Tuesday, 6 May 2014

Tanpa Kata-Kata - "Sekolah dan Persiapannya" :)










Foto di atas adalah jepretan pada hari Minggu malam. Terus seperti itu sampai suganteng Inas tertidur bersama sepatu dan tas sekolahnya. Saking seneng besok mau daftar PAUD. :*

Di sekolah. Duduk paling belakang (setiap kali bundanya mindahin mejanya ke depan, Inas menarik kembali mejanya jadi posisi ini lagi). Dan dia lebih sibuk garuk-garuk dan plarak-plerek dibanding ngedengerin ibu gurunya. Wkwkwkwk. Yah, namanya juga hari pertama sekolah getooo...
Inas, 3 tahun 1 bulan
Yang pinter ya, Nak,,, We Love You,,,,

Tanpa Kata-Kata - "Bermain Air" :)







Friday, 2 May 2014

Melamun

Sore itu aku melamun, karena yang membonceng aku bukanlah yang biasa. Bukan suamiku. Jadi aku lebih banyak diam. Dan melamun.

Namanya sedari dua jam yang lalu aku ingat-ingat  tetap saja tidak ingat. Matanya yang kecil, hidungnya yang kecil, bibirnya yang kecil (eh??), giginya yang tidak rapi, tawanya yang kencang, jalannya yang miring seperti orang keberatan beban, semua aku ingat. Bahkan aku ingat cara dia memakai jilbab yang asal pakai. Tapi siapa namanya? Aku ingat betul, dia teman sekelasku waktu aku kelas 3 SMA dulu. Gak terlalu akrab memang, tapi dia  pernah memberiku saran untuk nama penaku. Mirza.

Bukan. Namanya bukan Mirza, sama sekali bukan. Mirip pun tidak. Aku belum ingat namanya sampai saat aku selesai makan malam saat ini. Aku ingat, ibunya adalah salah satu guru di SMA-ku itu. Guru biologi. Ah bukan, putri guru biologi namanya Kurnia, dan dia bukan. Sama sekali bukan. Bahkan mirip pun tidak. Ah ya, ibunya guru matematika, namanya bu Iput. Ah,,sepertinya bukan Iput. Guru berjilbab dengan postur mungik dan wajah kecil tirus. Hey benar, bukan Iput,,tapi ah,,siapa pula nama ibunya itu. Mirip-mirip dengan kata Iput sepertinya. Tapi aku tidak mengingatnya. Kini dua nama jadi utang otakku. Modalnya satu. Mirza.

Waktu itu aku begitu senang menulis, tapi aku tidak menulis. Aku hanya membaca cerita-cerita yang ditulis Erma, teman sekelasku, dan kadang-kadang sok menulis cerpen yang ala-ala majalah Aneka. Ya, aku bahkan lupa aku meminjam majalah Aneka dari siapa, tapi aku ingat aku banyak membaca majalah itu. Betul, majalah remaja. Isinya tentang cinta. Kadang sampai kadang tak sampai, tapi tidak ada terong dan cabe, tidak pula pembunuh berdarah dingin. Yang ada hanya cinta muda,  cemburu, sedih dan akhirnya saling suka. Iya betul, ilustrasinya biasanya gambar cewek atau cowok yang cantik dan ganteng, mirip artis muda, bisa siapa saja.

Lalu suatu hari aku sok-sokan mengarang nama pena, alternatifnya daftarnya panjang. Dan ketika itulah dia ada disana, di sampingku dan bertanya aku sedang apa. Lalu dia baca daftar yang aku buat itu. "Ini yang paling bagus", katanya. Mirza. "Coba kau ucapkan!", katanya padaku. Lalu aku mengucapkannya. "Mirza". Dan sepertinya, otakku menandai memori tentang dia dengan nama itu. Mirza. Dan kini aku mengais-ais ingatan, mencari namanya yang tak kunjung ingat. Mirza, Kurnia, Eka, Dewi, Tia, Rahma, Ega, Dhesty, Ninda. Ah bukan, Sitta,,Sitha,,ah ya! Namanya Cita!

Tak salah lagi namanya Cita. Dan ibunya? Ah ya, ibunya bernama  Irul. Bu Irul. Lalala Yeyeye...

Sekarang malah aku kembali mengingat-ingat, kenapa sedari tadi aku keukeuh mencoba mengingat-ingat namanya. Kenapa tiba-tiba aku ingat wajahnya. Bukan, aku bukan penggemarnya. Aku masih mengingat-ingat urut-urutan kerja otakku seharian ini. Ada hubungannya dengan buku. Ada hubungannya dengan cerpen. Ah ya! Aku yang baru menyadari  bahwa banyak temanku yang menjadi penulis, mendadak teringat sama Erma. Lalu Mirza. Lalu wajah itu. Lalu aku tidak ingat namanya. Lalu seharian ini aku mencoba mengingat namanya. Cita Kharisma! Ajaib! Bahkan sekarang aku jadi ingat nama lengkapnya.

Lalu tiba-tiba aku sadar. Aku sama sekali belum menghubungi Erma, nama yang pertama kali kuingat hari ini. Dan menyuruhnya menjadi penulis. Seperti ide yang muncul pertama di otakku tadi ketika mengingat namanya.

Kau tau, semua ini hanya ada di kepalaku. Tak ada yang aku ucapkan sepatah katapun. Bahkan suamiku juga mungkin belum pernah mendengar ada temanku yang bernama Erma, atau Cita.

Tuesday, 29 April 2014

Tips Kecil di Dapur

Haloo,,,,

Uhuk-Uhuk! Uhuk!

Ya ampuunn,,ampe berdebu gini blognya...hmmm....

*ambil kemoceng,,sret! sret! sret!

Udah lumayan....Taruh bunga biar lebih ciamik,,, :D

Hari ini gue mau sharing tips...apakah itu?

Berawal dari tadi pagi. Bangun tidur, setelah sholat subuh langsung buka kulkas, liat2 bahan apa yang bisa dimasak dengan cepat pagi ini.

Tampaklah seplastik kelapa parut di chiller. Hmm,,,pasti deh udah asem ini kelapa,,,
Maka :

Tips 1
Kalo mau menyimpan kelapa parut untuk waktu yang lama (lama means lebih dari sehari), caranya adalah, bungkus rapat2 kelapa parut Anda. Kalo gue, gue biasa menyimpan kelapa parut dengan takaran sekali pakai dalam plastik, trus gue iket pakai karet. Kemudian simpan di freezer. Yups freezer, jangan di kulkas, apalagi di udara luar,,, Soalnya kelapa parut itu gampang sekali asam sodara-sodara.

Tapi kalo beli paginya, buat masak nanti sorenya,,simpen di kulkas aja insyaallah fine..

Setelah membuka kulkas, gue liat dandang yang masih nangkring di atas kompor. Olala,,,itu kan kemaren gue ngukus ikan pindang keranjang...Gue liat ikannya masih dalam kondisi oke banget, ga mau, ga berair,,
Bagi yang belum tau pindang keranjang yang gue maksud, ini gambarnya.


Hm,,,beklah..

Tips 2
Kalo mau menyimpan ikan pindang untuk waktu yang lama, (gue beli pindang itu hari minggu pagi), kalo khawatir pindangnya jadi jelek or bau,,,pakai tips gue. Habis beli, jika tak langsung dimasak hari itu, masukkan ke dalam kulkas. Besoknya, kalo ga kemasak lagi,,, :D masukkan ikan bersama keranjangnya ke dalam dandang yang udah diisi air. Kukus kira2 20 menit. Oke deh,,,

Besoknya kalo ga kemasak lagi,,,, Jual aja itu ikan! >,<

Eh nggak juga ding, kalo emang mau dimasaknya seminggu kemudian, simpen aja di freezer,, :)

Oke, sekian tips dari gue. Dan sudah gue terapkan.
Sekian.

Friday, 11 April 2014

Ide Menghabiskan Wiken!!!

Wehehehe,,,

Oke, ini ponting tematik pertama gue. Hari Jumat. Ide menghabiskan wiken.
Wiken bersama anak-anak tetaplah paling oke!

Untuk wiken yang biasa, bolehlah kita habiskan dengan tidur-tiduran sampai siang, bangun-bangun langsung makan, mandi and keluar cuci motor, sorenya nongkrong2 di depan tivi, hari minggunya belanja bulanan/mingguan. Selesai deh wiken kita yang biasa. Hehe

Untuk wiken luar biasa, maka kita harus merencanakan dengan sebaik-baiknya. Meskipun kadang rencana tidak berjalan sesuai keinginan, minimal ada bekasnya. Misalnya bekasnya ya rencana itu sendiri. #eh

Beklah, untuk wiken ini, gimana kalo kita rencanakan untuk berkebun dan menghabiskan satu buah novel?

Jadi disamping momong 2 balita, memasak dan nyuci motor, ada kegiatan lain yang di luar kebiasaan. Yaitu berkebun dan baca novel.

Pertama baca novel.

Kalo gue, gue berencana membaca ulang novel terunyu abad ini. Apaan tuh? Hehe. Ini novel keren karya temen sekamar gue jaman kuliah dulu. Gue memang udah ngefans sama penulisnya jauh sebelum dia menelurkan sebuah buku.

Entah gimana caranya, setiap kali dia menulis kalimat, kalimat itu akan berasa keren. Ciyus.

Kalo kalian kebetulan nemu buku ini di toko buku, coba deh diintip, sekalian dibeli juga oke banget,,, Ntar kalian bakal ngerasa seperti membaca novel terjemahan. Hihihihi. Padahal penulisnya aseli dari Indramayu Jawa Barat, tapi kayak yang nulis itu bule,,,wekekekeke.

Gue udah baca novel ini ketika masih draft, pun udah baca ketika udah jadi buku. Tapiiiiiiii,,,gue berencana baca ulang nih, supaya gue bisa kasih review buat buku sahabat gue ini. Ini penampakan bukunya :)

Kedua berkebun.
Keasyikan berkebun bisa menghabiskan hampir seharian waktu lho. Kalo bingung mau nanem apa or gimana caranya, bisa belajar di sini

Gue bukan reseller or ngiklanin web itu sih, haha, tapi karena memang gue dan temen sekantor gue habis beli benih di sana. Ga mahal, cukup Rp 1000 aja kok,, Dan jenisnya macem-macem.

Nih daftar benih-benih seribuannya : http://petanirumahan.net/stok-benih-eceran/

Oke teman-teman, semoga idenya membantu, selamat berlibur yaaaaaaaaa.... :)

Sampai ketemu di ide wiken berikutnya!!

Crito Serem Jaman Cilik

Ini posting pertama berbahasa jawa. Buat test pertama,,,hehe,,sesuai jadwal, nanti akan ada posting aku yang berbahasa jawa yaitu setiap hari Selasa. Tunggu ya!! Untuk tes, ini hari Jumat tapi berbahasa Jawa,,hihi

Jaman aku isih cilik biyen, saben sore jam papat, mulih ngaji aku karo kanca-kancaku mesti dulinan. Dulinan macem-macem, iso delikan, injlik (ingkling), thok ting, boi-boinan, wes pokokmen macem-macem. Tapi nek wes meh wektu magrib, aku karo kanca-kancaku mesti wes bali, mlebu ngomah kabeh. Mengko metu meneh neng musholla, sholat magrib jamaah.

Ngopo sih nek magrib kudu wes bali? Soale nek gak bali mengko dipangan candi kolo. Wekekekeke.

Jaman aku isih cilik sih percoyo banget yen candikolo ki ono tenan. Haha. Pokokne nek enek bocah cilik magrib-magrib isih dulinan neng njobo, ga mulih2, mengko iso-iso dipangan candikolo. Hew. serem,,
Jaman biyen critane candi kolo kie butho (raksasa) serem sing panganane bocah-bocah cilik sing isih keluyuran pas magrib-magrib.

Nah, bareng wes gedhe, aku nggoleki opo sih asline candikolo ki,,,mosok panganane bocah cilik..

Akhire ketemu, opo sih candi kolo kuwi?

Jajal takono mbah gugel, ketik "candi kolo" trus delengen gambare. Nah, ketemu kan? Isine akeh-akeh gambar butho. Gambar raksana medeni. Sing untune gede-gede, yen nglethak bocah cilik yo mungkin dadi remuk,,wekekekekeke.
Sumber gambar : dari sini


Njuk mari ngono takono mbah wikipedia, mengko rak dikandhani, sak jane candi kolo ki sopo. Candi kolo ki asline Batara Kala, putrane Batara Guru. Emang bener panganane bocah cilik?

Jajal wacanen dhisik critane mbak wikipedia iki :

Dalam kitab Kala Tattwa diceritakan, pada waktu Dewa Siwa sedang jalan-jalan dengan Dewi Uma di tepi laut, "air mani" Dewa Siwa menetes ke laut ketika melihat betis Dewi Uma karena angin berhembus menyingkap kain Sang Dewi. Dewa Siwa ingin mengajak Dewi Uma untuk berhubungan badan, namun Sang Dewi menolaknya karena prilaku Dewa Siwa yang tidak pantas dengan prilaku Dewa-Dewi di kahyangan. Akhirnya mereka berdua kembali ke kahyangan. Air mani Dewa Siwa menetes ke laut kemudian ditemukan oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Benih tersebut kemudian diberi japa mantra. Dari benih seorang Dewa tersebut, lahirlah seorang rakshasa yang menggeram-geram menanyakan siapa orangtuanya. Atas petunjuk dari Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, raksasa itu mengetahui bahwa Dewa Siwa dan Dewi Uma adalah orangtuanya.
Sebelum Dewa Siwa mengakui raksasa tersebut sebagai putranya, terlebih dahulu ia harus memotong taringnya yang panjang agar dapat melihat wujud orangtuanya seutuhnya. Akhirnya syarat tersebut dipenuhi. Sang raksasa dapat melihat wujud orangtuanya seutuhnya. Sang raksasa diberkati oleh Dewa Siwa dan diberi gelar Bhatara Kala. untuk menghormati hari kelahirannya, Dewa Siwa memberi anugerah bahwa Bhatara Kala boleh memakan orang yang lahir pada hari "tumpek wayang" dan memakan orang yang jalan-jalan di tengah hari pada hari “tumpek wayang”. Kebetulan adiknya, Dewa Kumara, juga lahir pada hari “tumpek wayang”. Sesuai anugerah Dewa Siwa, Bhatara Kala boleh memakannya. Namun atas permohonan Dewa Siwa, Bhatara Kala boleh memakan adiknya kalau adiknya sudah besar.
Kesempatan itu digunakan oleh Dewa Siwa. Ia menganugerahi Dewa Kumara agar selamanya menjadi anak-anak. Akal-akalan itu diketahui Bhatara Kala. Akhirnya ia tidak sabar lagi. Dewa Kumara dikejarnya. Dalam pengejarannya, ia bertemu Dewa Siwa dan Dewi Uma. Mereka pun ingin dimakan oleh Bhatara kala sesuai janjinya Dewa Siwa. Namun, mereka memberinya teka-teki terlebih dahulu yang harus dipecahkan Bhatara Kala jika ingin memakan mereka. Batas waktu menjawabnya hanya sampai matahari condong ke barat. Akhirnya Bhatara Kala tidak bisa menjawab teka-teki dan matahari sudah condong ke barat, maka habislah kesempatannya untuk memakan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Karena tidak bisa memakan mereka, Bhatara Kala melanjutkan pengejarannya mencari Dewa Kumara.
Setelah lama mengejar, akhirnya ia kelelahan dan menemukan sesajen yang dihaturkan Sang Amangku dalang yang sedang main wayang. Karena haus dan lapar, sesajen itu dilahapnya habis. Akhirnya terjadilah dialog antara Sang Amangku Dalang dengan Bhatara Kala, yang meminta agar segala sesajen yang dimakan dimuntahkan kembali. Bhatara Kala tidak bisa memenuhi permohonan tersebut. Sebagai gantinya, ia berjanji tidak akan memakan orang yang lahir pada hari tumpek wayang, jika sudah menghaturkan sesajen menggelar wayang "sapu leger".

Versi liyane mengkene :

Ketika Batara Guru dan istrinya, Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, dalam perjalanannya karena terlena maka Batara Guru bersenggama dengan istrinya di atas kendaraan suci Lembu Andini, sehingga Dewi Uma hamil. Ketika pulang dan sampai di kahyangan Batara Guru kaget dan tersadar atas tindakannya melanggar larangan itu. Seketika itu Batara Guru marah pada dirinya dan Dewi Uma, dia menyumpah-nyumpah bahwa tindakan yang dilakukannya seperti perbuatan "Buto" (bangsa rakshasa). Karena semua perkataannya mandi (bahasa indonesia: cepat menjadi kenyataan) maka seketika itu juga Dewi Uma yang sedang mengandung menjadi raksasa. Batara Guru kemudian mengusirnya dari kahyangan Jonggringsalaka dan menempati kawasan kahyangan baru yang disebut Gondomayit. Hingga pada akhirnya Dewi Uma yang berubah raksasa itu terkenal dengan sebutan Batari Durga. Setelah itu ia melahirkan anaknya, yang ternyata juga berwujud raksasa dan diberi nama Kala. Namun pada perkembangan selanjutnya Batara Kala justru menjadi suami Batari Durga, karena memang di dunia raksasa tidak mengenal norma-norma perkawinan. Batara Kala dan Batari Durga selalu membuat onar marcapada (bumi) karena ingin membalas dendam pada para dewa pimpinan Batara Guru.
Karena Hyang Guru kwatir kalau kayangan rusak maka Batara Guru mengakui kalau Kala adalah anaknya. Maka diberi nama Batara Kala dan Batara Kala minta makanan, maka Batara Guru memberi makanan tetapi ditentukan yaitu :
  1. Orang yang mempunyai anak satu yang disebut ontang-anting
  2. Pandawa lima anak lima laki-laki semua atau anak lima putri semua.
  3. Kedono kedini, anak dua laki-laki perempuan jadi makanan Betara Kala.
Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna. Maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa.

Nah, ngerti kan? Ngopo kok bocah cilik yen surup surup ora entuk dolinan neng njobo? Mengko mundak dipangan candi kolo,,, :D

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Batara_Kala

Membuat Jadwal Blogging. Yuk Marii...


Semangat ngeblog gue naik turun bagaikan bianglala rusak,,wekekekeke. Beberapa penyebabnya adalah sebagai berikut :

  1. Tidak ada waktu yang cukup, sebab kadang gue suka sok pengen nulis sesuatu yang berat-berat, dan ujung2nya bakalan lama mikirnya, kan jadi butuh waktu lama kan,,jadinya ga jadi nulis dengan pertimbangan waktu luang gue yang gue rasa pasti ga cukup. Wew.
  2. Tidak tau mau nulis apa. Deuh ini padahal alasan banget. Nulis apa aja kan ya sah-sah aja, boleh-boleh aja, tapi sering aja gitu gue ngerasa ga ada bahan,,,
  3. Internet yang kadang naudzubillah lemotnya. Maklum, nebeng inet instansi yang bandwithnya dibagi ke seluruh pegawai instansi gue di penjuru Indonesia raya ini, itu adalah hal yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi bu ibu,,,
Haha,,
Sebagai blogger pemula yang pantang menyerah, maka gue membuat solusi untuk permasalahan gue tersebut. Yaitu sebagai berikut :
 (ehem, ini hanya untuk permasalahan nomer 1 dan nomer 2 aja :D)

Gue akan membuat jadwal! Jadwal apakah? Jadwal mengenai tema isi blog gue setiap harinya. Yeah! Supaya gue fokus ke satu tema. Dengan demikian, diharapkan permasalahan kurangnya waktu dan kegalauan mau nulis apa bisa teratasi. Gue yakin salah satu yang bikin gue berfikir bahwa nulis yang berat-berat itu lama adalah karena gue sebenarnya ga tau mau fokus kemana mikirnya, bingung mau mikir yang mana dulu dari sekian banyak ide berat yang ada di kepala. Ya nggak?

Beklah, mari kita bikin jadwalnya. Seperti ini :

  • Senin : Resep Masakan
  • Selasa : Posting berbahasa Jawa, sebagai bahasa ibu gue.
  • Rabu : Informasi Tentang Bayi dan Anak-Anak
  • Kamis : Belajar Menjadi Orang Tua Yang Baik
  • Jumat : Ide Menghabiskan Wiken :)

Sabtu dan Minggu? Hehe, i'm sorry, itu adalah hari libur guys,,,so, libur juga ngeblognya,,wekekekek (bilang aja ga ada internet di rumahh... :P).

Atau ada ide yang lebih oke buat tema isi blog? Kasitau ane yah...
Telimikiciiii... :P