyit...
Salah dua orang yang mengernyit itu adalah tukang bubur kacang ijo deket kantor gue dan satu lagi pelayan warteg deket kantor suami gue.
Ceritanya :
One day gue berangkat kantor seperti biasa. Eh, ga biasa ding, soalnya hari itu gue ga masak, jadi ga bawa bekal. Dan gue malah bawa 2 tupperware gue yang berbentuk sebuah mangkuk dan sebuah gelas agak gede. Dua-duanya ada tutupnya yang insyaallah ga tumpah kalo dibawa-bawa.
Pertama kami ke kantor suami. Gue ke warteg. Beli sarapan dan gue bilang sama pelayannya makanan gue ga usah dibungkus, tapi pakai tempat makan gue (si mangkok). Dan dia mengernyit. Dan gue ngeyakinin dia. Dan dia oke-oke aja.
Kedua kami ke kantor aku. Suami nganterin. Habis itu ke tukang bubur. Bukan, bukan yang naik haji, tapi yang jualan bubur kacang ijo dan indomie. :D
Gue beli bubur kacang ijo dan bilang sama abang-abanganya supaya bubur gue langsung ditaruh di wadah gue (si gelas). Dan dia mengernyit. Dan gue ngeyakinin dia. Dan dia oke-oke aja.
Gue berharap itu akan konsisten gue lakuin. Supaya mengurangi sampah. Meskipun suma sedikit.
Dan ternyata.
Gue belum konsisten.
Dan gue akan berusaha lagi. Yeah! Semangat!
Kasihan bumi kita kalo semakin banyak sampah, apalagi yang susah atau tidak bisa terhancurkan (apa sih istilahnya ini)..
Yuk sayangi bumi, mulai dari diri kita sendiri... :-*
Segala hal itu dimulai dari yang kecil. Dimulai dari sini. Dimulai oleh kita sendiri.
Terkadang...
Gue berpikiran jernih dan pengen banget jadi orang yang peduli lingkungan. Yang istilahnya biasanya disebut dengan hidup hijau atau go green. Bukan. Bukan menjadi hulk,,,itu lain cerita :D
Secara barang-barang gue yang judulnya Tupperware udah banyak, terkadang gue berpikir untuk hidup hijau bersamanya. Beberapa kali sih gue praktekin. Dan yang terjadi adalah gue melihat beberapa orang memandang gue dengan mengernyit...
Salah dua orang yang mengernyit itu adalah tukang bubur kacang ijo deket kantor gue dan satu lagi pelayan warteg deket kantor suami gue.
Ceritanya :
One day gue berangkat kantor seperti biasa. Eh, ga biasa ding, soalnya hari itu gue ga masak, jadi ga bawa bekal. Dan gue malah bawa 2 tupperware gue yang berbentuk sebuah mangkuk dan sebuah gelas agak gede. Dua-duanya ada tutupnya yang insyaallah ga tumpah kalo dibawa-bawa.
Pertama kami ke kantor suami. Gue ke warteg. Beli sarapan dan gue bilang sama pelayannya makanan gue ga usah dibungkus, tapi pakai tempat makan gue (si mangkok). Dan dia mengernyit. Dan gue ngeyakinin dia. Dan dia oke-oke aja.
Kedua kami ke kantor aku. Suami nganterin. Habis itu ke tukang bubur. Bukan, bukan yang naik haji, tapi yang jualan bubur kacang ijo dan indomie. :D
Gue beli bubur kacang ijo dan bilang sama abang-abanganya supaya bubur gue langsung ditaruh di wadah gue (si gelas). Dan dia mengernyit. Dan gue ngeyakinin dia. Dan dia oke-oke aja.
Gue berharap itu akan konsisten gue lakuin. Supaya mengurangi sampah. Meskipun suma sedikit.
Dan ternyata.
Gue belum konsisten.
Dan gue akan berusaha lagi. Yeah! Semangat!
Kasihan bumi kita kalo semakin banyak sampah, apalagi yang susah atau tidak bisa terhancurkan (apa sih istilahnya ini)..
Yuk sayangi bumi, mulai dari diri kita sendiri... :-*
Subscribe to:
Posts (Atom)