Dalam kehidupan sehari-hari, sering saya dapati banyak sekali orang yang memberikan kunci kebahagiaannya kepada orang lain. Apa maksudnya? Maksudnya adalah orang ini berbahagia bergantung kepada apa yang orang lain katakan, apa yang orang lain lakukan dan apa yang orang lain perhatikan. Contohnya, ada orang yang berbahagia ketika dia banyak dipuji orang, ada orang yang berbahagia ketika dia banyak diperhatikan orang. Bagaimana jika orang lain tidak lagi memperhatikan dan memuji dia, hilang sudah kebahagiannya. Rapuh sekali.
Itulah sebabnya, jangan menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain. Bisakah? Bisa. Jadilah dirimu sendiri, banyak-banyak bersyukur, jadilah orang baik dan mendekatlah kepada Allah.
Saya suka membaca buku-bukunya Diana Rikasari. Tahu Diana Rikasari? Iya, seniman yang lebih sering dibilang aneh alih-alih keren. Gaya berpakaiannya yang tidak seperti orang pada umumnya, pilihan warna yang sesuka hati membuat dia tampak sangat nyentrik. Saya mempelajari sesuatu dari Diana. Dia berbahagia dengan dirinya sendiri. Tak peduli orang lain menilai dia bagaimana, dia berbahagia dengan dirinya dan apa yang dia miliki.
Beberapa waktu yang lalu saya ingin membeli jilbab daily. Saya memilih-milih warna sampai saya sendiri pusing mau beli yang warna apa. Akhirnya saya memutuskan memesan warna coklat polisi dan pink gonjreng (yang mana warna pink gonjreng ini ditentang banyak kawan karena warnanya yang gonjreng). Begitu pesanan datang, ternyata kawan saya yang menjual jilbab tersebut membawa banyak jilbab berbagai warna. Saya jadi bingung lagi, karena ketika melihat warna coklat polisi, yang menurut kawan-kawan saya itu adalah warna yang netral dan normal (yang karena itu pula saya memesannya), saya menjadi tidak tertarik. Saya jadi tertarik dengan warna pink gonjreng dan hijau gonjreng. Tentu saja kawan-kawan saya mendukung saya memilih jilbab dengan warna-warna yang tampak normal. Tetapi akhirnya sama memutuskan untuk membeli jilbab yang berwarna pink gonjreng dan hijau gonjreng.
Besoknya saya tak sabar untuk segera mengenakan jilbab-jilbab itu. Saya senang sekali mengenakan jilbab yang warna pink gonjreng, begitu juga saya juga sangat senang mengenakan jilbab yang warna hijau gonjreng. Dan saya bertanya dalam hati, inikah yang disebut bahagia yang sederhana? Yaitu, hanya dengan memilih apa yang kita sukai, bukan yang menurut orang lain bagus lah yang membuat kita bahagia. Seperti pemilihan baju Diana. Hahahaha.
Dan akhirnya beberapa minggu yang lalu, ketika suami saya mengajak saya ke optik untuk membuat kacamata baru (karena yang lama sudah copot dan patah), saya mantap memilih frame kacamata warna pink doff yang lebih mirip kaca mata Pou (permainan di smartphone), daripada kacamata ibu-ibu yang bisa menaikkan sedikit "derajat kecerdasan" jika dipandang dengan mata. Hahahaha.
Akibatnya? Bahkan menunggu kacamata itu jadi saja sudah membuat saya bahagia.
Akibatnya lagi? Saya tak habis-habis diejek oleh kawan-kawan di kantor. Hahahahaha. Tapi saya tidak peduli. Saya tidak sedikit pun merugikan mereka dan yang terpenting saya bahagia dengan pilihan saya.
Jadi kawan-kawan, gantungkanlah kebahagiaanmu pada tempatnya. Jangan sampai salah tempat menggantung.
Monday, 4 December 2017
Thursday, 16 November 2017
Impementasi Pengenalan Tuhan (2)
Bagian I
Setelah saya ketik "arsy Allah", maka yang muncul adalah gambar-gambar galaksi alam semesta. Mereka pun kembali bertanya apakah itu arsy? Dan mulailah saya menjelaskan bahwa itu adalah gambar alam semestar yang berbentuk galaksi-galaksi bintang. Besar sekali dan Allah lebih besar dari semua itu.
Kemudian kami lanjutkan dengan menonton video dari youtube tentang arsy. Dan akhirnya mereka menerima kesimpulan bahwa tidak ada manusia yang tahu bagaimana bentuk arsy.
Ada alasan kenapa saya pengen banget mengajarkan tentang Ketuhanan kepada anak-anak. Saya ingin anak-anak saya mengenal siapa yang menciptakan semua ini dan kepada siapa mereka harus meminta dan bergantung. Saya ingin mereka hidup sesuai tujuan Tuhan menciptakannya, saya ingin anak-anak saya menjadi anak yang patuh pada Tuhannya. Dan saya memulai semua ini dengan mengenalkannya dengan Allah.
Setelah pelajaran hari itu, sedikit banyak mereka mengerti, bahwa Tuhanlah yang mengatur semuanya, walaupun masih ada kerancuan, apakah yang membuat mereka berbadan kuat itu apakah sayuran ataukah Tuhan? Logika mereka belum sampai sejauh itu, hehehehe.
Pelajaran pengenalan Tuhan yang lengkap dengan 20 sifat wajib Allah saya rasa harus saya tunda sampai mereka usia sekolah, karena untuk saat ini, imajinasi mereka lebih menuntut untuk saya turuti daripada saya memaksakan teori yang terlampau berat untuk mereka serap.
Saya rasa, langkah selanjutnya untuk pelajaran pengenalan Tuhan adalah dengan praktek dalam kehidupan sehari-hari, dengan melaksanakan sholat, berdoa dan selalu berterima kasih kepada Tuhan. Dan tentu saja, untuk hal ini saya juga sedang tahap belajar untuk lebih baik dalam menjalankan tugas sebagai makhluk ciptaan Allah.
Ayo orang tua, tetap semangat!!
Wednesday, 15 November 2017
Brownies Oreo
Beberapa hari yang lalu saya melihat salah seorang teman saya membagikan kiriman salah satu netizen dari Malaysia yang membagi resep membuat kue dari oreo. Siapa sih yang tidak tahu oreo? Dan siapa sih yang tidak tahu brownies? Hehehe, dan dengan resep tersebut semua orang pasti bisa membuatnya. Iya, semua orang pasti bisa membuatnya!!
Resepnya begini :
Bahan :
2 bungkus oreo yang panjang itu
1 kotak susu UHT 200 ml
Cara membuat :
Blender halus oreo termasuk krimnya. Campurkan dengan susu. Aduk rata. Tuang ke dalam kotak makan/cetakan. Kukus kurang lebih 20 menit. Angkat, dinginkan. Boleh dikasih topping sesuai selera.
Nah, kemarin saya mengajak kawan seruangan saya di kantor untuk membuatnya. Kebetulan di kantor ada magic com yang bisa kami gunakan untuk mengukus. Untuk menghaluskan oreo, saya rasa saya bisa memukulinya dengan benda apapun yang ada di kantor, hahahahaha.
Lalu kami pun berbelanja di toko dekat kantor dan membuat kue itu dengan segala keterbatasan. Ternyata benar-benar simpel dan jadilah sebuah brownies yang mantap sekali! Kami menggunakan oreo yang berisi krim coklat, susu UHT coklat, dan menggunakan topping coklat cair. So yummy! Kalian harus coba.
Kemudian saya ingin membuatkannya untuk Inas, anak saya yang alergi susu sapi. Kebetulan oreo adalah salah satu produk biskuit yang tidak mengandung susu sapi di dalamnya. Dan untuk susu UHTnya, saya mengganti dengan susu kedelai UHT. Dan tadi malam saya betul-betul membuatnya!!
Nah, perbedaan brownies yang dibuat dengan susu sapi UHT dan susu kedelai UHT adalah yang menggunakan susu kedelai UHT teksturnya seperti kue bantet, jadi lebih padat seperti kue lumpur, sedangkan yang menggunakan susu sapi teksturnya mirip seperti brownies kukus pada umumnya. Untuk rasa, menurut saya keduanya rasanya enak.
Kemudian saya memikirkan, bagaimana jika saya membuat kue sejenis dengan oreo yang gold (yang berwarna putih) dan susu juga UHT yang putih? Atau membuatnya dengan oreo yang Gold, dengan UHT mocca? Atau membuatnya dengan oreo putih dengan cairan kopi susu? Wah, sepertinya asyik ya. Nanti saya akan coba buat dan hasilnya akan saya ceritakan di sini. Tunggu saja!
Tuesday, 14 November 2017
Daun Karet Kebo
Beberapa waktu yang lalu, ibu mertua saya membagikan sebuah tulisan tentang seseorang yang tadinya sudah tidak bisa berjalan karena stroke, kemudian bisa kembali berjalan bahkan berlari setelah mencoba pengobatan dengan daun karet kebo.
Iseng-iseng saya ketikkan karet kebo di mesin pencari alias google. Muncullah banyak sekali tulisan yang kurang lebih menyampaikan berbagai manfaat daun karet kebo dan akar karet kebo untuk mengobati berbagai penyakit seperti maag, bisul, melancarkan peredaran darah, haid terhenti dan juga stroke. Saya ambil salah satu gambar dari google, lalu saya kirimkan kepada ibu mertua saya.
Lalu ibu mertua saya bilang, tolong nanti kalau pulang kampung, bawain dauh karet kebo tersebut. Waduh, saya tidak tega bilang kalau sebetulnya saya juga baru melihatnya melalui google, belum pernah melihatnya di dunia nyata. Tak disangka, ketika sore hari saya menjemput suami saya di kantornya, di sana ada satu pot berisi tanaman karet kebo. Ah, tapi masak saya metikin daun karet kebo di pot itu yang jumlahnya pun tidak seberapa.
Besoknya, sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya (rute berangkat dan pulang berbeda) saya mengamati setiap pohon yang saya lewati. Wah kok nggak nemu ya,,,apakah pohon ini sudah langka. Lalu saya ingat ada sebuah pohon besar di dekat jembatan Slipi, saya mengatakan kepada suami saya bahwa kami harus kesana untuk survey. Belum sempat kami survey, suatu hari di tengah kemacetan tepat di samping kantor saya, mata saya terpaku pada dedaunan di dinding pagar pembatas flyover. Karet Kebo!!
Ya ampun, ternyata di dekat kantor saya juga ada pohon karet kebo yang besar sekali, bahkan ada dua pohon sekaligus di pinggir flyover! Lalu pas perjalanan berangkat dan pulang berikutnya, saya menemukan pohon itu lagi dan lagi di sepanjang jalan. Ternyata masih banyak terdapat pohon karet kebo tersebut di Jabodetabek. Akhirnya saya memetik 21 lembar daun dari pinggir jalan dan saya kirimkan melalui pos ke rumah mertua saya.
Saya belum bertanya lagi apakah sudah dicoba direbus dan diminum airnya oleh mertua saya. Sebetulnya saya juga ingin mencobanya karena beberapa tahun terakhir saya bermasalah dengan berat badan dan itu mempengaruhi siklus haid saya yang menjadi terhenti. Saya juga pernah beberapa kali memeriksa kolesterol dan pernah terlalu tinggi. Mengingat keluhan saya itu, sepertinya saya memang harus mencobanya.
Nanti kalau sudah saya coba, saya akan ceritakan di blog sini bagaimana hasilnya ya :)
Monday, 13 November 2017
Implementasi Mengenalkan Tuhan
Pada postingan saya beberapa hari yang lalu, saya sudah membayangkan akan dengan lancar mengenalkan Allah kepada anak-anak saya. Dengan gaya santai, saya mencoba menyampaikan materi "Ketuhanan" kepada mereka. Namun ternyata imajinasi anak-anak itu sungguh sangat sangat sangat luas dan tinggi sekali,hahahaha saya akan ceritakan di sini.
Saya : Anak-anak bunda yang pintar, ayo sini bobok di samping bunda, bunda mau cerita
Inas dan Hafi : Waaaahhh,,,cerita apaaa... (mereka berdua berbaring masing-masing di samping kanan dan kiri saya.
Saya : kisah tentang indah hari tua bersamamu..
Inas dan Hafi : Haaaaaaa??????? Itu kan laguu... Hahahahaha
Iya, itu sepotong bait di lagu Surat Cinta untuk Starla, hahaha
Saya : Hahaha.. Bukan itu sih, bunda mau cerita tentang..
Hafi : Tentang cinderella!!
Saya : Hahaha,,emang kamu tau Cinderela, Dek?
Hafi : Aku tau putri kiki yang ada di Tayo,,
Saya : Hahahaha... Nggak ah, bunda mau cerita tentang yang menciptakan kita semua,,yang menciptakan ayah, bunda, inas, hafi, oma, opa, mbah uti..
Inas : Pakde diki, bude, kakak sakhi..
Hafi : Ava, onti puspa, om iki, malika
Inas : nindi, mas ayos, mba noan...
Sekitar 2 menit kemudian mereka masih menyebut semua nama orang yang dikenal plus gunung, laut, jalan raya, rumah, angin, awan,,dll dst..
Saya : iya, yang menciptakan semua itu adalah?
Inas dan Hafi : Allah!!!
Saya : Iya betul, Allah itu Tuhan kita, pencipta alam semesta. Allah itu Maha Kuasa, hebat sekali bisa melakukan apa saja...
Hafi : Kalau malam Allahnya tidur
Saya : Tidak, Allah tidak pernah tidur, Allah tidak pernah tidur, tidak pernah capek, hebat sekali
Inas : apakah matanya Allah tidak berat?
Saya : Kalau yang matanya berat itu manusia, kalau capek dan ngantuk matanya berat,,seperti kakak..
Inas dan Hafi : Hahahahahaha...
Inas : Allah itu rumahnya dimana?
Saya : Allah itu di arsy..
Inas : Arsy itu seperti apa?
Hafi : Kalau Allah itu seperti apa bunda?
Saya : Allah dan arsy itu manusia tidak bisa melihatnya
Inas : Tapi aku mau tahu Allah itu seperti apa..
Saya : Tidak ada yang bisa melihat Allah, Nak.. Kita mungkin akan bertemu Allah kalau sudah meninggal, tapiii,,,kita harus menjadi orang baik yang disayang sama Allah..
Inas : Tetapi aku tidak suka meninggal..
Saya : Nanti kakak berdoa sama Allah ya, minta sama Allah supaya diberikan umur yang banyak,,supaya bisa banyak membantu orang..
Inas : Tapi Allah itu seperti apa?
Hafi : Arsy seperti apa? Bagaimana kalau kita cari di gugel...
Mereka langsung menyapa "halo gugel" dan ...
Hafi : Hah?? Allah itu seperti iqra?? (iqra : buku belajar membaca alquran)
Saya : Bukan sayang, tidak ada yang bisa melihat Allah, itu hanya tulisan arab yang berbunyi Allah..
Inas : Akhsi! Akhsi! (berkali-kali dia berteriak ke smartpphone tetapi hasilnya masih "aksi" karena cadel. setelah beberap kali akhirnya tulisan "arsy" yang muncul bersama gambar-gambar putrinya Anang Hermansyah, hahaha). Lalu saya ketikkan "arsy Allah" di mesin pencari..
to be continued....
Saya : Anak-anak bunda yang pintar, ayo sini bobok di samping bunda, bunda mau cerita
Inas dan Hafi : Waaaahhh,,,cerita apaaa... (mereka berdua berbaring masing-masing di samping kanan dan kiri saya.
Saya : kisah tentang indah hari tua bersamamu..
Inas dan Hafi : Haaaaaaa??????? Itu kan laguu... Hahahahaha
Iya, itu sepotong bait di lagu Surat Cinta untuk Starla, hahaha
Saya : Hahaha.. Bukan itu sih, bunda mau cerita tentang..
Hafi : Tentang cinderella!!
Saya : Hahaha,,emang kamu tau Cinderela, Dek?
Hafi : Aku tau putri kiki yang ada di Tayo,,
Saya : Hahahaha... Nggak ah, bunda mau cerita tentang yang menciptakan kita semua,,yang menciptakan ayah, bunda, inas, hafi, oma, opa, mbah uti..
Inas : Pakde diki, bude, kakak sakhi..
Hafi : Ava, onti puspa, om iki, malika
Inas : nindi, mas ayos, mba noan...
Sekitar 2 menit kemudian mereka masih menyebut semua nama orang yang dikenal plus gunung, laut, jalan raya, rumah, angin, awan,,dll dst..
Saya : iya, yang menciptakan semua itu adalah?
Inas dan Hafi : Allah!!!
Saya : Iya betul, Allah itu Tuhan kita, pencipta alam semesta. Allah itu Maha Kuasa, hebat sekali bisa melakukan apa saja...
Hafi : Kalau malam Allahnya tidur
Saya : Tidak, Allah tidak pernah tidur, Allah tidak pernah tidur, tidak pernah capek, hebat sekali
Inas : apakah matanya Allah tidak berat?
Saya : Kalau yang matanya berat itu manusia, kalau capek dan ngantuk matanya berat,,seperti kakak..
Inas dan Hafi : Hahahahahaha...
Inas : Allah itu rumahnya dimana?
Saya : Allah itu di arsy..
Inas : Arsy itu seperti apa?
Hafi : Kalau Allah itu seperti apa bunda?
Saya : Allah dan arsy itu manusia tidak bisa melihatnya
Inas : Tapi aku mau tahu Allah itu seperti apa..
Saya : Tidak ada yang bisa melihat Allah, Nak.. Kita mungkin akan bertemu Allah kalau sudah meninggal, tapiii,,,kita harus menjadi orang baik yang disayang sama Allah..
Inas : Tetapi aku tidak suka meninggal..
Saya : Nanti kakak berdoa sama Allah ya, minta sama Allah supaya diberikan umur yang banyak,,supaya bisa banyak membantu orang..
Inas : Tapi Allah itu seperti apa?
Hafi : Arsy seperti apa? Bagaimana kalau kita cari di gugel...
Mereka langsung menyapa "halo gugel" dan ...
Hafi : Hah?? Allah itu seperti iqra?? (iqra : buku belajar membaca alquran)
Saya : Bukan sayang, tidak ada yang bisa melihat Allah, itu hanya tulisan arab yang berbunyi Allah..
Inas : Akhsi! Akhsi! (berkali-kali dia berteriak ke smartpphone tetapi hasilnya masih "aksi" karena cadel. setelah beberap kali akhirnya tulisan "arsy" yang muncul bersama gambar-gambar putrinya Anang Hermansyah, hahaha). Lalu saya ketikkan "arsy Allah" di mesin pencari..
to be continued....
Sunday, 12 November 2017
Tentang Rina Nose
Saya tidak kenal mbak Rina, bahkan bertemu pun belum pernah. Saya hanya baru melihat dia di layar kaca, ketika memandu sebuah acara. Sebatas itu saja yang yang saya tahu tentang seorang Rina Nose. Rina yang terkenal karena hidung peseknya, yang kemudian membuat dia jadi memiliki nama panggung Rina Nose, Rina Hidung. Mbak Rina itu pandai melucu dan suaranya bagus dan juga pintar menyanyi. Jadi, saya akan menyampaikan uneg-uneg saya sebatas sepengetahuan saya tentang Mbak Rina Nose ini.
Mbak Rina adalah artis yang semula memang tidak mengenakan kerudung dalam kesehariannya. Hingga kemudian di pertengahan tahun 2016, Mbak Rina memutuskan untuk mengenakan kerudung dalam kesehariannya karena "katanya" setelah pencariannya selama 2-3 tahun, membuat hatinya mantap untuk merubah penampilannya tersebut. Menurut sebagian besar orang, perubahan penampilannya ini membuat Mbak Rina dinilai lebih religius dibanding sebelumnya padahal menurut saya, itu hanya masalah penampilan saja, esensi religiusitas bukan disitu.
Sekitar setahun kemudian, yaitu beberapa hari yang lalu, Mbak Rina yang dinilai sebagian besar orang sudah menjadi lebih religius karena kerudungnya, memutuskan untuk tidak lagi mengenakan kerudung dalam kesehariannya (lagi), sama seperti dulu. Hal ini menimbulkan kekecewaan buat sebagian orang yang sebelumnya memuji Mbak Rina dengan kerudungnya. Dan menurut saya, apa yang membuatnya kecewa? Ya karena mereka menganggap penampilan Mbak Rina itu sebagai tolok ukur religiusitasnya itu tadi.
Wahai, buat saya Mbak Rina adalah manusia biasa, tempatnya salah dan lupa. Dan masih ingatkah kamu, hati manusia itu gampang sekali dibolak-balikkan, jadi menjadi sangat wajar ketika Mbak Rina tiba-tiba memakai kerudung, lalu menjadi tidak. Jangankan kerudung, banyak orang yang semula rajin sembahyang, bisa berubah menjadi orang lain yang sangat-sangat berbeda bahkan tidak sholat sama sekali. Jadi, saya rasa perubaha Mbak Rina ini tidak usah terlalu diributkan.
Mbak Rina adalah artis yang semula memang tidak mengenakan kerudung dalam kesehariannya. Hingga kemudian di pertengahan tahun 2016, Mbak Rina memutuskan untuk mengenakan kerudung dalam kesehariannya karena "katanya" setelah pencariannya selama 2-3 tahun, membuat hatinya mantap untuk merubah penampilannya tersebut. Menurut sebagian besar orang, perubahan penampilannya ini membuat Mbak Rina dinilai lebih religius dibanding sebelumnya padahal menurut saya, itu hanya masalah penampilan saja, esensi religiusitas bukan disitu.
Sekitar setahun kemudian, yaitu beberapa hari yang lalu, Mbak Rina yang dinilai sebagian besar orang sudah menjadi lebih religius karena kerudungnya, memutuskan untuk tidak lagi mengenakan kerudung dalam kesehariannya (lagi), sama seperti dulu. Hal ini menimbulkan kekecewaan buat sebagian orang yang sebelumnya memuji Mbak Rina dengan kerudungnya. Dan menurut saya, apa yang membuatnya kecewa? Ya karena mereka menganggap penampilan Mbak Rina itu sebagai tolok ukur religiusitasnya itu tadi.
Wahai, buat saya Mbak Rina adalah manusia biasa, tempatnya salah dan lupa. Dan masih ingatkah kamu, hati manusia itu gampang sekali dibolak-balikkan, jadi menjadi sangat wajar ketika Mbak Rina tiba-tiba memakai kerudung, lalu menjadi tidak. Jangankan kerudung, banyak orang yang semula rajin sembahyang, bisa berubah menjadi orang lain yang sangat-sangat berbeda bahkan tidak sholat sama sekali. Jadi, saya rasa perubaha Mbak Rina ini tidak usah terlalu diributkan.
Permasalahan yang terjadi kemudian adalah disebabkan oleh posisi Mbak Rina yang dianggap sebagai figur publik yang banyak memiliki pengaruh terhadap khalayak ramai yang mungkin banget akan menjadikan Mbak Rina sebagai teladan. Well, dalam hal ini saya memandang permasalahan ini dari sisi orang tua. PR buat orang tua adalah memberikan teladan kepada anak-anaknya dan mengenalkan sosok yang tepat menjadi teladan, yaitu Rasulullah SAW. Kita sendiri harus memberikan contoh tersebut, jangan menjadikan artis atau manusia lain sebagai teladan, teladan terbaik adalah Rasulullah. Titik. Panduan hidup kita adalah Alquran dan Assunah, bukan gaya hidup artis.
Jadi untuk kawan-kawan yang ribut dengan perncopotan kerudung Mbak Rina, ayo fokus dengan menjaga anak-anak kita, fokus menjaga keluarga kita supaya tidak melencengkan keteladanan kepada yang tidak seharusnya. Suri tauladan kita adalah Rasulullah, bukan yang lain :)
Saturday, 11 November 2017
Memikirkan Pendidikan Anak
Semenjak anak saya mogok sekolah beberapa tahun yang lalu, yang dimulai tepat di saat dia seharusnya pindah ke TK B, saya mulai melirik homeschooling. Sekolah rumah, dimana sekolahnya adalah rumahnya dan rumahnya adalah sekolahnya. Dia bisa belajar apa saja, dimana saja, dengan siapa saja dan kapan saja. Saya sangat tertarik dengan konsep ini, karena sesungguhnya memang kita bisa belajar apa saja, kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja, itu sudah sunatullah sejak manusia dilahirkan sampai nantinya manusia meninggal dunia.
Namun, setelah melihat beberapa keluarga yang menerapkan HS, saya menjadi sedikit minder. Karena mereka terlihat sangat keren. Orang tua yang terlibat terlihat sangat kreatif, inovatif dan mumpuni, anak-anaknya terlihat sangat cerdas dan berprestasi. Saya jadi otomatis mempertanyakan kapasitas saya sendiri, bisa nggak saya seperti itu? Bisa nggak saya membuat anak-anak saya mengoptimalkan kemampuannya. Saya menjadi sedikit takut.
Saya mulai memikirkan gambaran besarnya. Okelah, untuk materi pelajaran tingkat SD, saya yakin saya dan ayahnya bisa mengajari mereka karena saya yakin kami menguasai dengan baik materi tingkat dasar itu, namun untuk tingkat SMP dan selanjutnya, saya masih sangat ragu. Oleh karena itu, saya menyusun rencana dimana HS hanya akan kami terapkan kepada mereka sampai mereka mendapatkan ijazah setingkat SD-nya dan selanjutnya berlanjut ke sekolah formal. Bisa seperti itu? Dari yang saya baca, hal tersebut sangat mungkin, karena jika kita melaksanakan HS dengan metode schooling at home, maka sebenarnya yang mereka pelajari adalah mirip seperti sekolah formal pada umumnya, hanya saja berbeda metode dan untuk ijazahnya, mereka dapat mengikuti ujian kesetaraan seperti paket A, B dan C.
Tantangan kedua adalah, ternyata mengajarkan sesuatu kepada anak adalah bukan perkara mudah. Anak-anak seperti spons kering yang menyerap air, cepat sekali mereka belajar, namun...dibalik semua itu, anak-anak juga seperti balon udara, imajinasinya terlampau tinggi jika dibandingkan dengan orang tua, sehingga ketika kita mencoba mengajarkan sesuatu, imajinasi mereka bisa membuat bahan ajar kita melenceng sangat jauh ketika disampaikan. Itu bukan hal yang buruk, karena secara alamiah anak-anak memang akan mempertanyakan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Tuntun mereka ke jalan yang benar, itu kuncinya.
Tantangan berikutnya adalah lingkungan. Lingkungan kita masih terkungkung pada pola pikir bahwa untuk mendapatkan ilmu, anak-anak harus sekolah. Dan sekolah di pikiran mereka adalah sekolah formal saja titik. Itu yang membuat keluarga HS harus memiliki tekad yang kuat, prinsip yang kokoh dan hati yang sabar. Mulai dari menjelaskan konsep pendidikan, konsep HS sampai bahkan pada pola pikir masyarakat dan semuanya. Tak jarang masyarakat akan menilai "aneh" kepada keluarga HS, karena dianggap membiarkan anak-anaknya tanpa pendidikan, atau dianggap kikir karena tidak mau mengeluarkan uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Well, dan masyarakat itu termasuk juga adalah keluarga besar, kakek nenek mereka pasti akan bertanya-tanya ketika cucu-cucu kesayangan mereka tidak bersekolah seperti anak-anak lain. Siapkan mental dan jawaban yang kuat untuk ini. Buat saya, ini masih menjadi PR besar, karena orang tua kami adalah kepala sekolah. Hiks. Dan payahnya, saya yang masih memiliki rasa takut tidak bisa mengajarkan yang terbaik buat anak-anak saya, malah jadi labil antara tetap melaksanakan HS atau memaksa anak saya untuk masuk sekolah formal.
Secara pemikiran, saya lebih cenderung tetap melaksanakan HS untuk anak saya, hal-hal negatif tentang HS yang sering dipertanyakan masyarakat tidak menjadi masalah buat saya dan menurut saya hal-hal itu bisa dijawab dengan mudah oleh HS, bahkan malah menjadikannya nilai tambah. Misalnya tentang pergaulan anak HS yang dianggap kurang pergaulan atau kuper. Well, satu satunya kekurangan anak HS dalam pergaulan adalah bahwa mereka tidak memiliki teman sekolah. Dan menurut saya itu tidak menjadi masalah, karena sebetulnya dalam dunia nyata pun, pergaulan itu tidak memandang usia, pekerjaan, suku dan ras, agama bahkan dimana dia bersekolah. Di masyarakat kita diharuskan bisa bergaul dengan manusia dari semua latar belakang dan usia, ya kan? Jadi HS menurut saya masih lebih bagus. Yang membuat saya ragu hanyalah kapasitas saya, dan sepertinya saya bisa jika saya mau berusaha.
Ada saran?
Namun, setelah melihat beberapa keluarga yang menerapkan HS, saya menjadi sedikit minder. Karena mereka terlihat sangat keren. Orang tua yang terlibat terlihat sangat kreatif, inovatif dan mumpuni, anak-anaknya terlihat sangat cerdas dan berprestasi. Saya jadi otomatis mempertanyakan kapasitas saya sendiri, bisa nggak saya seperti itu? Bisa nggak saya membuat anak-anak saya mengoptimalkan kemampuannya. Saya menjadi sedikit takut.
Saya mulai memikirkan gambaran besarnya. Okelah, untuk materi pelajaran tingkat SD, saya yakin saya dan ayahnya bisa mengajari mereka karena saya yakin kami menguasai dengan baik materi tingkat dasar itu, namun untuk tingkat SMP dan selanjutnya, saya masih sangat ragu. Oleh karena itu, saya menyusun rencana dimana HS hanya akan kami terapkan kepada mereka sampai mereka mendapatkan ijazah setingkat SD-nya dan selanjutnya berlanjut ke sekolah formal. Bisa seperti itu? Dari yang saya baca, hal tersebut sangat mungkin, karena jika kita melaksanakan HS dengan metode schooling at home, maka sebenarnya yang mereka pelajari adalah mirip seperti sekolah formal pada umumnya, hanya saja berbeda metode dan untuk ijazahnya, mereka dapat mengikuti ujian kesetaraan seperti paket A, B dan C.
Tantangan kedua adalah, ternyata mengajarkan sesuatu kepada anak adalah bukan perkara mudah. Anak-anak seperti spons kering yang menyerap air, cepat sekali mereka belajar, namun...dibalik semua itu, anak-anak juga seperti balon udara, imajinasinya terlampau tinggi jika dibandingkan dengan orang tua, sehingga ketika kita mencoba mengajarkan sesuatu, imajinasi mereka bisa membuat bahan ajar kita melenceng sangat jauh ketika disampaikan. Itu bukan hal yang buruk, karena secara alamiah anak-anak memang akan mempertanyakan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Tuntun mereka ke jalan yang benar, itu kuncinya.
Tantangan berikutnya adalah lingkungan. Lingkungan kita masih terkungkung pada pola pikir bahwa untuk mendapatkan ilmu, anak-anak harus sekolah. Dan sekolah di pikiran mereka adalah sekolah formal saja titik. Itu yang membuat keluarga HS harus memiliki tekad yang kuat, prinsip yang kokoh dan hati yang sabar. Mulai dari menjelaskan konsep pendidikan, konsep HS sampai bahkan pada pola pikir masyarakat dan semuanya. Tak jarang masyarakat akan menilai "aneh" kepada keluarga HS, karena dianggap membiarkan anak-anaknya tanpa pendidikan, atau dianggap kikir karena tidak mau mengeluarkan uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Well, dan masyarakat itu termasuk juga adalah keluarga besar, kakek nenek mereka pasti akan bertanya-tanya ketika cucu-cucu kesayangan mereka tidak bersekolah seperti anak-anak lain. Siapkan mental dan jawaban yang kuat untuk ini. Buat saya, ini masih menjadi PR besar, karena orang tua kami adalah kepala sekolah. Hiks. Dan payahnya, saya yang masih memiliki rasa takut tidak bisa mengajarkan yang terbaik buat anak-anak saya, malah jadi labil antara tetap melaksanakan HS atau memaksa anak saya untuk masuk sekolah formal.
Secara pemikiran, saya lebih cenderung tetap melaksanakan HS untuk anak saya, hal-hal negatif tentang HS yang sering dipertanyakan masyarakat tidak menjadi masalah buat saya dan menurut saya hal-hal itu bisa dijawab dengan mudah oleh HS, bahkan malah menjadikannya nilai tambah. Misalnya tentang pergaulan anak HS yang dianggap kurang pergaulan atau kuper. Well, satu satunya kekurangan anak HS dalam pergaulan adalah bahwa mereka tidak memiliki teman sekolah. Dan menurut saya itu tidak menjadi masalah, karena sebetulnya dalam dunia nyata pun, pergaulan itu tidak memandang usia, pekerjaan, suku dan ras, agama bahkan dimana dia bersekolah. Di masyarakat kita diharuskan bisa bergaul dengan manusia dari semua latar belakang dan usia, ya kan? Jadi HS menurut saya masih lebih bagus. Yang membuat saya ragu hanyalah kapasitas saya, dan sepertinya saya bisa jika saya mau berusaha.
Ada saran?
Subscribe to:
Posts (Atom)