Showing posts with label odop. Show all posts
Showing posts with label odop. Show all posts

Monday, 30 October 2017

Manusia Tanpa Kartu

Semua warga kampung sini memanggilnya Fulan, walaupun sebenarnya, tidak ada satupun yang tahu nama aslinya. Rumahnya ada di ujung jalan setapak yang memisahkan rumahku dengan rumah kakekku, tepat berada di bawah rimbunan pohon bambu. Di sanalah setiap hari aku bermain dan mendengarkan dia bercerita tentang apapun yang kutahu sebagian besar ceritanya itu hanya ada di dalam kepalanya saja, tidak benar-benar ada di dunia nyata.

Paman Fulan orangnya sangat tampan, kulitnya putih dan matanya kebiru-biruan. Rambutnya coklat dan hidungnya sangat mancung, sangat berbeda dengan orang-orang di kampung kami yang berkulit cokelat gelap dan rambut hitam. Kalau mau tau seperti apa dia, kamu bisa lihat di televisi, dia itu mirip seperti Mike Lewis, tapi rambutnya cokelat dan matanya biru, itu saja. Saking miripnya sampai-sampai dulu aku mengira Paman Fulan bisa masuk ke dalam televisi. Cuma bentuk fisiknya saja yang membuatnya sangat berbeda, logat bicara dan tindak tanduknya sama saja dengan kebanyakan warga kampung kami. Tapi ada satu kelebihan Paman Fulan, yaitu dia sangat suka sekali bercerita, kurasa kalau dia sungguh-sungguh, dia bisa jadi juru dongeng paling hebat di seantero dunia. Karena ceritanya itu pulalah setiap hari aku rajin datang dan membantunya meraut bilah-bilah bambu tanpa dibayar.

Pagi ini aku sudah duduk rapih di depan ruman Paman Fulan, membawa pisau kecil untuk menghaluskan bilah-bilah bambu.

"Anak pintar, pagi-pagi sudah siap bekerja!" Paman Fulan keluar dari rumahnya masih berbungkus sarung.

"Iya Paman, hari ini aku mau mendengar ceritamu yang baru, dan seperti biasa, aku akan membantumu menghaluskan bilah-bilah bambu yang akan kau anyam ini," jawabku penuh semangat.

"Hari ini kita libur bekerja, Nak. Kamu duduk saja mendengarkan ceritaku, karena hari ini hari istimewa." Paman Fulan mengangkat aku dan mendudukkan aku di bale-bale yang ada di depan rumah bambunya, lalu dia masuk kembali ke dalam rumah kecilnya.

Tak lama kemudian Paman Fulan keluar membawa sebuah peti dan meletakkannya di depanku. Dibukanya dengan hati-hati peti itu lalu dikeluarkannya sebuah kain berwarna coklat yang berbentuk seperti baju penjaga hutan yang pernah aku lihat di televisi.

"Kamu tahu apa ini?" Aku menggeleng.

"Hari ini aku akan bercerita tentang baju ini. Baju ini sangat bersejarah dan penuh arti buat paman. Mungkin seumur hidup paman, baju ini akan tetap paman jaga. Nanti, kalau sewaktu-waktu paman meninggal, paman menitipkan wasiat besar padamu ya! Tolong ikutkan baju ini di kubur paman." Aku mengangguk riang, aku diberi wasiat penting! Meskipun aku tidak yakin Paman Fulan akan cepat mati, karena umurnya masih muda, kata ayahku, perkiraan umur Paman Fulan itu tiga puluhan, apakah mendekati tiga puluh atau empat puluh aku tak tahu, jadi kubilang umurnya tiga puluh lima tahun saja.

Aku menatap matanya yang biru berkilauan. Aku tahu Paman Fulan adalah orang yang sangat cerdas, aku pernah mendengar cerita kakekku tentang asal usul Paman Fulan. Bahwa suatu hari di kampung kami tiba-tiba muncul seseorang dari hutan yang terletak di ujung kampung. Dia hanya berdiri saja sepanjang hari di bawah pohon beringin di pasar, memperhatikan orang-orang lalu lalang. Anak-anak kecil, mengerumuninya karena keanehannya. Tubuhnya mirip seperti gembel gila, tanpa baju. Setelah tiga hari seperti itu, para tetua kampung membawanya ke kantor desa, membersihkannya, menggunduli rambutnya yang gimbal dan memberikannya pakaian. Ditanya apapun mulutnya hanya mengembangkan senyum yang sangat lebar, tanpa satu patah kata pun, sehingga warga kampung mengira dia bisu dan tuli. Lalu dia tinggal di pondok kecil ini, pondok yang sebelumnya adalah rumah nenek tua tanpa keluarga yang meninggal beberapa hari sebelum kedatangan Paman Fulan di kampung ini. Setiap hari dia duduk di pasar, memperhatikan orang-orang seperti sedang mempelajari sesuatu, dan benar, selang lima bulan sejak kedatangannya, tiba-tiba Paman Fulan bisa berbicara dan bertingkah layaknya manusia biasa. Paman Fulan sudah ada di rumah ini kurang lebih 10 tahun, aku rasa dia datang ke sini ketika aku dalam kandungan ibuku.

"Baju ini adalah milik seorang perempuan yang sangat mencintai hutan. Sepanjang hari sepanjang malam dia berkeliling hutan. Dibuatnya pondok kecil di atas pohon tempat dia tidur bersama burung-burung hantu dan juga monyet-monyet. Anjing-anjing hutan menjadi teman bermainnya sehari-hari. Dia sangat senang tinggal di hutan itu, hingga suatu hari, perempuan itu menemukan seorang laki-laki yang juga sangat mencintai hutan. Sama seperti dia, hanya saja, laki-laki ini belum tinggal di hutan."

"Apakah di hutan itu ada makanan?"

"Ya, di hutan banyak sekali makanan, ada sayuran, ada buah-buahan dan juga ada umbi-umbian. Kamu bisa membuat ikan bakar, membuat sate ayam dan juga membakar burung. Lezat sekali."

"Wow. Lalu perempuan dan laki-laki itu, apakah mereka memberikan bajunya padamu?"

"Iya, tapi dengarkan dulu ceritanya. Perempuan dan laki-laki itu kemudian menikah lalu bersama-sama tinggal di hutan. Tak lama perempuan itu mengandung seorang bayi. Sayangnya, ketika saat melahirkan, suaminya sedang pergi ke kota membeli kebutuhan dan tidak ada saat istrinya melahirkan. Dan ternyata, perempuan itu akhirnya harus meninggal karena kelahiran putranya tidak berjalan sebagaimana seharusnya." Paman Fulan tersenyum sangat samar.

"Lalu apakah anaknya masih hidup? Apakah anaknya bertemu dengan ayahnya?"

"Iya, anaknya masih hidup. Monyet-monyet dan anjing-anjing yang baik hati membawa anak itu pergi dan sampai saat terakhir, bayi itu tidak bertemu dengan ayahnya." Paman Fulan berhenti bercerita, dielus-elusnya kepalaku yang mulai gondrong.

"Bayi itu tumbuh besar dan hidup di dalam hutan bersama monyet-monyet dan anjing-anjing. Setiap hari berlarian kesana kemari bersama-sama. Mereka tumbuh besar dan menua bersama, hingga anjing-anjing dan monyet-monyet yang membersamainya sejak bayi mati satu per satu."

"Si bayi yang beranjak besar mulai berfikir, hewan apakah dia? Orang tuanya siapa? Apakah ada makhluk yang seperti dia? Kenapa dia hidup bersama monyet dan anjing dan hewan-hewan hutan yang tidak ada yang seperti dia?"

"Kasihan bayi itu."

"Iya, kasihan. Sampai pada akhirnya dia berjalan terus menerus berkeliling hutan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Lama sekali dia berjalan dan sangat jauh sampai akhirnya dia sampai di sebuah perkampungan. Di sana dia melihat mereka semua, sekumpulan manusia! Iya, makhluk yang sama seperti dia. Dia sangat senang sekali tapi dia sama sekali tidak mengerti apa yang orang-orang itu lakukan dan bicarakan."

"Sepanjang hari dia mengamati orang-orang itu berusaha mencerna, dia ingin bersuara tetapi tidak bisa. Jadi dia hanya mematung disitu sampai pada akhirnya ada orang-orang yang datang membawanya pergi dan menjadikannya seperti manusia yang lain."

"Apakah bayi itu adalah, Paman?"

Paman Fulan hanya tersenyum tanpa memperlihatkan giginya, tanda bahwa jawaban atas pertanyaanku adalah benar. Paman Fulan setiap hari menceritakan kisah baru kepadaku dan selalu membuatku bertanya-tanya. Terkadang ceritanya sangat ajaib sehingga aku tahu cerita itu hanya karangan dia saja. Tetapi terkadang ceritanya begitu dapat aku percaya, sehingga aku berfikir bahwa dia sedang menceritakan orang yang ada di sekitarku, atau bahkan tentang dirinya sendiri. Setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu membuatku berpikir keras, tetapi aku bisa merasakan apa jawaban yang ingin diberikan Paman Fulan. Aku mungkin terdengar sok tahu, tapi kurasa aku benar tentang hal itu.

Pernah suatu kali Paman Fulan bercerita tentang bagaimana cara dia menemukan teknik menganyam bambu yang baik dan benar. Katanya dia memperoleh ilmu menganyam itu dari seorang nenek-nenek tua yang memberikannya ilmu lewat mimpi. Di mimpinya itu, dia diajari cara meraut bambu tanpa menyentuh dan tanpa tenaga. Lalu dia bilang, nenek-nenek itu kenal dengan aku, makanya aku jadi rajin datang ke pondok Paman Fulan dan membantu dia meraut bambu-bambu yang sudah dia belah-belah. Aku tahu dia mengarang penuh cerita itu, walaupun pada kenyataannya dia berhasil meraut bambu tanpa menyentuh dan tanpa tenaga, karena akulah yang megerjakannya. Sungguh jenius bukan?

"Jadi baju itu adalah baju ibunya Paman?"

Lagi-lagi Paman Fulan hanya tersenyum seperti sebelumnya. Dia lalu mencium baju itu, dan memasukkannya kembali ke dalam peti.

"Kamu tahu, Danar, manusia itu diberikan akal dan perasaan oleh Tuhannya sehingga dia itu bisa berfikir dan merasakan. Manusia dari hutan itu pada akhirnya bisa berbicara seperti kita, bertingkah laku seperti kita dan hidup seperti kita. Seperti bayi yang awalnya tidak bisa berbicara, berjalan dan berhitung, manusia ini bertahun kemudian akhirnya menjalani hidupnya benar-benar sebagai manusia."

"Apakah manusia yang berasal dari hutan itu adalah Paman? Hahaha. Menurut kamu, apakah mungkin ada bayi yang dirawat oleh monyet-monyet dan anjing-anjing sampai besar?"

"Ya mungkin saja, Paman. Anjing-anjing dan monyet-monyet itu kan baik." Paman Fulan tergelak mendengar jawabanku.

"Kalau begitu, mungkin saja bayi itu adalah paman."

"Suatu saat nanti, apakah paman akan tinggal di hutan?"

"Tentu tidak. Paman akan terus di sini sampai paman memiliki anak cucu."

"Hahahaha! Kalau begitu Paman harus menikah!"

"Iya, nanti paman akan menikah setelah paman memiliki kartu-kartu itu. Kartu-kartu manusia, kartu yang harus paman urus supaya paman bisa disebut manusia seutuhnya," jawabnya sambil tersenyum sangat lebar.

Aku tertawa mendengar kalimat terakhirnya, karena aku melihat Paman Fulan adalah laki-laki yang utuh tidak kurang satu apapun. Bahkan banyak sekali gadis-gadis yang tertawan wajahnya yang rupawan. Hanya saja, kata orang-orang, kalau dia mau menikah minimal dia punya KTP dan KK, sedangkan nama pun Paman Fulan tidak punya. Ah urusan orang tua terkadang memang rumit.

Friday, 27 October 2017

Mitch Albom dan Bukunya

Pernah mendengar buku Tuesday With Morrie? Five People You Meet in Heaven? Time Keeper? For One More Day? Have a Little Faith? Itu semua adalah karya-karya Mitch Albom, penulis favorit saya yang berasal dari New Jersey, Amerika Serikat.

Mitch Albom adalah salah satu penulis yang mengangkat sisi kemanusiaan dan kerohanian manusia pada umumnya. Hampir semua buku-bukunya isinya akan membuat kita baper dan tersentuh sisi kemanusiaan kita. Seperti Tuesday With Morrie, sebuah memoar yang dia tulis dimana dia menceritakan pertemuan-pertemuannya dengan mantan dosennya semasa kuliah, Morrie Schwartz, seorang profesor Sosiologi di Brandeis University. Dimana waktu itu Morrie terjangkit amyotrophic lateral sclerosis (ASL), sebuah penyakit ganas yang menyerang sistem saraf. Dia menjadwalkan sebuah "kuliah kehidupan" dari seorang Morrie yaitu setiap hari Selasa. Buku ini sukses membuat saya tersentuh dan belajar sangat banyak tentang kehidupan dan kemanusiaan. Salah satu kalimat favorit saya di buku ini adalah ketika dia menggambarkan Morrie sebagai sosok yang hangat dimana ketika dia tersenyum, ia seperti baru mendengar kelakar paling lucu di dunia. Saya sampai membayangkan bagaimana senyum Morrie dan berusaha menconteknya. Buku-buku Mitch selalu membuat saya banyak belajar tanpa merasa digurui, membuat saya merasa harus menjadi manusia yang baik dan benar tanpa merasa dipaksa. Buat saya, hampir semua karya Mitch itu luar biasa.

Menurut Wikipedia, karya paling berhasil Mitch Albom adalah bukunya berjudul Tuesday With Morrie. Karyanya yang berjudul For One More Day yang diterbitkan di Amerika Serikat pada tahun 2006 menjadi buku bestseller versi The New York Times selama 9 bulan. Karyanya berjudul Five Peoples You Meet in Heaven juga merupakan keberhasilan dengan terjualnya lebih dari sepuluh juta kopi dan diterjemahkan dalam 35 bahasa. Tiga novel yang telah dia tulis telah difilmkan, termasuk Satu Hari Bersamamu dan Oprah Winfrey menjadi produsernya pada tahun 1999.

Mitch Albom yang saat ini berusia 59 tahun mengawali karir menulisnya sebagai penulis lepas untuk beberapa media massa di New York, melanjutkan karir menjadi penulis tetap untuk beberapa media di Florida dan kemudian menjadi jurnalis olah raga setelah dia pindah ke Detroit. Saat ini, Mitch bekerja untuk radio WJR dan juga sering muncul dalam on ESPN Sports Reporters and Sports Center.

Mitch menempuh pendidikannya di Universitas Brendeis di Waltham, Massachusetts dalam bidang Sosiologi, mungkin itulah salah satu alasan kenapa Mitch sangat lihai melihat sudut-sudut kecil kehidupan sehingga buku-bukunya sarat dengan "pelajaran kehidupan". Mitch juga melanjutkan pendidikan magister dari Columbia University’s Graduate School of Journalism dan diikuti dengan mendapatkan gelar MBA dari Columbia University’s Graduate School of Business. Latar belakang pendidikan inilah yang mungkin membuat tulisan-tulisan Mitch terasa cerdas dan keren, pendidikan sosiologi, jurnalisme, ditambah manajemen, perpaduan yang sangat bagus menurut saya.

Ada satu hal lagi yang membuat karya Mitch begitu mempesona, ternyata dia adalah seorang seniman juga. Pada masa remajanya Mitch belajar piano dan menjadi anggota beberapa grup musik. Bahkan dia juga menulis dan membuat rekaman beberapa lagu. Terlebih lagi, dia menyelesaikan kedua gelar magisternya dengan biaya dari pekerjaannya sebagai pemain piano. Paket komplit, penulis, penulis lagu, pemain musik, penampil televisi sekaligus pengisi radio, Mitch, salah satu penulis favorit saya sampai saat ini.

Wednesday, 11 October 2017

Kisah Bawang Putih dan Bawang Merah

Ini adalah kisah tentang dua saudari tiri yang dipertemukan karena pernikahan ayah dan ibu mereka. Bawang Merah dan Bawang Putih. Ayah dari Bawang Putih menikah dengan ibu dari Bawang Merah setelah ibu dari Bawang Putih meninggal dunia. Sedangkan ibu dari Bawang Merah memang sudah menjanda sejak lama.

Ibu tiri Bawang Putih tidak sayang kepada Bawang Putih, sehingga ketika ayahnya pergi bekerja ke luar kota, Bawang Putih diperlakukan dengan tidak baik. Sedangkan Bawang Merah, tentu saja  dia mendukung ibu kandungnya.

Suatu hari, Bawang Putih pergi mencuci baju di sungai. Namun alangkah malang nasibnya, karena arus sungai yang deras, salah satu baju ibu tirinya hanyut. Ibu tirinya marah besar karena hal itu, sehingga memerintahkan Bawang Putih untuk terus mencari bajunya yang hanyut itu sampai ketemu. Untung tak dapat dicari, malang tak dapat ditolak. Baju itupun tidak ketemu malah Bawang Putih bertemu dengan nenek-nenek misterius yang berjanji akan membantunya menemukan baju ibu tirinya asalkan dia menemani nenek itu selama satu minggu.

Satu minggu berlalu. Karena nenek itu senang dengan tingkah Bawang Putih, dikembalikannya baju ibu tiri dan dihadiahkannya sebuah labu untuk Bawang Putih. Dan Bawang Putih pun pulang ke rumahnya dengan hati gembira. Sesampainya di rumah, Bawang Putih menyerahkan baju dan labu itu kepada ibu tirinya. Setelah dibuka, ternyata labu tersebut berisikan emas permata.

Ibu tiri yang jahat sangat bergembira, dia tertawa-tawa bersama Bawang Merah dan lupa bahwa labu itu kepunyaan Bawang Putih. Bawang Merah yang hobi bermain media sosial, tidak lupa memfoto-foto labu tersebut dan mengunggahnya ke akun media sosialnya. Begini captionnya : Rejeki kakak solehah, adik aku dapat labu ajaib! Isinya membuat kita tercengang!! #labuajaib #labuemas #emaspermata #kakaksolehah #ibusolehah #adikberbakti

Tak disangka, dengan jumlah followernya yang mencapai lima ribu, postingan Bawang Merah itupun menjadi viral. Ribuan orang memberikan komentarnya dan ribuan orang juga yang memposting ulang postingan Bawang Merah. Sebagian besar komentar yang masuk menanyakan dimana lokasi Bawang Putih mendapatkan labu ajaib tersebut dan bagaimana ceritanya. Dan di hari ketiga sejak dia memposting foto labu tersebut, komentar dan postingan ulangnya mencapai puluhan ribu. Sungguh sangat viral.

Seiring dengan viralnya postingan Bawang Merah, Bawang Merah pun mulai membuka endorse dan mulai memanfaatkan kepopulerannya dengan menjadikan dia, ibunya dan adiknya sebagai selebgram. Wajah mereka yang cantik mendukung hal tersebut. Hingga pada akhirnya mereka diundang ke berbagai stasiun televisi dan mulai mendapatkan tawaran untuk bermain sinetron.

Sungguh jalan hidup yang tidak tertebak, keluarga itu menjadi kaya raya, sehingga ibu tiri yang semula tidak menyukai Bawang Putih mulai berubah, dia menjadi sayang dan perhatian kepada kedua putrinya.

Sementara itu, karena banyaknya netizen yang penasaran akan labu ajaib tersebut, ribuan orang mendatangi sungai di dekat rumah Bawang Putih. Mereka berbondong-bondong mencari nenek misterius tersebut. Tak disangka, ternyata pada jarak kurang lebih satu kilometer dari tepi sungai dimana Bawang Putih bertemu nenek misterius tersebut, terbentang kebun labu yang luas. Di pinggirnya terdapat gubuk yang dijadikan lapak oleh nenek itu untuk berjualan labu. Dengan dibantu anak-anaknya, nenek tersebut bertanam dan berjualan labu. Namun karena sepinya pembeli, salah seorang anaknya memiliki ide yaitu membuat sesuatu yang viral sehingga banyak pengunjung datang.

Beberapa kali anak sang nenek itu mencari ide yang dikiranya akan viral ternyata gagal, sampai pada akhirnya dia menjadi follower dari Bawang Merah yang tinggalnya tidak jauh dari rumah dan kebunnya. Setelah memperhatikan keluarga Bawang Merah, muncullah idenya untuk mencuri baju ibu tiri Bawang Putih dengan trik sehingga Bawang Putih mengira baju ibunya itu hanyut. Dia yakin, ketika ibunya memberikan labu 'ajaib' itu kepada mereka, Bawang Merah akan mengunggahnya di media sosial. Dia hafal bahwa Bawang Merah selalu mengunggah foto-foto kegiatannya dari yang penting sampai yang sama sekali tidak penting itu.

Dan berhasil. Labu mereka yang memang berkualitas bagus dan organik kini menjadi buruan. Orang-orang yang semula membeli karena penasaran selalu kembali untuk repurchase karena puas. Kualitas memang tak pernah bohong. Dan kehidupan keluarga nenek itupun semakin hari semakin makmur.

Pada akhirnya, keluarga Bawang Putih dan keluarga sang nenek misterius itupun hidup berbahagia selama-lamanya.

Friday, 6 October 2017

Anak

"Ibu dimana?"

"Di sini, Mbak," sahutku.

"Oh...," jawabnya sambil menghampiriku.

"Habis mudik to, Mbak?"

"Iya nih, baru datang kemarin."

"Naik apa?"

"Biasa, naik bis. Udaranya puanaaasss, saya sampai gembrobyos. Untung aja nggak macet, Bu."

"Anak jadi ikut ke Jakarta?"

"Nggak mau, Bu. Katanya mau kerja di sana saja. Lagian kerja di sini juga mau kerja apa ..."

"Sudah selesai sekolahnya?"

"Sudah. Sudah lulus SMA kemaren itu, tapi tetep enggak mau ikut kesini. Ya tadinya kan kalau ikut ke sini kumpul semua sekeluarga."

Terdengar bunyi telepon genggam. Mbak Mur mengangkat telepon dan mendekatkan alat itu di telinganya.

"Lagi kerja." Telepon ditutup.

"Ibu tambah gemuk aja. Ayem ya, Bu."

"Hahaha. Iya, Mbak Mur. Ayem. Seneng."

"Saya juga ini tambah gemuk. Tapi gak enaknya jadi gampang capek."

"Iya keberatan kakinya, Mbak. Hehehe. Dulu Mbak Mur sama Mas Jono kenal dimana?"

"Kenal di yayasan, pas lagi pelatihan, Bu. Terus kerja bareng, terus nikah."

"Cinta lokasi nih ye? Hahahaha."

"Ibu bisa aja. Hehe."

"Anak Mbak Mur normal?"

"Lihat maksudnya, Bu? Iya, alhamdulillah orang lihat, Bu. Nggak tuna netra seperti bapak ibunya."

"Di kampung tinggal sama kakek neneknya?"

"Iya, Bu. Sejak umur 4 tahun saya tinggal kerja. Sekarang udah gede, eh tetap mau di sana. Nggak mau diajak ke sini."

Setiap kali kesini aku selalu ingin tahu tentang anaknya. Bagaimana mereka merawat dan mendidik anaknya? Bagaimana sikap anaknya terhadap mereka? Bagaimana kakek neneknya mengasuhnya? Apakah anaknya bangga punya orang tua seperti mereka, atau sebaliknya? Bagaimana kasih sayang anak ke orang tuanya dan sebaliknya? Aku sungguh ingin tahu.

"Permisi!" Terdengar ada orang datang.

"Mau pijit, Pak?" teriak Mak Mur.

""Iya. Mas Jono-nya ada?"

"Tunggu ya!" Mbak Sum menelepon Mas Jono yang ada di kontrakan samping rumah ini.

Tak lama terdengar suara Mas Jono datang dan mulai memijit orang yang baru datang tadi di kamar sebelah. Lalu aku mulai tertidur.

Tiba-tiba terdengar bunyi gaduh. Bunyi tangisan dan beberapa orang berteriak.

"Bu, maaf ya, Bu. Mbak Murnya pingsan. Anaknya di kampung kecelakaan." Wanita tua yang biasa membersihkan rumah ini membangunkanku. Aku buru-buru bangun dan keluar kamar.

Kulihat Mbak Sum terbaring di bale bambu, di pangkuan Mas Jono yang sibuk memijit dan mengoleskan minyak angin di pelipis Mbak Mur yang sudah mulai sadar. Kaki Mas Jono terlihat berdarah, sepertinya karena tanpa sengaja tersandung sesuatu saat menolong Mbak Mur. Pasangan itu terlihat sangat berduka, bagaimana tidak, anaknya semata wayang yang sedari kecil tinggal jauh dari mereka sedang mendapat celaka. Dan entah bagaimana keadaannya sekarang, sedangkan untuk kesana, dibutuhkan waktu belasan jam naik bus.

"Mas Jono, Mbak Mur, mau pulang kampung? Ayo bersiap-siap, kami yang akan antar," kata suamiku yang sebelumnya duduk di teras depan membaca buku untuk membunuh waktu menungguku dipijit.

Aku tidak mampu berkata apa-apa. Tak terasa air mataku mengalir. Mbak Mur, perempuan setengah baya tanpa bola mata itu terdiam. Tatapan kosong pun dia tak punya. Seumur hidupnya tak pernah sekalipun dia melihat wajah putrinya, tapi rasa cinta seorang ibu siapa yang bisa menandingi. Mas Jono, laki-laki tambun yang buta sejak kecil itu beranjak ke kontrakannya, bersiap-siap katanya.

Tak apa. Dua hari ini kami berikan waktu kami untuk mereka. Untuk tahu besarnya kasih sayang orang tua kepada anaknya, tidak harus menjadi orang tua dulu. Delapan tahun kami menunggu, tapi kalau Tuhan belum memberi kami bisa apa.

Matahari mulai terbenam ketika kami berangkat menuju kampung halaman Mbak Mur. Kami mampir sebentar ke rumah untuk mengambil bekal dan pakaian secukupnya. Aku belum sekalipun menanyakan bagaimana kondisi putri mereka, karena mereka tiba-tiba saja menjadi pendiam yang paling diam. Aku berharap, putri tercinta mereka masih hidup.

Tuesday, 19 September 2017

Ayok Kita Buat!

Saya ini adalah orang yg bertipe banyak cita-cita sedikit implementasi rencana.

Kemampuan (insyaallah) ada, tapi kemampuan memaksa diri? 0! Bahaha..
Itulah. Jadii...

Ketika suatu hari saya membaca status facebook salah satu kawan, yg mengajak bergabung di komunitas One Day One Post (ODOP), saya langsung daftar!!
Buktikanlah, Na!!

Harapan saya, dengan ikut komunitas ini, saya bisa memaksa diri saya untuk menulis tiap hari, belajar tentang kepenulisan tiap hari, dan punya karya setiap hari. Keren yak? #iyainAjaBiarCepet

Intinya itu.

Karena yaa..
Persepsi saya tentang ODOP, itu semacam komunitas yg isinya orang-orang yg suka nulis dan butuh dipaksa nulis.. ya kan?

Banyak memang grup One Day One Something yg udah saya ikuti, tapi gapapa, artinya dalam satu hari, lebih sedikit waktu saya yg saya lewati tanpa rencana.

Dengan ODOP, mungkin malah semua one day one somethingnya bisa aku tulis nanti..hahahaha..intinya ODOP ini bisa jadi bingkai untuk hari-hari saya #ceilaahh...

Doakan saya yhaaaa~~~

Ayo kita buat hari kita lebih bermakna!!
Ayo kita buat!!