Showing posts with label nostalgia. Show all posts
Showing posts with label nostalgia. Show all posts

Friday, 28 March 2014

Krai oh Krai

Di post gue mengenai pecel dan juga di post Mbak Endang di JTT mengenai sambel pecel beberapa kali tersebut kata "krai". Apakah itu?

Krai adalah sayuran sejenis mentimun. Menurut gue, bedanya krai sama mentimun adalah selain kulitnya yang beda motif, juga beda di aroma, rasa dan tekstur.

Bentuknya adalah seperti ini :
Sumber gambar : Antara Foto

Entah mengapa sayuran ini ga mengglobal. Padahal enak dan serbaguna. Selama gue melanglang buana ke Jakarta, ke rumah mertua di Cirebon, ga nemu pun sayuran ini.

Dulu semasa kecil, biasanya gue memakannya dengan cara menyerutnya kemudian menyiramnya dengan bumbu pecel. Dimakan pakai "opak upil", Hm,,,,yummy!! Bahkan waktu gue masih SD, ada yang jualan "pecel krai" ini di sekolah. Opak upil adalah kerupuk dari tepung kanji dengan bumbu bawang putih dan garam doang, trus digorengnya pakai pasir.

Ada cara makan pecel yang asyik. Berlaku untuk semua jenis pecel, baik pakai krai maupun pakai sayuran lainnya. Namanya "opak gapit".
Begini caranya : Siapkan bahan-bahan berupa 2 buah kerupuk, sayuran dan sambel pecel siap pakai. Taruh sayuran di atas salah satu kerupuk, siram dengan sambel dan tutup dengan kerupuk lagi. Yes, mirip burger. Trus, makan deh,,,, mak nyooosssss.... Ini jajanan gue waktu SD dulu :), favorit kedua setelah "karak goreng".

Selain dimakan dengan cara seperti di atas. Biasanya ibuk mengolahnya menjadi berbagai macam masakan. Seperti : Tumis Krai, Jangan Krai (Sayuh lodeh), Sayur Asem Krai, Kulup Krai (kulup adalah sebutan sayuran yang telah dimasak, bisa untuk pecel atau untuk urap2), dan yang paling markotop biasanya adalah Krai Godog (krai direbus sampai lunak, gitu aja. Trus bisa dimakan gitu aja atau dicocol pakai sambel pecel). :)

Semasa gue kecil krai ini dipercaya bisa jadi penambah tekanan darah, berkebalikan dengan mentimun yang terkenal dengan khasiatnya menurunkan tekanan darah. Fakta atau mitos tuh? Gue ga tau,,hahaha. :D.

Demikian sekilas inpoh mengenai Krai. Mungkin di daerah lain namanya bukan Krai ya, nah, kalo ada yang punya inpoh mengenai adanya Krai ini di Jakarta dan sekitarnya, kasitau yak,,,supaya kalo kangen ga perlu jauh2 impor dari Jawa Timur,,hehe.

(Masih) Nostalgia : Pecel

Mungkin tak ada yang asing ketika mendengar kata "pecel". Makanan yang terdiri dari sayuran rebus yang disiram dengan kuah kacang. Kuah kacang ini biasa disebut dengan "sambel pecel", "bumbu pecel" atau kalo dulu di kampung gue disebutnya "sambel kacang".

Banyak daerah yang memiliki pecel, sebut saja Blitar, Malang, Solo, Madiun dan tentu saja kampung halaman gue, Ngawi. Misal suatu saat kalian naik kereta dan melewati stasiun Madiun, pastikan disana bertebaran para penjual "sego pecel". Hmmm,,,,enaaakkk.

Meskipun sama-sama pecel, cita rasa dan resep masing-masing daerah ini berbeda semua. Haha. Ciyus. Ada yang di resepnya pakai daun jeruk purut, ada yang pakai kencur, ada yang ga pakai dua-duanya. Yang membedakan lagi menurut gue adalah tingkat rasa yang diunggulkan. Ada yang lebih kuat di manis, ada yang lebih kuat di asin. Dan yang mana yang paling enak? Enak itu relatif, tapi buat gue, enak itu adalah rasa yang penuh kenangan. Pecel terenak versi gue adalah pecel yang gue makan sewaktu gue masih kecil dulu. Pecel Ngawi. :)

Orang yang pertama kali datang ke kampung gue, salah satu yang akan diherankan adalah menu makanannya. Why?

Di kampung gue itu, pecel is number one. Haha. Subuh-subuh orang-orang udah pada sarapan. Pakai? Sego pecel. Siang makan. Pakai? Sego pecel. Sore or malam makan. Pakai? Sego pecel. Pokomen pecel is the best..wkwkwkwk. Ga bosen apa? Entah bagaimana caranya, sejauh ini ga ada yang bosan. Hebad!

Suami gue pas baru dateng ke sana juga gitu,,hehehehe,,sampai eneg ngeliat pecel. Trus pas teman masa kecilku menikah, dapet suami orang Makassar, ceritanya juga sama. Selain keheranan bahwa di kampung kami sinyal HP itu langka, dia juga sangat heran dengan menu makan yang pecel and pecel... :D

Beklah, mungkin jadi pada penasaran ya sama pecel Ngawi ini? Bagi yang kepengen bingits,,,bisa berkunjung ke Blognya Mbak Endang : Just Try and Taste untuk nyontek resepnya. :)


Dan kebetulan gue ada juga resep yang pernah di-SMS oleh ibuk, boleh juga contek resep di bawah ini :

Bahan :
250 gr kacang tanah
5 siung bawang putih
5 sdm gula pasir
1 sdm garam
100 gr cabe
2 biji asam jawa, buang bijinya.
2 lembar daun jeruk purut

Cara membuat :
  • Goreng kacang tanah sampai matang.
  • Goreng bawang putih dan cabe sampai empuk.
  • Campur semua bahan lalu deplok (dihaluskan dengan lumpang dan alu). Ya kalo jaman sekarang ya diblender wae lah,,wkwkwkwk...
  • Selesai.
 Ada satu penjual pecel yang gue favoritkan waktu kecil, yaitu Sego Pecel Pak Daud. Pak Daud adalah tukang parkir di pasar, istrinya jualan nasi pecel. Yang membedakan pecel ini dengan saingannya adalah, pecelnya dibuat dengan gula merah dan rasa lebih manis, trus di sayurannya ada tambahan lamtoro, kecambah kacang ijo dan kemangi. Duh harumnyaaaa,,bikin tambah uenak,,,

Sayangnya rumah Pak Daud ini ga sedekat warung-warung nasi pecel yang lain dari rumahku, jadi yang melegenda di rumahku adalah "sego pecel mbah Mun", "sego pecel mbok dhe Dinem" sama "sego pecel yu Ninthing". Ninthing itu nama aslinya siapa gue udah lupa, tapi semua orang manggilnya Ninthing :)

Pas gue hamil. Gue seringnya ngidam makanan semasa kecil. Pas kepengen pecel, ibuk ngekspor sambel pecel, krai dan kedele mentah langsung dari kebon ke rumah gue. Sebab gue ngidam "dele godog", "karak goreng" dan pecel krai. Rempong deh, makanan apa tuh! (kapan-kapan gue ceritain).

Daaannn,,,pas hamil beberapa bulan lalu, adikku yang ada di Riau, ngidam pecel yu Ninthing ini. Wkwkwkwk..akhirnya di eksporlah sambel pecel yu Ninthing berikut rempeyek buatannya ke Riau.

Subhanallah...
Indahnya masa kecil yak... :)

Thursday, 27 March 2014

Nostalgia : Cemue :)

Sewaktu kecil dulu, gue ga kenal yang namanya makanan daerah. Masak? Iya, beneran. Ciyus deh. Di pikrian gue waktu itu, di seluruh dunia itu makanannya sama aja. Padahal gue sering nonton TV, tapi ya namanya gue ga tertarik soal perkulineran, jadi sebodo amat orang2 di TV pada makan apa. Hehe..

Tapi setelah gede, setelah merantau, gue baru tau bahwa ada makanan yang memang cuman ada di tempat-tempat tertentu. Pun kalo pun ada makanan dengan nama yang sama di daerah lain, rasanya tak akan pernah sama. Begitulah, sehingga timbul yang namanya kangen makanan daerah asal...seperti rasanya kangen suasana masa lalu. Sweet banget rasanya...

Dan hari ini tiba-tiba gue melow,,,

Padahal cuman gara-gara baca ini : Wedang Cemue

Gue jadi kangen masa-masa kecil gue. Sore-sore, hujan-hujan, minum cemue. Biasanya sebelumnya gue harus naek sepeda onthel dulu ke warung buat beli minuman ini. Dulu di kampung gue, banyak warung-warung yang jual. Apalagi kalo bulan ramadhan, warung-warung yang sehari-harinya ga jualan pun jadi ikutan jualan cemue ini.

Kalo di kampung gue, warung itu artinya adalah kedai. Ya warung itu adalah suatu tempat jualan yang dagangannya adalah makanan (biasanya gorengan atau gethuk-gethukan) dan minuman (biasanya kopi, teh, jamu, anggur kolesom, dan macem2 es, seperti es buah, es temulawak, es sirup, es kolak, es kacang ijo, dll). Itu namanya warung.

Kalo yang dagangannya selain itu, itu namanya toko. Huwehehehehe.

Ciyus. Jadi jangan sampai bilang beli gula di warung kalo lagi berada di kampung gue, ntar mereka bingung,,itu warungnya siapa yang jual gula? Getoohh.

Back to cemoe. Ibuk juga sering bikin buat menu buka puasa. Menurut gue, cemue itu enaaaaaaaakkk tenan, mungkin ini yang namanya rasa rasa kangen yah,,, :,)

Beklah, ini resep yang gue copy dari link tadi :
Sumber gambar dari sini
 Bahan :

  • 3 lembar roti tawar, potong kotak kecil
  • 3 cangkir air putih
  • 1 cangkir santan kental
  • 3 sdm gula pasir
  • jahe sebesar ibu jari tangan, dikeprek
  • sejumput garam
  • daun pandan, remas-remas, ikat
Untuk taburan :

  • bawang merah goreng
  • kacang tanah kupas yang digoreng, bisa juga menggunakan kacang bawang atau kacang kulit kemasan yang dikupas hingga ke kulit tipisnya.
Cara Membuat :

  1. Rebus air dengan gula, garam, jahe, dan daun pandan. Gunakan api kecil. Aduk hingga gula larut
  2. Tambahkan santan, aduk agar tidak pecah, didihkan, matikan api
  3. Tuang kuah santan ke gelas saji, beri irisan roti secukupnya, taburi bawang goreng dan kacang, sajikan hangat.
Jangan ragu dengan perpaduan santan dan bawang goreng ya, Ma. Justru itu letak keunikan dan nikmatnya minuman ini. Semoga bisa menjadi alternatif menu buka puasa, selamat mencoba.

Pernah sekali gue bikin. Dulu, sebelum gue menemukan resep ini.
Saat itu yang ada di pikiran gue adalah kangen rumah, trus kebetulan gue ngeliat ada roti tawar dan santan instan di dapur. Pas banget di meja tamu gue ada kacang bawang. Hm,,iseng-iseng gue bikin. Cemue ala ibuk. Sama dengan resep di atas, hanya tanpa takaran, tanpa jahe dan pandan. Sesimpel itu.

Gue tidak menemukan rasa kampung gue,,,dan gue masih tetap kangen. :,)

Cemue, jangan bobor, bothok-bothokan, oblok-oblok, pecel,sambel kambil (yang pakae genteng bakar),,,semuanyaaaa...

Di Jakarta memang mungkin ada, tapi tidak akan pernah sama. :,)

Bonus :
Berita Ngawi 
Tentang Ngawi