Showing posts with label masa kecil. Show all posts
Showing posts with label masa kecil. Show all posts

Wednesday, 4 October 2017

Kelakuanmu Waktu Kecil Gimana?

Barusan aku membuat status di lama facebook-ku tentang kelakuan masa kecil dan hubungannya dengan bisnis yang dijalankan di masa sekarang.

Ya, aku buat status seperti ini :

Setiap kami ngobrol kakak beradik, pasti ada sesi ledek-ledekan, adek gue yang paling kecil diledek karena dulunya sering komplain masalah warna kulit dan rambutnya yang tipis ke ibuk, dan kakak pertama beruntung jarang diejek, mungkin karena dia sudah tua,,hahahahahahaha
Kakak kedua diejek karena gayanya yang sok kece sejak dari kecil. Dulu waktu kecil setiap beli barang baru, ngacaaaa mulu,,dengan berbagai gaya, tiduran kaki di atas, berdiri kaki diangkat dan seterusnya..
Sampai kemudian, dia bikin kaos. Gue bilang bikin kaos yang lucu-lucu aja, yang kekinian gitu..
Dia gak mau, kekeuh bilang, "Kalo aku mau bikin kaos, sekalian yang bagus, kualitasnya harus bagus, gak mau lah setengah-setengah"
Dan dia membuktikan omongannya dengan memulai bisnis kaos, bikin web sendiri, masukin ke lazada juga, offline juga..
Harganya murah banget pulak,,,coba deh cek, soalnya lagi promo ulang tahun tuh...
http://jointoriginal.com/

Hahahaha

Sebetulnya kalo versi utuhnya, memang ternyata bisnis yang kami jalankan sekarang itu gak jauh-jauh dari kelakuan masa kecil kami.

Kakak pertama. Seingat aku, kakak pertamaku itu hobinya bikin bikin karya seni misalnya lukisan, kaligrafi gitu. Nah, sekarang kerjaane opo? Sekarang dia adalah fotografer dan tukang edit foto.

Kakak kedua. Kakak kedua ini anak yang paling peduli sama penampilannya. Dulu waktu kecil nih, kalo habis beli sepatu, itu sepatu gak boleh tersentuh lantai sebelum dia benar-benar memakainya untuk ke sekolah. Dan sepatu itu akan dipakai ngaca dengan berbagai gaya, sambil berdiri kaki diangkat, tiduran kaki di atas dari depan, tiduran kaki diatas dari samping, dari belakang, dah pokoknya sampai yang liat malessssss... Beli baju juga ngaca terusss...
Nah, sekarang bisnisnya apa? Ya seperti yang aku sebutin di status facebook aku tadi, dia sedang menjalankan bisnis clothing, jualan kaos yang dia buat sendiri. Seideal mungkin.

Adek. Adekku itu waktu kecil hobine protes. Hahahaha. Nggak bukan itu yang sorotin. Adekku itu hobinya nyanyi, dia sempat jadi vokalis gitu di grup rebana masjid kampung, hehehehehehe. Trus bisnisnya apa sekarang? Bisnisnya jadi pedagang gembreng. Hahahahahaha. Lhah kok pedagang? Iya lah, pedagang itu membutuhkan kemampuan berkoar-koar dan saking kencengnya sampai kayak gembreng. Oke ini mulai memaksakan kehendak, hahahaha. Cukup.

Kalo aku sendiri?

Yeah, dari kecil hobiku makan dan tidur. Makanan favorit krupuk sambel. Bisnis sekarang? Ya jelas bakulan sambel to yoooo....

Wes ngono wae, intinya kebanyakan pilihan bisnis yang kita jalani sekarang adalah pilihan kita. Kembali ke pilihan kita, yang bahkan sejak kita kecil sudah kita pilih :)

Hayooo...kelakuanmu waktu kecil gimana?

Friday, 28 March 2014

(Masih) Nostalgia : Pecel

Mungkin tak ada yang asing ketika mendengar kata "pecel". Makanan yang terdiri dari sayuran rebus yang disiram dengan kuah kacang. Kuah kacang ini biasa disebut dengan "sambel pecel", "bumbu pecel" atau kalo dulu di kampung gue disebutnya "sambel kacang".

Banyak daerah yang memiliki pecel, sebut saja Blitar, Malang, Solo, Madiun dan tentu saja kampung halaman gue, Ngawi. Misal suatu saat kalian naik kereta dan melewati stasiun Madiun, pastikan disana bertebaran para penjual "sego pecel". Hmmm,,,,enaaakkk.

Meskipun sama-sama pecel, cita rasa dan resep masing-masing daerah ini berbeda semua. Haha. Ciyus. Ada yang di resepnya pakai daun jeruk purut, ada yang pakai kencur, ada yang ga pakai dua-duanya. Yang membedakan lagi menurut gue adalah tingkat rasa yang diunggulkan. Ada yang lebih kuat di manis, ada yang lebih kuat di asin. Dan yang mana yang paling enak? Enak itu relatif, tapi buat gue, enak itu adalah rasa yang penuh kenangan. Pecel terenak versi gue adalah pecel yang gue makan sewaktu gue masih kecil dulu. Pecel Ngawi. :)

Orang yang pertama kali datang ke kampung gue, salah satu yang akan diherankan adalah menu makanannya. Why?

Di kampung gue itu, pecel is number one. Haha. Subuh-subuh orang-orang udah pada sarapan. Pakai? Sego pecel. Siang makan. Pakai? Sego pecel. Sore or malam makan. Pakai? Sego pecel. Pokomen pecel is the best..wkwkwkwk. Ga bosen apa? Entah bagaimana caranya, sejauh ini ga ada yang bosan. Hebad!

Suami gue pas baru dateng ke sana juga gitu,,hehehehe,,sampai eneg ngeliat pecel. Trus pas teman masa kecilku menikah, dapet suami orang Makassar, ceritanya juga sama. Selain keheranan bahwa di kampung kami sinyal HP itu langka, dia juga sangat heran dengan menu makan yang pecel and pecel... :D

Beklah, mungkin jadi pada penasaran ya sama pecel Ngawi ini? Bagi yang kepengen bingits,,,bisa berkunjung ke Blognya Mbak Endang : Just Try and Taste untuk nyontek resepnya. :)


Dan kebetulan gue ada juga resep yang pernah di-SMS oleh ibuk, boleh juga contek resep di bawah ini :

Bahan :
250 gr kacang tanah
5 siung bawang putih
5 sdm gula pasir
1 sdm garam
100 gr cabe
2 biji asam jawa, buang bijinya.
2 lembar daun jeruk purut

Cara membuat :
  • Goreng kacang tanah sampai matang.
  • Goreng bawang putih dan cabe sampai empuk.
  • Campur semua bahan lalu deplok (dihaluskan dengan lumpang dan alu). Ya kalo jaman sekarang ya diblender wae lah,,wkwkwkwk...
  • Selesai.
 Ada satu penjual pecel yang gue favoritkan waktu kecil, yaitu Sego Pecel Pak Daud. Pak Daud adalah tukang parkir di pasar, istrinya jualan nasi pecel. Yang membedakan pecel ini dengan saingannya adalah, pecelnya dibuat dengan gula merah dan rasa lebih manis, trus di sayurannya ada tambahan lamtoro, kecambah kacang ijo dan kemangi. Duh harumnyaaaa,,bikin tambah uenak,,,

Sayangnya rumah Pak Daud ini ga sedekat warung-warung nasi pecel yang lain dari rumahku, jadi yang melegenda di rumahku adalah "sego pecel mbah Mun", "sego pecel mbok dhe Dinem" sama "sego pecel yu Ninthing". Ninthing itu nama aslinya siapa gue udah lupa, tapi semua orang manggilnya Ninthing :)

Pas gue hamil. Gue seringnya ngidam makanan semasa kecil. Pas kepengen pecel, ibuk ngekspor sambel pecel, krai dan kedele mentah langsung dari kebon ke rumah gue. Sebab gue ngidam "dele godog", "karak goreng" dan pecel krai. Rempong deh, makanan apa tuh! (kapan-kapan gue ceritain).

Daaannn,,,pas hamil beberapa bulan lalu, adikku yang ada di Riau, ngidam pecel yu Ninthing ini. Wkwkwkwk..akhirnya di eksporlah sambel pecel yu Ninthing berikut rempeyek buatannya ke Riau.

Subhanallah...
Indahnya masa kecil yak... :)

Thursday, 27 March 2014

Nostalgia : Cemue :)

Sewaktu kecil dulu, gue ga kenal yang namanya makanan daerah. Masak? Iya, beneran. Ciyus deh. Di pikrian gue waktu itu, di seluruh dunia itu makanannya sama aja. Padahal gue sering nonton TV, tapi ya namanya gue ga tertarik soal perkulineran, jadi sebodo amat orang2 di TV pada makan apa. Hehe..

Tapi setelah gede, setelah merantau, gue baru tau bahwa ada makanan yang memang cuman ada di tempat-tempat tertentu. Pun kalo pun ada makanan dengan nama yang sama di daerah lain, rasanya tak akan pernah sama. Begitulah, sehingga timbul yang namanya kangen makanan daerah asal...seperti rasanya kangen suasana masa lalu. Sweet banget rasanya...

Dan hari ini tiba-tiba gue melow,,,

Padahal cuman gara-gara baca ini : Wedang Cemue

Gue jadi kangen masa-masa kecil gue. Sore-sore, hujan-hujan, minum cemue. Biasanya sebelumnya gue harus naek sepeda onthel dulu ke warung buat beli minuman ini. Dulu di kampung gue, banyak warung-warung yang jual. Apalagi kalo bulan ramadhan, warung-warung yang sehari-harinya ga jualan pun jadi ikutan jualan cemue ini.

Kalo di kampung gue, warung itu artinya adalah kedai. Ya warung itu adalah suatu tempat jualan yang dagangannya adalah makanan (biasanya gorengan atau gethuk-gethukan) dan minuman (biasanya kopi, teh, jamu, anggur kolesom, dan macem2 es, seperti es buah, es temulawak, es sirup, es kolak, es kacang ijo, dll). Itu namanya warung.

Kalo yang dagangannya selain itu, itu namanya toko. Huwehehehehe.

Ciyus. Jadi jangan sampai bilang beli gula di warung kalo lagi berada di kampung gue, ntar mereka bingung,,itu warungnya siapa yang jual gula? Getoohh.

Back to cemoe. Ibuk juga sering bikin buat menu buka puasa. Menurut gue, cemue itu enaaaaaaaakkk tenan, mungkin ini yang namanya rasa rasa kangen yah,,, :,)

Beklah, ini resep yang gue copy dari link tadi :
Sumber gambar dari sini
 Bahan :

  • 3 lembar roti tawar, potong kotak kecil
  • 3 cangkir air putih
  • 1 cangkir santan kental
  • 3 sdm gula pasir
  • jahe sebesar ibu jari tangan, dikeprek
  • sejumput garam
  • daun pandan, remas-remas, ikat
Untuk taburan :

  • bawang merah goreng
  • kacang tanah kupas yang digoreng, bisa juga menggunakan kacang bawang atau kacang kulit kemasan yang dikupas hingga ke kulit tipisnya.
Cara Membuat :

  1. Rebus air dengan gula, garam, jahe, dan daun pandan. Gunakan api kecil. Aduk hingga gula larut
  2. Tambahkan santan, aduk agar tidak pecah, didihkan, matikan api
  3. Tuang kuah santan ke gelas saji, beri irisan roti secukupnya, taburi bawang goreng dan kacang, sajikan hangat.
Jangan ragu dengan perpaduan santan dan bawang goreng ya, Ma. Justru itu letak keunikan dan nikmatnya minuman ini. Semoga bisa menjadi alternatif menu buka puasa, selamat mencoba.

Pernah sekali gue bikin. Dulu, sebelum gue menemukan resep ini.
Saat itu yang ada di pikiran gue adalah kangen rumah, trus kebetulan gue ngeliat ada roti tawar dan santan instan di dapur. Pas banget di meja tamu gue ada kacang bawang. Hm,,iseng-iseng gue bikin. Cemue ala ibuk. Sama dengan resep di atas, hanya tanpa takaran, tanpa jahe dan pandan. Sesimpel itu.

Gue tidak menemukan rasa kampung gue,,,dan gue masih tetap kangen. :,)

Cemue, jangan bobor, bothok-bothokan, oblok-oblok, pecel,sambel kambil (yang pakae genteng bakar),,,semuanyaaaa...

Di Jakarta memang mungkin ada, tapi tidak akan pernah sama. :,)

Bonus :
Berita Ngawi 
Tentang Ngawi