Manusia
Manusia itu adalah kita. Salah satu makhluk ciptaan Allah yang diberikan kelebihan dibanding makhluk Allah yang lainnya misalnya binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Manusia itu terdiri dari jasad atau tubuh kita ini dan juga ruh yang membuat kita hidup. Kalau meninggal, itu adalah saat ruh sudah waktunya kembali kepada Allah dan meninggalkan badannya. Untuk menjalani hidup di dunia ini, manusia dilengkapi dengan hati, akal dan tubuhnya. Hati digunakan manusia untuk merasakan sesuatu, memmilih yang baik dan tidak baik dan untuk tahu mana yang benar dan tidak benar. Akah diberikan kepada manusia supaya manusia bisa mencari ilmu dan menjadi pintar. Sedangkah tubuh, diberikan kepada manusia supaya manusia bisa berbuat sesuatu yang baik-baik.
Tubuh manusia diciptakan Allah dari tanah, dan ruh yang Allah ciptakan dari alam arwah yang manusia pun tidak tahu bahannya apa. Hanya Allah yang tahu. Nantinya, tubuh manusia digabungkan dengan ruhnya, akan dikeluarkan Allah ke alam dunia melalui perut ibunya.
Setelah lahir ke dunia, manusia hidup dan menjalani aktifitasnya di dunia sampai jatah umur yang Allah berikan kepadanya habis. Kalau jatah umurnya sudah habis, maka ruh akan kembali kepada Allah sedangkan tubuhnya akan rusak dan kembali menjadi tanah.
Jadi, sebagai manusia kita tidak punya kekuatan apapun kecuali diberikan oleh Allah.
Thursday, 9 November 2017
Wednesday, 8 November 2017
Tugas Bersama (Part 1)
Halo rekan-rekan sekalian, kali ini yang akan saya posting adalah tulisan dari suami saya. Iya, tulisan perdananya yang minta tolong nebeng mejeng di blog saya, hahahaha...
Selamat membaca!
------------------------------------------------------------------------------------------
Anak-anak adalah masa depan bangsa. Mereka adalah aset, penerus perjuangan kita. Tentu saja yang orang tua harapkan adalah kelak anak-anak mereka akan menjadi anak soleh, pandai, cerdas, berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Tapi untuk memperjuangkan hal tersebut tidaklah mudah, butuh kerjasama dan komitmen semua pihak, mulai dari anak, adik, ayah, ibu, serta kakek dan neneknya, dan yang tidak boleh ketinggalan adalah pemerintah. Loh kok pemerintah dibawa-bawa??? Ya iyalah secara yang punya negara, yang nerbitin aturan itu mereka.
Sebagai gambaran, saya adalah ayah dari dua orang putra, Inas 6 tahun dan Hafi 4 tahun. Inas diusianya yang sudah 6 tahun lewat seharusnya sudah bisa memulai sekolah dasar kelas 1. Saya awalnya pun sangat berkeinginan agar dia bisa bersekolah dasar agar tidak kalah dengan anak-anak di TK-nya maupun anak-anak dari teman-teman kantor saya. Namun karena Inas suka ngambek, gak mau ditinggal sekolah sendirian, atas pertimbangan psikologis, masukan dari kakek dan neneknya dan tentu saja, masukan dari bundanya yang sudah rela perutnya dirobek demi ngeluarin Inas, akhirnya saya mengalah. Inas diputuskan untuk belajar dirumah. Awalnya tentu saja terkadang saya minder, ketika ditanya Inas sekolah kelas berapa? Sekolah dimana? Mau dijawab tidak sekolah, belajar dirumah saja, ya ampun malu banget... (orang tua aneh ya... yang jalanin siapa, yang malu siapa).
Setelah kami memutuskan untuk mendidik Inas di rumah. Istriku yang secara aktif browsing sana-sini, ngobrol sama orang antah berahtah yang dia kenal di media sosial maupun dari internet. Menceritakan metode pedidikan yang akan digunakan, pelajaran apa yang akan diberikan, dan juga kisah inspirasi penyemangat bahwa banyak diluar sana, anak yang terlambat sekolah dasar bisa mengejar ketertinggalan dan bisa sukses. Kemudian dia juga menceritakan anak-anak yang tidak sekolah secara formal di SD, hanya dididik oleh ibunya dirumah bisa menjadi orang yang sukses, bahkan melewati anak pada umumnya.
Mendengar penjelasan dan pengertiannya istriku, aku jadi teringat masa kecilku dulu, dimana waktu aku umur 6 tahun, mamahku yang seorang guru SD mencoba menyekolahkanku. Tapi ternyata sering saya sering nangis di kelas jika ditinggal mamah untuk mengajar kelas lain. dan atas pertimbangan mamah dan papah, bahwa mental saya belum cukup kuat, meskipun saat itu saya sudah mahir membaca, menulis dan berhitung. Dan memang orang tua saya tidak memaksa saya harus sekolah. Akhirnya tidak ada dua bulan, saya pun sudah berhenti sekolah, mulai belajar secara otodidak dirumah.
--------------------------------------------------------------------------------
to be continued...
Selamat membaca!
------------------------------------------------------------------------------------------
Anak-anak adalah masa depan bangsa. Mereka adalah aset, penerus perjuangan kita. Tentu saja yang orang tua harapkan adalah kelak anak-anak mereka akan menjadi anak soleh, pandai, cerdas, berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Tapi untuk memperjuangkan hal tersebut tidaklah mudah, butuh kerjasama dan komitmen semua pihak, mulai dari anak, adik, ayah, ibu, serta kakek dan neneknya, dan yang tidak boleh ketinggalan adalah pemerintah. Loh kok pemerintah dibawa-bawa??? Ya iyalah secara yang punya negara, yang nerbitin aturan itu mereka.
Sebagai gambaran, saya adalah ayah dari dua orang putra, Inas 6 tahun dan Hafi 4 tahun. Inas diusianya yang sudah 6 tahun lewat seharusnya sudah bisa memulai sekolah dasar kelas 1. Saya awalnya pun sangat berkeinginan agar dia bisa bersekolah dasar agar tidak kalah dengan anak-anak di TK-nya maupun anak-anak dari teman-teman kantor saya. Namun karena Inas suka ngambek, gak mau ditinggal sekolah sendirian, atas pertimbangan psikologis, masukan dari kakek dan neneknya dan tentu saja, masukan dari bundanya yang sudah rela perutnya dirobek demi ngeluarin Inas, akhirnya saya mengalah. Inas diputuskan untuk belajar dirumah. Awalnya tentu saja terkadang saya minder, ketika ditanya Inas sekolah kelas berapa? Sekolah dimana? Mau dijawab tidak sekolah, belajar dirumah saja, ya ampun malu banget... (orang tua aneh ya... yang jalanin siapa, yang malu siapa).
Setelah kami memutuskan untuk mendidik Inas di rumah. Istriku yang secara aktif browsing sana-sini, ngobrol sama orang antah berahtah yang dia kenal di media sosial maupun dari internet. Menceritakan metode pedidikan yang akan digunakan, pelajaran apa yang akan diberikan, dan juga kisah inspirasi penyemangat bahwa banyak diluar sana, anak yang terlambat sekolah dasar bisa mengejar ketertinggalan dan bisa sukses. Kemudian dia juga menceritakan anak-anak yang tidak sekolah secara formal di SD, hanya dididik oleh ibunya dirumah bisa menjadi orang yang sukses, bahkan melewati anak pada umumnya.
Mendengar penjelasan dan pengertiannya istriku, aku jadi teringat masa kecilku dulu, dimana waktu aku umur 6 tahun, mamahku yang seorang guru SD mencoba menyekolahkanku. Tapi ternyata sering saya sering nangis di kelas jika ditinggal mamah untuk mengajar kelas lain. dan atas pertimbangan mamah dan papah, bahwa mental saya belum cukup kuat, meskipun saat itu saya sudah mahir membaca, menulis dan berhitung. Dan memang orang tua saya tidak memaksa saya harus sekolah. Akhirnya tidak ada dua bulan, saya pun sudah berhenti sekolah, mulai belajar secara otodidak dirumah.
--------------------------------------------------------------------------------
to be continued...
Bangun Pagi
Ketika engkau bangun tidur, membuka mata di pagi hari, apa yang ada di pikiranmu?
Apakah pesan-pesan di media sosial yang mungkin masuk ke akunmu ketika kamu terlelap semalam?
Atau tumpukan tugas-tugas kantor yang menunggu diselesaikan?
Atau janji-janjimu dengan rekan-rekan dan atasan-atasanmu?
Atau menu makanan yang harus engkau siapkan hari ini untuk keluarga kecilmu?
Atau cicilan hutang yang harus kau bayar hari ini?
Atau tumpukan pekerjaan rumah yang kau rasa tidak ada habisnya kau kerjakan?
Ah,,kurasa hidup tidak harus serumit itu
Ada seseorang yang begitu matanya terbuka di pagi harinya
Dia akan mengingat secangkir kopi lengkap dengan pendampingnya,
Serta waktu damai pagi disela sejuknya angin subuh yang menyapa...
Dinikmatinya tegukan demi tegukan sambil dikumpulkannya rasa syukur untuk kehidupannya hari ini
Terima kasih dia sehat hari ini
Terima kasih dia masih hidup hari ini
Terima kasih dia masih memiliki waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang menunggunya hari ini
Setelah kosong gelasnya, dia bergegas mandi dan menggosok gigi dengan santai
Lalu mulai tersenyum dan mengerjakan apa yang harus dia kerjakan
Ada kalanya sesuatu itu tidak harus selalu kita pikirkan setiap saat
karena sesuatu itu hanya perlu kita kerjakan..
Bagaimana pagimu?
Apakah pesan-pesan di media sosial yang mungkin masuk ke akunmu ketika kamu terlelap semalam?
Atau tumpukan tugas-tugas kantor yang menunggu diselesaikan?
Atau janji-janjimu dengan rekan-rekan dan atasan-atasanmu?
Atau menu makanan yang harus engkau siapkan hari ini untuk keluarga kecilmu?
Atau cicilan hutang yang harus kau bayar hari ini?
Atau tumpukan pekerjaan rumah yang kau rasa tidak ada habisnya kau kerjakan?
Ah,,kurasa hidup tidak harus serumit itu
Ada seseorang yang begitu matanya terbuka di pagi harinya
Dia akan mengingat secangkir kopi lengkap dengan pendampingnya,
Serta waktu damai pagi disela sejuknya angin subuh yang menyapa...
Dinikmatinya tegukan demi tegukan sambil dikumpulkannya rasa syukur untuk kehidupannya hari ini
Terima kasih dia sehat hari ini
Terima kasih dia masih hidup hari ini
Terima kasih dia masih memiliki waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang menunggunya hari ini
Setelah kosong gelasnya, dia bergegas mandi dan menggosok gigi dengan santai
Lalu mulai tersenyum dan mengerjakan apa yang harus dia kerjakan
Ada kalanya sesuatu itu tidak harus selalu kita pikirkan setiap saat
karena sesuatu itu hanya perlu kita kerjakan..
Bagaimana pagimu?
Tuesday, 7 November 2017
Pelajaran Kehidupan (1)
Pengenalan Tuhan
Nak, tahu kah kamu siapakah yang menciptakan kita semua? Yang menciptakan ayah, bunda, oma, opa, kamu, adek kamu dan juga bumi ini?
Iya, dia adalah Tuhan. Tuhan itu Maha Kuasa. Maha itu artinya di atas semuanya, dia sangat sangat sangat berkuasa atas semuanya. Dan Dia itu Maha Semuanya, tidak ada yang bisa menandingi Tuhan.
Tuhan menciptakan makhluk hidup dan juga benda mati. Seperti manusia, binatang, pohon-pohon dan juga gunung, tanah, air dan udara, tentu saja semuanya Tuhan yang ciptakan.
Tuhan juga Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada makhluknya. Makhluk itu adalah semua yang Tuhan ciptakan. Tuhan sayang sekali pada kita, sehingga semua kebutuhan kita diberikan oleh Tuhan. Makanan, minuman, kendaraan, tempat tinggal, udara untuk bernafas, rezeki untuk menikmati semua itu semua Tuhan yang memberikan.
Tuhan cuma ada satu. Allah. Ada sifat-sifat Allah yang perlu kita ketahui :
1. Wujud (Ada)
2. Qidam (Dahulu)
3. Baqa (Kekal Abadi)
4. Mukhalafu lil hawadists (Berbeda denga makhluknya)
5. Qiyamuhu binafsihi (Berdiri Sendiri)
6. Wahdaniyat (Esa)
7. Qudrat (Berkuasa)
8. Iradat (Berkehendak)
9. Ilmu (Mengetahui)
10. Hayat (Hidup)
11. Sama (Mendengar)
12. Bashar (Melihat)
13. Kalam (Berbicara)
14. Qadiran (Maha Berkuasa)
15. Muridan (Maha Berkehendak)
16. Alimun (Maha Mengetahui)
17. Hayyun (Maha Hidup)
18. Samian (Maha Mendengar)
19. Bashiran (Maha Melihat)
20. Mutakaliman (Maha Berkata-kata)
Tuh kan, buat Allah, tidak ada yang tidak mungkin, semuanya Allah bisa ciptakan!
Itulah Allah, Tuhan yang menciptakan kita dan alam semesta ini, semuanya Allah yang ciptakan.
Nak, tahu kah kamu siapakah yang menciptakan kita semua? Yang menciptakan ayah, bunda, oma, opa, kamu, adek kamu dan juga bumi ini?
Iya, dia adalah Tuhan. Tuhan itu Maha Kuasa. Maha itu artinya di atas semuanya, dia sangat sangat sangat berkuasa atas semuanya. Dan Dia itu Maha Semuanya, tidak ada yang bisa menandingi Tuhan.
Tuhan menciptakan makhluk hidup dan juga benda mati. Seperti manusia, binatang, pohon-pohon dan juga gunung, tanah, air dan udara, tentu saja semuanya Tuhan yang ciptakan.
Tuhan juga Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada makhluknya. Makhluk itu adalah semua yang Tuhan ciptakan. Tuhan sayang sekali pada kita, sehingga semua kebutuhan kita diberikan oleh Tuhan. Makanan, minuman, kendaraan, tempat tinggal, udara untuk bernafas, rezeki untuk menikmati semua itu semua Tuhan yang memberikan.
Tuhan cuma ada satu. Allah. Ada sifat-sifat Allah yang perlu kita ketahui :
1. Wujud (Ada)
2. Qidam (Dahulu)
3. Baqa (Kekal Abadi)
4. Mukhalafu lil hawadists (Berbeda denga makhluknya)
5. Qiyamuhu binafsihi (Berdiri Sendiri)
6. Wahdaniyat (Esa)
7. Qudrat (Berkuasa)
8. Iradat (Berkehendak)
9. Ilmu (Mengetahui)
10. Hayat (Hidup)
11. Sama (Mendengar)
12. Bashar (Melihat)
13. Kalam (Berbicara)
14. Qadiran (Maha Berkuasa)
15. Muridan (Maha Berkehendak)
16. Alimun (Maha Mengetahui)
17. Hayyun (Maha Hidup)
18. Samian (Maha Mendengar)
19. Bashiran (Maha Melihat)
20. Mutakaliman (Maha Berkata-kata)
Tuh kan, buat Allah, tidak ada yang tidak mungkin, semuanya Allah bisa ciptakan!
Itulah Allah, Tuhan yang menciptakan kita dan alam semesta ini, semuanya Allah yang ciptakan.
Monday, 6 November 2017
Sebuah Pemikiran tentang Pelajaran
Saya sedang memikirkan darimana saya mendapatkan semua ilmu pengetahuan yang ada di kepala saya saat ini. Saya ingin memberikan semua ilmu pengetahuan yang ada di kepala saya ini kepada anak-anak saya, untuk itu saya harus tahu darimana saya mendapatkannya dulu. apakah dari sekolah, dari ajaran bapak dan ibuk, dari TPA atau dari pengalaman hidup sehari hari.
Satu masalah yang saya hadapi saat ini adalah bahwa anak saya tidak mau bersekolah di sekolah formal. Jadi saya sedang memikirkan bagaimana menyampaikan ilmu pengetahuan yang dulu saya dapat dari sekolah formal kepadanya. Mungkin tidak akan membuat saya mengernyitkan dahi ketika ilmu pengetahuan tersebut saya pahami sungguh-sungguh sehingga dengan mudah saya mengajarkannya kembali kepada anak-anak saya, bagaimana jika yang saya tidak menguasai, sedangkan mereka minatnya ada di sana?
Ah, lalu saya berfikir lebih luas. Melihat hidup lebih besar. Memikirkan tugas kita semua sebagai manusia. Untuk apa kita diciptakan dan harus bagaimana? Saya memikirkan masa depan anak saya jauh lebih ke depan dibandingkan sekedar memperoleh pekerjaan dan mendapatkan uang. Saya memikirkan pelajaran hidup manusia.
Terbesit di kepala saya, saya harus membuat sebuah buku untuk anak-anak saya yang isinya bisa menjadi bekal nanti ketika dia dewasa. Mungkin saya bisa memulai dengan mengenalkan Tuhannya, mengenalkan dirinya dan kemudian menjelaskan tugasnya di dunia ini. Tentu saja tidak boleh ketinggalan adalah kemana nanti kita akan menuju.
Saya tahu ini keinginan yang tidak mudah, tetapi saya akan mencobanya. Bismillah...
Satu masalah yang saya hadapi saat ini adalah bahwa anak saya tidak mau bersekolah di sekolah formal. Jadi saya sedang memikirkan bagaimana menyampaikan ilmu pengetahuan yang dulu saya dapat dari sekolah formal kepadanya. Mungkin tidak akan membuat saya mengernyitkan dahi ketika ilmu pengetahuan tersebut saya pahami sungguh-sungguh sehingga dengan mudah saya mengajarkannya kembali kepada anak-anak saya, bagaimana jika yang saya tidak menguasai, sedangkan mereka minatnya ada di sana?
Ah, lalu saya berfikir lebih luas. Melihat hidup lebih besar. Memikirkan tugas kita semua sebagai manusia. Untuk apa kita diciptakan dan harus bagaimana? Saya memikirkan masa depan anak saya jauh lebih ke depan dibandingkan sekedar memperoleh pekerjaan dan mendapatkan uang. Saya memikirkan pelajaran hidup manusia.
Terbesit di kepala saya, saya harus membuat sebuah buku untuk anak-anak saya yang isinya bisa menjadi bekal nanti ketika dia dewasa. Mungkin saya bisa memulai dengan mengenalkan Tuhannya, mengenalkan dirinya dan kemudian menjelaskan tugasnya di dunia ini. Tentu saja tidak boleh ketinggalan adalah kemana nanti kita akan menuju.
Saya tahu ini keinginan yang tidak mudah, tetapi saya akan mencobanya. Bismillah...
Sunday, 5 November 2017
Ulang Tahun
Setumpuk perhatian
Sejumput lirikan dan
sebongkah kue tart
menghampirimu pagi tadi
Sejenak udara berhamburan
berisi butiran-butiran doa dan
harapan akan masa depan
mengusap halus wajahmu yang bahagia
Mereka bilang hari ini istimewa
karena beberapa waktu yang lama
di tanggal inilah kamu mulai ada
di dunia dan mengisinya dengan tangis dan tawa
Lalu mereka berkata
selamat berbahagia
selamat bertambah usia
semoga sisa umurmu berguna.
Amiiin.
Itu saja yang kau kata
lalu terima kasih
Sejumput lirikan dan
sebongkah kue tart
menghampirimu pagi tadi
Sejenak udara berhamburan
berisi butiran-butiran doa dan
harapan akan masa depan
mengusap halus wajahmu yang bahagia
Mereka bilang hari ini istimewa
karena beberapa waktu yang lama
di tanggal inilah kamu mulai ada
di dunia dan mengisinya dengan tangis dan tawa
Lalu mereka berkata
selamat berbahagia
selamat bertambah usia
semoga sisa umurmu berguna.
Amiiin.
Itu saja yang kau kata
lalu terima kasih
Saturday, 4 November 2017
Prioritas
Prioritas adalah hal yang membuat kita mampu mengesampingkan hal lain demi terlaksananya hal yang kita prioritaskan.
Prioritas antara satu orang dengan yang lain tentu berbeda. Karena prioritas hadir dari prinsip masing-masing individu. Prinsip sendiri adalah hasil dari pengalaman dan pemikiran seseorang yang sumbernya adalah latar belakang, pengalaman dan situasi dan kondisi seseorang itu.
Dalam pandangan yang (seharusnya menjadi) paling dasar seorang muslim, hal yang menjadi prioritasnya adalah tugasnya dari Tuhannya, tentang untuk apa dia diciptakan. Dan tugas manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Beribadah itu apa? Beribadah adalah melakukan kebaikan yang ditujukan untuk mencari ridho-Nya. Tentu saja, dalam beribadah itu ada aturan yang harus dipatuhi, dan aturan-aturan itu ada dalam ilmu agama yang harus dipelajari seluruh umat islam dari sejak dia ada di buaian sampai nantinya dia mencapai batas umurnya dan siap dimasukkan ke dalam liang lahat.
Panduan hidup manusia itu sendiri pada pokoknya ada 2, yaitu kitab suci Alquran dan hadist nabi. Bagaimana manusia bias perpegang pada kedua hal itu jika membacanya pun tidak pernah? Apalagi mempelajari maknanya?
Namun dalam kenyataannya, setelah terlahir ke dunia, menikmati segala fasilitas yang Tuhannya berikan, manusia lupa dengan semua itu. Dan mempelajari Alquran pun lenyap, sama sekali tidak masuk prioritasnya. Jangankan masuk list prioritas, justru malah dirasakan sebagai keterpaksaan dan gangguan dari melaksanakan aktivitas lainnya di dunia ini.
Dan itulah yang saya rasakan beberapa waktu lalu. Saya merasa terganggu ketika saya merasa bersalah sudah bertahun-tahun tidak bias mengkhatamkan Alquran. Saya merasa bersalah sekaligus kesal karena tidak bias memaksa diri saya untuk menyapa Alquran saya setidaknya satu kali setiap hari. Dan cita-cita besar saya masih belum berubah, ingin masuk surga-Nya. Yang mana setelah saya pikirkan kembali, itu seperti saya bermimpi di siang bolong.
Lalu saya mulai memaksa diri saya untuk berubah. Saya percaya perubahan yang awet adalah perubahan yang dilakukan sedikit demi sedikit namun rutin dilaksanakan. Istiqomah. Dan tentu saja saya juga harus catat, bahwa proses menjadi lebih baik itu tidak akan mudah. Dan untuk menguatkan saya, saya mengajakn beberapa teman yang merasakan permasalahan yang sama. Supaya kalau saya mulai hilang semangat, ada mereka yang mengingatkan dan menyemangati saya.
Ah, saya menulis panjang lebar ini hanya untuk meminta doa. Saya minta doanya, semoga kami tetap istiqomah memperbaiki diri. Karena tidak ada tugas yang lebih penting dari Allah selain beribadah kepadanya, dan untuk mengerti ilmunya, kami harus tetap belajar,
Subscribe to:
Posts (Atom)

