Showing posts with label kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label kontemplasi. Show all posts

Sunday, 12 November 2017

Tentang Rina Nose

Saya tidak kenal mbak Rina, bahkan bertemu pun belum pernah. Saya hanya baru melihat dia di layar kaca, ketika memandu sebuah acara. Sebatas itu saja yang yang saya tahu tentang seorang Rina Nose. Rina yang terkenal karena hidung peseknya, yang kemudian membuat dia jadi memiliki nama panggung Rina Nose, Rina Hidung. Mbak Rina itu pandai melucu dan suaranya bagus dan juga pintar menyanyi. Jadi, saya akan menyampaikan uneg-uneg saya sebatas sepengetahuan saya tentang Mbak Rina Nose ini.

Mbak Rina adalah artis yang semula memang tidak mengenakan kerudung dalam kesehariannya. Hingga kemudian di pertengahan tahun 2016, Mbak Rina memutuskan untuk mengenakan kerudung dalam kesehariannya karena "katanya" setelah pencariannya selama 2-3 tahun, membuat hatinya mantap untuk merubah penampilannya tersebut. Menurut sebagian besar orang, perubahan penampilannya ini membuat Mbak Rina dinilai lebih religius dibanding sebelumnya padahal menurut saya, itu hanya masalah penampilan saja, esensi religiusitas bukan disitu.

Sekitar setahun kemudian, yaitu beberapa hari yang lalu, Mbak Rina yang dinilai sebagian besar orang sudah menjadi lebih religius karena kerudungnya, memutuskan untuk tidak lagi mengenakan kerudung dalam kesehariannya (lagi), sama seperti dulu. Hal ini menimbulkan kekecewaan buat sebagian orang yang sebelumnya memuji Mbak Rina dengan kerudungnya. Dan menurut saya, apa yang membuatnya kecewa? Ya karena mereka menganggap penampilan Mbak Rina itu sebagai tolok ukur religiusitasnya itu tadi.

Wahai, buat saya Mbak Rina adalah manusia biasa, tempatnya salah dan lupa. Dan masih ingatkah kamu, hati manusia itu gampang sekali dibolak-balikkan, jadi menjadi sangat wajar ketika Mbak Rina tiba-tiba memakai kerudung, lalu menjadi tidak. Jangankan kerudung, banyak orang yang semula rajin sembahyang, bisa berubah menjadi orang lain yang sangat-sangat berbeda bahkan tidak sholat sama sekali. Jadi, saya rasa perubaha Mbak Rina ini tidak usah terlalu diributkan.

Permasalahan yang terjadi kemudian adalah disebabkan oleh posisi Mbak Rina yang dianggap sebagai figur publik yang banyak memiliki pengaruh terhadap khalayak ramai yang mungkin banget akan menjadikan Mbak Rina sebagai teladan. Well, dalam hal ini saya memandang permasalahan ini dari sisi orang tua. PR buat orang tua adalah memberikan teladan kepada anak-anaknya dan mengenalkan sosok yang tepat menjadi teladan, yaitu Rasulullah SAW. Kita sendiri harus memberikan contoh tersebut, jangan menjadikan artis atau manusia lain sebagai teladan, teladan terbaik adalah Rasulullah. Titik. Panduan hidup kita adalah Alquran dan Assunah, bukan gaya hidup artis.

Jadi untuk kawan-kawan yang ribut dengan perncopotan kerudung Mbak Rina, ayo fokus dengan menjaga anak-anak kita, fokus menjaga keluarga kita supaya tidak melencengkan keteladanan kepada yang tidak seharusnya. Suri tauladan kita adalah Rasulullah, bukan yang lain :)

Wednesday, 8 November 2017

Bangun Pagi

Ketika engkau bangun tidur, membuka mata di pagi hari, apa yang ada di pikiranmu?

Apakah pesan-pesan di media sosial yang mungkin masuk ke akunmu ketika kamu terlelap semalam?
Atau tumpukan tugas-tugas kantor yang menunggu diselesaikan?
Atau janji-janjimu dengan rekan-rekan dan atasan-atasanmu?
Atau menu makanan yang harus engkau siapkan hari ini untuk keluarga kecilmu?
Atau cicilan hutang yang harus kau bayar hari ini?
Atau tumpukan pekerjaan rumah yang kau rasa tidak ada habisnya kau kerjakan?

Ah,,kurasa hidup tidak harus serumit itu


Ada seseorang yang begitu matanya terbuka di pagi harinya
Dia akan mengingat secangkir kopi lengkap dengan pendampingnya,
Serta waktu damai pagi disela sejuknya angin subuh yang menyapa...
Dinikmatinya tegukan demi tegukan sambil dikumpulkannya rasa syukur untuk kehidupannya hari ini
Terima kasih dia sehat hari ini
Terima kasih dia masih hidup hari ini
Terima kasih dia masih memiliki waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang menunggunya hari ini
Setelah kosong gelasnya, dia bergegas mandi dan menggosok gigi dengan santai
Lalu mulai tersenyum dan mengerjakan apa yang harus dia kerjakan

Ada kalanya sesuatu itu tidak harus selalu kita pikirkan setiap saat
karena sesuatu itu hanya perlu kita kerjakan..

Bagaimana pagimu?

Saturday, 4 November 2017

Prioritas

Prioritas adalah hal yang membuat kita mampu mengesampingkan hal lain demi terlaksananya hal yang kita prioritaskan.

Prioritas antara satu orang dengan yang lain tentu berbeda. Karena prioritas hadir dari prinsip masing-masing individu. Prinsip sendiri adalah hasil dari pengalaman dan pemikiran seseorang yang sumbernya adalah latar belakang, pengalaman dan situasi dan kondisi seseorang itu.

Dalam pandangan yang (seharusnya menjadi) paling dasar seorang muslim, hal yang menjadi prioritasnya adalah tugasnya dari Tuhannya, tentang untuk apa dia diciptakan. Dan tugas manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Beribadah itu apa? Beribadah adalah melakukan kebaikan yang ditujukan untuk mencari ridho-Nya. Tentu saja, dalam beribadah itu ada aturan yang harus dipatuhi, dan aturan-aturan itu ada dalam ilmu agama yang harus dipelajari seluruh umat islam dari sejak dia ada di buaian sampai nantinya dia mencapai batas umurnya dan siap dimasukkan ke dalam liang lahat.

Panduan hidup manusia itu sendiri pada pokoknya ada 2, yaitu kitab suci Alquran dan hadist nabi. Bagaimana manusia bias perpegang pada kedua hal itu jika membacanya pun tidak pernah? Apalagi mempelajari maknanya?

Namun dalam kenyataannya, setelah terlahir ke dunia, menikmati segala fasilitas yang Tuhannya berikan, manusia lupa dengan semua itu. Dan mempelajari Alquran pun lenyap, sama sekali tidak masuk prioritasnya. Jangankan masuk list prioritas, justru malah dirasakan sebagai keterpaksaan dan gangguan dari melaksanakan aktivitas lainnya di dunia ini.

Dan itulah yang saya rasakan beberapa waktu lalu. Saya merasa terganggu ketika saya merasa bersalah sudah bertahun-tahun tidak bias mengkhatamkan Alquran. Saya merasa bersalah sekaligus kesal karena tidak bias memaksa diri saya untuk menyapa Alquran saya setidaknya satu kali setiap hari. Dan cita-cita besar saya masih belum berubah, ingin masuk surga-Nya. Yang mana setelah saya pikirkan kembali, itu seperti saya bermimpi di siang bolong.

Lalu saya mulai memaksa diri saya untuk berubah. Saya percaya perubahan yang awet adalah perubahan yang dilakukan sedikit demi sedikit namun rutin dilaksanakan. Istiqomah. Dan tentu saja saya juga harus catat, bahwa proses menjadi lebih baik itu tidak akan mudah. Dan untuk menguatkan saya, saya mengajakn beberapa teman yang merasakan permasalahan yang sama. Supaya kalau saya mulai hilang semangat, ada mereka yang mengingatkan dan menyemangati saya.

Ah, saya menulis panjang lebar ini hanya untuk meminta doa. Saya minta doanya, semoga kami tetap istiqomah memperbaiki diri. Karena tidak ada tugas yang lebih penting dari Allah selain beribadah kepadanya, dan untuk mengerti ilmunya, kami harus tetap belajar,

Friday, 3 November 2017

Tugasmu Hanya...

Kemarin saya sempat sangat marah pada seseorang yang bahkan saya tidak kenal. Pokoknya saya "sangking" marahnya sampai memaki-maki.

Kemudian salah seorang kawan saya berkata kepada saya, "Tugas kita hanyalah berbuat baik, urusan dia berbuat jahat pada kita, itu bukan urusan kita. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang bisa merubah hal itu, ya kamu lakukan itu, tetapi kalau tidak bisa, teruskan berbuat baik. Apakah dengan kamu marah-marah, dengan kamu kesal sendiri begitu akan ada dampak positifnya? Tidak, kan? Jadi mending kamu tetap fokus berbuat baik."

Iya sih..

Aku terdiam, menarik nafas panjang lalu menghembuskan pelan-pelan. Benarlah bahwa hati itu gampang sekali terbolak balik, lalu aku putuskan untuk tidak melanjutkan kekesalan. Aku putuskan untuk berbahagia!

Lalu aku tertidur nyenyak di kursi tamu kantor, hahahaha

Friday, 27 October 2017

Ketika Nganu Menjadi Hiburan

Biasanya, saya jarang nonton TV. Namun akhir-akhir ini saya mulai kembali menonton TV hampir setiap malam menjelang tidur bahkan sampai tertidur dan TV saya nyalakan mode sleep. Bukan apa-apa, terkadang saya takut memejamkan mata, dan suara dari TV itu membuat saya merasa ada kawan sehingga lebih mudah memejamkan mata untuk tidur. Acar yang saya tonton tak lain dan tak bukan adalah acara Stand Up Comedy. Setelah seharian bekerja dan berfikir, saya pikir sebaiknya melemaskan pikiran dengan sesuatu yang lucu seperti Waktu Indonesia Bercanda dan Stand Up Comedy ini.

Sehari-dua hari saya menonton dengan biasa saja, tidak ada pikiran yang mengganjal. Sampai pada suatu ketika saya merasa ada sesuatu yang salah. Dan kemudian seperti biasa saya mulai "berbicara" pada diri saya sendiri. Jadi selama ini saya menertawakan orang yang mengolok-olok orang lain. Itulah yang menurut saya membuat SUC ini menjadi agak salah. Memang tidak semua materinya berisi olok-olok, tetapi banyak yang membuat lelucon dari olok-olok ini.

Duh dek, piye iki? Padahal aku suka nontonnya. Hiks

Dan saya pun sebagai orang yang (sok-sokan) suka nulis, akhirnya menantang diri sendiri untuk membuat skrip/materi SUC, sekaligus membuktikan apakah memang susah mencari materi lucu yang tidak berisi olok-olok. Tantangan yang ternyata membuat saya terdiam lama di depan dekstop tanpa mengetik apa-apa. Mungkin memang susah, atau memang sayanya aja yang tidak pandai melucu.

Sebetulnya tidak cuma di SUC ya, bahkan OVJ dan Fesbuker sudah lebih dulu dicap menjadi tontonan yang tidak baik oleh netizen, kalau SUC sejauh ini masih aman. Olok-olok, pembullyan atau bahkan memaki-maki orang lain dijadikan lelucon dan hiburan kita sehari-hari. Bahkan kalau di media sosial, sempat viral foto-foto dan screen capture percakapan anak SD dengan "pacarnya" dimana mereka bertingkah seperti orang dewasa. sebagian besar orang merasa itu lucu, sebagian yang lain merasa sedih dan miris.

Jadi, setelah seharian capek bekerja, lelah berfikir, lalu kita pulang dan mencari hiburan kemudian kita akan mendapatkan hal-hal nganu yang diharapkan akan membuat kita rileks. Dan semenjak saya berfikir "ada yang salah" itu, saya kok jadi malah berfikir lagi, bukannya rileks. #duhDek

Mungkin memang sebaiknya saya kembali lagi ke buku. Menjadikan buku sahabat karib dalam suka, duka, dan gegana (gelisah galau merana). Nah masalahnya, saya kalau sudah baca buku sulit berhentinya sampai kadang lupa waktu dan urusan lainnya. #DuhDek.

Ah sepertinya ada yang salah dengan saya juga.

Saturday, 21 October 2017

Jalan Itu Banyak

Asalnya adalah kalimat "Banyak Jalan Menuju Roma", jadi jalan itu banyak. Dan dengan adanya banyak sekali jalan itu, alternatif rutenya tentu sangat banyak. Satu yang pasti, tidak semua jalan yang ada harus dan bisa kita lewati. Fyuh, panjang ya?

Intinya, dalam hidup ini kita punya rute kita masing-masing. Dan kita tidak mungkin melewati semua rute yang ada di kehidupan ini. Jadi, nikmati saja rutemu, supaya ketika kamu sampai di tujuanmu nanti, kamu akan bangga, punya kenangan dan seluruh waktumu bisa kamu pertanggungjawabkan.

Bayangkan jika kita berjalan di rute kita, tetapi pandangan kita fokus memperhatikan rute orang lain. Kita sibuk melihat orang lain menjalani rutenya, sampai kita tidak tau pemandangan indah yang ada di sepanjang rute kita sendiri. Kita tidak tahu betapa sejuknya lindungan pohon-pohon yang ada di rute kita, bahkan kita pun tidak tahu, di seberang sana ada seseorang yang iri melihat enaknya rute kita.

Aduh malah terlalu panjang saya membahas rute.

Sebetulnya saya cuma mau menyampaikan, ketika kamu berniat untuk diet, ingatlah bahwa di dunia ini ada banyak sekali makanan. Dan kita tidak harus menikmati semua makanan yang ada itu. Pilih makanan yang halal lagi BAIK. Ingat, jangan sekedar halal, tetapi juga BAIK!!

Tuesday, 17 October 2017

Motivator

Sepanjang perjalanan hidup saya, saya sering menjadi tempat curhat kawan-kawan saya. Pada posisi itu, seringkali saya merasa perlu memberikan saran-saran dan nasihat yang menurut saya baik. Itulah salah satu kesalahan saya dan sekaligus kelebihan saya. Itu kesalahan karena, sebetulnya sebagian besar orang yang curhat, menumpahkan isi hati adalah karena ingin didengarkan saja. Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Kelebihan ketika ada kawan yang memang pada saat bercerita bertujuan untuk mencari pemecahan masalah.

Di situ saya merasa sotoy.

Saya tanpa sadar berbicara padanya panjang lebar, menanyakan padanya ini banyak hal, mulai dari situasi dan kondisi, latar belakang, pihak yang terlibat, dan kejadian perkaranya seperti apa. Dalam hal ini saya merasa menjadi seorang psikolog sekaligus detektif. Hahahaha.

Dan entah berguna atau tidak, kawan-kawan saya banyak yang kembali lagi untuk curhat atau meneruskan kisah yang pernah mereka curhatkan pada saya.

Sampai beberapa kawan akhirnya bertanya, "Kamu nggak kepengen jadi motivator?"

Ugh! Siapalah saya ini. Hanya remah-remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan. Serpihan kecil yang dikangeni dan selalu bertemu dengan orang-orang yang sedang mencari.
Dan tidak ada motivator yang lebih hebat dari diri kita sendiri! Ya, motivator terbaikmu adalah dirimu sendiri, kawan :)

Bukannya saya tidak ingin menjadi motivator, saat ini pun saya sering secara tidak langsung memotivasi kawan-kawan saya itu. Privat. Empat mata dan empat juta semangat.

Satu-satunya yang menjadi catatan saya ketika sedang melakukan sesi penerimaan curhatan, adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi kemudian semua ada di tangan kawan saya ini. Iya, tentu dengan seijin Allah.
Saya selalu mengingatkan kepada diri saya sendiri, satu-satunya yang bisa merubah nasib seseorang adalah dirinya sendiri, sehingga satu-satunya tugas saya adalah memberikan sedikit gambaran tentang apa yang kawan saya ini hadapi dan mengatakan kepada mereka, ini pilihanmu, terserah kamu pilih jalan yang mana.

Lucunya, pernah suatu hari beberapa kali ada kawan yang saya pun tidak kenal dia, tiba-tiba muncul di layar chat hape saya dan berkata ingin curhat. Wah! Siapa ini...
Sebagai seorang motivator amatir, saya pun mempersilahkan dia bercerita dan menyelesaikan ceritanya sampai tuntas. Kemudian saya bertanya hal-hal yang saya ingin ketahui dan kemudian memberikan kesimpulan dan saran. Well, saya sangat menikmati sesi ini.

Setelah selesai sesi penerimaan curhat, giliran saya yang deg-degan. Saya takut saya salah memberikan saran. Hahaha. Piye sih?

Ya begitulah motivator amatiran. Hahaha.

Monday, 2 October 2017

Apa yang Dibutuhkan Untuk Menjadi Keras?

Sambil menunggu OB kantor membelikan saya makan siang, mari kita berfikir sejenak, tentang apa yang dibutuhkan untuk menjadi keras?

Apa yang dibutuhkan agar sesuatu yang semula cair agar menjadi keras?

Panas?

Ya, jika yang semula cair itu adalah lumpur, adonan kue, adonan semen, dan nasi.

Dingin?

Ya, jika yang semula cair itu adalah aspal, karamel, kaca, besi, agar-agar/jelly dan plastik.

Jadi, untuk mengubah bentuk benda dari cair menjadi padatan saja ada dua hal yang bertolak belakang yang dibutuhkan, tergantung benda yang ingin dipadatkan itu apa.

Apalagi mengubah sifat dan karakter manusia, dimana jauuuhhh lebih kompleks daripada mengubah bentuk benda.

Saya sering melihat orang yang menyamakan orang lain dengan dirinya. Memberikan saran yang setengah memaksa kepada orang lain karena alasan "kalau aku sih ... ." Iya, kadang saya juga memberi saran dengan menyamakan dia dengan diri saya, menganggap sama kondisi orang lain dengan kondisi saya. Padahal itu hal yang tidak masuk akal, mana mungkin orang lain sama dengan kita kan?

Dan saya tiba-tiba menemukan analogi itu. Untuk mengubah benda yang berbentuk cair menjadi padal aja beda-beda suhu yang dibutuhkan, apalagi mengubah manusia. Ini membuat saya harus berfikir lebih cerdas, belajar untuk lebih bisa menempatkan diri ketika akan memberikan saran kepada orang lain, di posisi mana sebaiknya saya berfikir ketika akan mencari saran.

Ya Allah, muter-muter sangat ya tulisan ini, hahahaha

Intinya semua kondisi itu berbeda meskipun tujuannya sama. Kondisi yang berbeda membutuhkan treatment yang berbeda-beda, jadi sebelum memberikan treatment, kenali dulu objeknya. Untuk hal yang sederhana saja pengenalan objek itu harus, apalagi hal yang kompleks. Sekompleks kebiasaan manusia. Mari belajar memahami kondisi orang lain dulu sebelum "memaksa" memberi treatment, baik itu teguran, saran ataupun kritik. Kalau nggak "memaksa"?

Kalau nggak memaksa, silahkan sampaikan apa yang ingin Anda sampaikan, lalu jangan baper kalau tidak ditanggapi sesuai mau Anda.

#eaaaa

Saturday, 30 September 2017

Alasan

Aku mendengarkan dia bercerita. Runtut sekali mulai dari awal dia bekerja di sebuah perusahaan, lalu bekerja sebagai asisten orang terkenal, sampai pada akhirnya dia tidak lagi bekerja.

Dari ceritanya, aku pikir dia pasti punya banyak relasi, yang bisa sedikit diharapkan jika dibutuhkan. Tapi melihat kenyataan sekarang, aku hanya bertanya dalam hati, dia yang tidak mau memanfaatkan relasi, atau ...

Kemudian aku coba membantunya, memberikan jalan bisnis, memakai jasanya jika aku butuh, dan seterusnya.
Dan ya,

Seperti ribuan masalah di dunia ini, ternyata ujungnya ada pada dirinya sendiri.

Aku tidak akan menyebutkan rinci dia kenapa dan melakukan apa, tapi ada hal-hal yang bisa aku kasih tahu pada kalian semua.

Siapapun orangnya, pasti akan senang bekerja dengan orang yang jujur, bisa dipercaya, mau melakukan yang terbaik yang dia bisa, dan selalu berusaha menjadi lebih baik.

Gak perlu sangat pintar atau sangat menarik penampilanmu. Cukup yang aku sebutkan tadi.

Ingat ya,
Jujur,
bisa dipercaya,
melakukan yang terbaik yang kamu bisa,
selalu berusaha menjadi lebih baik lagi.

Thursday, 28 September 2017

Pagar Mangkok

Ratusan buah sawo yg sudah dipanen itu harus kami cuci, digosok satu per satu menggunakan sabut kelapa supaya butir-butir kasar di permukaannya hilang. Tumpukan buah sawo yang mulus itu adalah hasil kerja keras kami menggosoknya seharian. Setelah bersih, kami memasukkannya ke kantong-kantong plastik besar, untuk kemudian kami bagi ke tetangga kanan kiri. Sisanya, ibu akan memeramnya untuk  kami sekeluarga.

Tak lama berselang, giliran kami membagi-bagikan mangga hasil panen dari dua pohon mangga di samping rumah. Tak ada bosannya ayah ibuku menyuruh kami membagi dan membagi.

Tak ada yang sedang dipanen? Ayah ibu tak menunggu panen, kami akan sigap membagi makanan yang ada di dapur kecil kami. Tempe goreng, mie goreng, tahu goreng, atau pecel akan siap kami antarkan ke rumah tetangga sehabis waktu solat magrib. Minimal seminggu sekali kami menjadi kurir kecil ayah ibu.

Kata ayahku, "Pagar mangkok itu lebih kuat daripada pagar tembok." Selalu itu kalimat yang keluar ketika aku mulai bertanya mengapa. Di pikiranku, gambaran mangkok bertumpuk-tumpuk tampil, dan dalam hati aku berbisik, mangkok adalah benda yang tidak mungkin dijadikan pagar oleh orang waras. Biasanya, aku hanya akan mengiyakan kalimat ayahku itu supaya lekas diberi izin untuk pergi bermain di kebun tetangga.

Aku tersentak. Lampu-lampu kembali menyala setelah sekitar satu jam pemadaman listrik. Lamunanku buyar.

Aku jadi sadar, bagaimana mungkin aku merasa miskin, jika mereka selalu melatihku untuk berbagi dan berbagi. Bagaimana mungkin aku merasa miskin, jika mereka selalu melatihku untuk sibuk berbagi tanpa sibuk menghitung rejeki orang lain. Bagaimana mungkin aku merasa miskin, jika pagar kami adalah mangkok, yang jauh lebih kuat dari pagar tembok.

"Athaaaaa!"

"Ya, Ma!"

"Ayo kita keliling kompleks, bawa kotak-kotak kue di atas meja itu ke depan ya, Mama bawa bagian yang beratnya," kataku sambil menenteng beberapa plastik berisi mangga hasil panen sore tadi.

Yuk, Nak, kita bangun pagar mangkok kita, pagar yang lebih kuat dari pagar tembok. Karena pagar mangkok lebih dari sekadar pagar, dia adalah kasih sayang yang menular dan akan selalu berbalik kepada kita seperti bumerang. Dan kaya, kaya itu adalah rasa yang akan ibu beritahukan padamu dengan perlahan. Nanti ibu akan perlihatkan padamu, walaupun tidak banyak harta yang dimiliki kakek nenekmu, mereka adalah orang kaya yang sebenarnya.

#odop

Tuesday, 26 September 2017

Yang Penting Kita Bergerak

Aku suka ngobrol dengan beberapa sahabatku tentang hal-hal yang serius.

Ini serius.

Kemaren kami ngobrolin negara. Haha. Serius. Kami ngobrolin betapa SDM kita ini sangat sangat sangat butuh perbaikan. Coba berkunjunglah ke desa-desa yang ada di pelosok Indonesia, ga usah jauh-jauh, di pulau Jawa aja masih banyak sekali desa-desa dengan fasilitas minim dan kualitas SDM yang memprihatinkan.

Dan

Obrolan tanpa pergerakan adalah hal yang sebaiknya dihindari. Yang penting kita bergerak.

Kami pun brainstroming tentang hal-hal apa yang sekiranya bisa kita lakukan untuk memperbaiki lingkungan sekitar kami.

Lelah.

Betul kok, tidak ada yang mudah memikirkan negara ini #tsaahh
Tapi hidup memang tak melulu tentang kita dan kita saja,
Hidup adalah tentang kita, mereka, Tuhan dan tempat hidup kita...
Dan surga tidak semudah membaca Alquran dan sholat lima kali sehari...

Bismillah,
Insyaallah dalam waktu yang tidak terlalu lama,
Aku dan banyak teman dari Kotubu (Komunitas Tukar Buku) akan membuat Rumah Baca di kampung halamanku.

Mungkin bukan hal besar,
Mungkin bukan hal hebat,
Yang penting kita bergerak..

Aku pernah mendengar analogi,
Hidup itu seperti naik sepeda, kalo kita berhenti mengayuh, kita akan jatuh dan sepeda tidak bergerak ke depan.
Ada kalanya memang kita tidak perlu mengayuh dan sepeda tetap berjalan, yaitu ketika kita menemukan turunan. Tapi setiap turunan ada tanjakan :)

Mohon doa dan dukungannya yaaa....

Sunday, 24 September 2017

Prioritas

Sering ya orang ribut sendiri karena kehidupan orang lain. Padahal, tidak ada satupun manusia itu yang memiliki pikiran yang sama. Jangankan yang bukan sanak saudara, suami istri saja butuh lho menyetting prioritas bersama supaya sejalan, jadi gak perlulah ribut mengomentari kehidupan orang lain,karena prioritas kalian itu pasti beda, coy!

Kok baru nulis pembukaan aja gue udah emosi sendiri ya? Hahahaha

Jadi gini, prioritas adalah hal yang menurut kita paling penting dibanding hal-hal yang lainnya. Sehingga prioritas ini akan kita usahakan terlebih dulu sebelum memenuhi hal-hal yang lain.

Ada sebagian orang yang prioritasnya adalah makanan sehat. Jadi selama dia dan keluarganya makan makanan sehat, baju jelek gak pernah piknik gak masalah. Ada yang prioritasnya rumah bagus, ada yang prioritasnya pendidikan anak, ada juga yang prioritasnya penampilan. Jadi semua oraangg...itu beda! Sejak dari kepala. Jangan dipaksakan untuk menjadi sama, nanti kamu lelah lho, Hayati...

Yang repot adalah, ketika ada orang yang tidak punya prioritas. Hidupnya tergantung orang lain yang dilihatnya, tetangga begini ikut,,tetangga begitu ikut,,ruwet banget hidupnya. Tapi ya sudah, gak usah ribut sama orang yang seperti itu, cukup kamu influence aja, hahahaha..

Jadilah inspirasi yang baik dan bermanfaat untuk orang lain, sehingga orang lain dengan senang hati mengikutimu. Mereka jadi lebih baik, dan kamu akan bahagia karena membuat orang lain berubah jadi lebih baik. Jadi bukan dengan ngajak ribut ya, Hayati...

Caranya :
Fokus pada perbaikan dirimu. Terus berbenah untuk menjadi manusia unggul. Belajar dari kebaikan orang lain, ambil sebagai contoh untuk dilakukan. Belajar dari keburukan orang lain, ambil sebagai contoh hal yang harus dijauhi. Begitu terus hingga kamu sibuk dengan perbaikan dirimu sendiri..

Err..

Sebetulnya,
Ini adalah nasehat yang paling dibutuhkan oleh diriku sendiri,
Yang seringkali kesel karena ternyata prioritas orang lain berbeda denganku,
Tapi oh plis,
Kenapa aku masih sering terjebak di pikiran picikku itu..

Haha

Semoga dengan menulisnya di sini, semakin merasuk nasehat ini di pikiranku, dan someday,
Tak adalagi kesal karena prioritas orang lain...
:)

Thursday, 18 May 2017

Stop It

Jika saja

Kamu mengijinkan semua orang curhat dan menyampaikan penderitaannya padamu

Niscaya kamu akan bersyukur dengan sendirinya..