Monday, 9 March 2015

Someone We Meet (3)

Kakek penjual kitiran.

Hari sudah beranjak malam ketika kami pulang dari rumah sakit untuk mengantar anak saya berobat. Sudah hampir jam 10 malam sepertinya. Di perjalanan pulang, motor kami menyalip seorang kakek-kakek yang mengendarai sepeda butut. Di sepedanya terpancang sebatang kayu yang menjadi tempat dia menancapkan banyak sekali kitiran bambu.
gambar dari sini

Kami pun berhenti, menunggu kakek itu sampai di hadapan kami. Tubuhnya renta, usianya sepertinya sudah kepala 7 atau 8. Giginya ompong. Tubuhnya kurus berbalut baju yang bertumpuk-tumpuk. Aku lihat dia memakai kaos kaki panjang kumal yang tebal (sepertinya didobel juga) dan juga sepatu belel.

Saya tanya berapa harga kitirannya, dia menjawab dengan sangat ramah dan ceria, "Lima ribuuuuu", memperlihatkan giginya yang ompong. Aku lihat matanya, mata yang menunjukkan bahwa dia bangga dan senang sekali melakukan pekerjaannya itu. Subhanallah...

Di usianya yang renta, dia tetap berusaha sekuat tenaga. Malam itu dingin, dengan terseok-seok dia mengayuh sepeda pancalnya. Dengan baju dan kaos kaki rangkap-rangkapnya, dinginpun dilawannya. Hebat.

Saya senang ketika dalam lanjutan perjalanan saya pulang, beberapa motor yang menyalip motor kami berlalu dengan meninggalkan bunyi-bunyian yang khas. Bunyi kitiran bambu itu. Rezeki untuk sang kakek.

Note :
Setelah saya googling, ternyata kitiran ini adalah mainan jadul khas Jepara. Kitiran ini terbuat dari bambu dan kertas minyak. Ketika berputar, baling-baling ini akan mengeluarkan suara yang khas,,tek tek tek tek tek tek tek,,,,
Bisa dilihat di sini atau di sini.

Friday, 6 March 2015

Iklan

Halo,,,numpang iklan ya...







Yang suka jilbab motif,,bisa kunjungi toko saya : My Lovely Lil Shop

Makasiihhhh

Someone We Meet (2)

Dalam perjalanan hidup kita, pasti banyak sekali orang yang kita temui. Beberapa bertahan lama dalam lingkaran kehidupan sehari-hari kita, beberapa hanya bertemu sesekali dan kebanyakan hanya bertemu sekali atau dua kali. Dalam sekali atau dua kali pertemuan itu, terkadang meninggalkan kesan yang tertanam dalam pikiran dan perasaan kita. Itulah salah satu tetesan ilmu dalam pelajaran hidup.

Ada seorang ibu-ibu penjual masakan siap santap yang sering kami lihat berjualan di sebuah kompleks perumahan. Ibu itu berjualan menggunakan sepeda motor. Di motornya terpasang gerobak yang isinya nasi, sayur, gorengan, es teh manis yang sudah dibungkus plastik, dan lauk-lauk lainnya. Target pasarnya adalah para kuli bangunan yang sedang membangun rumah di kompleks perumahan. Dia berjualan berkeliling menghampiri tempat para tukang itu menginap. Kebanyakan tukang-tukang itu menginap di rumah yang sedang mereka bangun, yang saat itu masih berupa bakal bangunan.

gambar dari sini
Saya sulit menemukan gambar yang mirip dengan motor dan gerobak ibu ini, dan saya juga belum sempat memotretnya sendiri. Gerobaknya mirip dengan gerobak tukang bubur ayam gitu lah,,tapi masakan yang dijualnya adalah nasi bungkus dan lauk pauk.


Saya sesekali berhenti untuk membeli dagangannya ketika bertemu ketika perjalanan pulang dari kantor. Masakannya enak dan murah. Suatu hari, ketika saya hendak membeli, ada seorang lelaki yang membantu ibu itu membawa sayur nangka muda untuk dituang di wadah yang terpasang di gerobaknya. Saya perhatikan lelaki ini masih muda, jauh lebih muda dibanding ibu penjual masakan ini. Saya pun membuka obrolan.

"Putrane, Bu?" - "Anaknya, Bu?"
"Bukan, itu suamiku. Hahahahahaha"
"Itu suamiku, emang dia itu lebih muda dari aku. Aku 48 dia 45".


Lalu berlanjutlah obrolan kami. Dari obrolan itu saya jadi tau kalo mereka sudah mempunyai tiga orang anak. Anak pertama bekerja di Korea. Saya berfikir pasti anak mereka ini menjadi TKI di sana. Ternyata bukan saudara-saudara. Anak mereka ini kerjanya aslinya di salah satu perusahaan pertambangan di Kalimantan, dan kebetulan saat ini sedang dikirim ke Korea untuk dinas luar di sana. O lala...

Anak kedua mereka sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya di Universitas Mercubuana. Anak ketiganya, baru menginjak kelas 2 SMA. Subhanallah ya...

Melihat penampilan ibu itu dan suaminya yang sederhana sekali saya salut mendengar ceritanya. Mereka peduli sekali dengan pendidikan anak-anaknya. Saya yakin jika kita mau, apapun bisa kita capai kok, tidak harus jadi pegawai yang bergaji tinggi, atau jadi pejabat yang bergigi, semua pasti bisa. Eh, buat yang pintar masak, bisa jadi peluang usaha nih :D

Bahkan Tukang Bubur Naik Haji pun tidak hanya ada dalam sinetron.

Thursday, 5 March 2015

Someone We Meet

Pada suatu hari, saya dan suami pengin ngemil malem-malem, 10 kali buka tutup kulkas tak ada perubahan sejak pertama kali dibuka, tetep ga ada cemilan. Okelah kami keluar rumah, berniat membeli martabak manis di pinggir jalan.

Sambil menunggu martabak dibuat, ada seorang bapak-bapak menghampiri kami. Usianya sekitar 50 tahunan, memakai baju batik, celana panjang hitam, kopyah dan berkacamata. Di tangannya dia memegang sebotol teh manis kemasan yang hampir kosong. Wajahnya tampak lelah dan mukanya berkeringat.

Bapak itu menanyakan apakah daerah Gondrong masih jauh dari sini (tempat saya beli martabak)? Suami saya bilang masih jauh. Lalu bapak itu menanyakan arahnya lalu kembali berjalan setelah suami saya menunjukkan arah ke Gondrong. Kami berpandangan, dia akan berjalan kaki ke Gondrong???

Dari tempat kami berdiri, untuk ke arah Gondrong itu masih jauh banget. Kami pun mengejar bapak itu untuk memberitahu bahwa untuk kesana sebaiknya naek angkot saja karena masih jauh banget. Dan apa yang dikatakannya?

"Iya mas nggak apa-apa. Saya jalan kaki saja kesana. Saya tadi udah jalan dari stasiun Sudimara ke sini (tau nggak, itupun udah jauh bangettt), soalnya saya kehilangan dompet saya di kereta. Saya sempat makan di warteg, tapi begitu mau bayar, saya baru sadar kalo dompet saya sudah gak ada."
gambar dari sini

Kami berdua berpandangan lagi. Kasihan.

Sepanjang jalan pulang kami jadi membahas topik betapa teganya para copet itu. Mereka tidak memikirkan bagaimana nasib korbannya. Iya kalo korbannya punya HP lalu bisa menghubungi sanak saudaranya untuk menjemput, kalau tidak? Iya kalau dia kuat berjalan dan tau arah pulang, kalau tidak? Berbagai kemungkinan kami bahas sambil sesekali mengehujat copet-copet yang tidak punya hati itu.

Coba bagaimana kalau yang menjadi korban itu kakek nenek kita? Orang tua kita? Anak-anak kita? Saudara-saudara kita? Bagaimana kalo yang diambil gak cuma dompet, tapi beserta tas, HP dan lainnya? Astaghfirullah al adzim,,,lindungilah kami dari kejahatan ya Allah... Amiiin

Wednesday, 4 March 2015

Sudah Tertakar dan Tidak Akan Tertukar

Rezeki.

Semua orang setiap saat mengharapkan rezeki. Setiap hari orang berlalu lalang mengejar rezeki. Setiap detik orang memikirkan rezeki, padahal rezeki itu sudah tertakar dan tidak akan mungkin tertukar.
gambar dari sini

Beberapa kali saya membaca tulisan mengenai rezeki yang sangat menyentil. Silahkan dibaca sendiri :
1. Rezeki Sudah Tertakar, Tak Akan Pernah Tertukar
2. Substitusi Nikmat
3. Hutang Rezeki

Intinya adalah bahwa tugas kita di dunia ini sehubungan dengan rezeki adalah berusaha, berdoa dan bertawakal kepada Allah, kemudian bersyukur. Masalah apa yang akan kita dapatkan, itu mutlak urusan Allah SWT.

Tulisan pertama membuat saya melek, bahwa banyak sekali hal yang harus saya syukuri, bahwa rezeki yang saya terima adalah pemberian Allah. Allah Maha Tahu apa yang kita butuhkan, dan Dia mengatur dengan indahnya.

Tulisan kedua dan ketiga membuat saya sering introspeksi diri ketika saya terlena sehingga menjadikan saya malas dan kufur.

"Bila Anda digaji Rp. 10.000.000 oleh perusahaan, namun Anda bekerja seperti digaji Rp. 20.000.000, maka Allah akan membayar lebihnya dengan kesehatan, karir, keluarga sejahtera, anak yang cerdas, dan semisalnya.
Namun bila Anda bekerjanya seperti orang bergaji Rp. 5.000.000, maka Allah pun akan menuntut sisanya dengan penyakit, kesusahan, hutang, masalah, dan semisalnya.
Jadi bekerjalah maksimal. Ikhlaskanlah.Yakinlah dengan aturan-Nya. Lalu perhatikan yang akan Allah buat untuk kejayaanmu"

"Janganlah mata kita terlalu cepat silau ketika melihat orang lain mendapat sebuah kenikmatan. Sebab kita tidak tahu nikmat lain apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala cabut darinya –agar tak muncul rasa iri dan dengki.
Jangan pula diri terlalu cepat merasakan kecewa ketika ada sebuah nikmat yang tercabut dari diri kita. Sebab kita kadang tidak menyadari, nikmat lain apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan sebagai penggantinya –agar terhindar dari kufur akan nikmat yang diberi.
Namun nikmat terbesar yang tidak bisa diganti dengan apa pun adalah, kita mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala"
 (dari tulisan kedua)

Pada tulisan ketiga lebih ditekankan bahwa apa yang kita peroleh itu seharusnya adalah yang merupakan hasil kerja keras kita. Ketika kita menikmati hal yang seharusnya bukan hak kita, maka itu akan menjadi hutang rezeki kita.

"Dan, seperti segala macam hutang lainnya, Hutang harus dibayar..
Mirisnya, bila rezeki asli kita (hasil dari usaha maupun kerja keras kita sendiri) tidaklah cukup untuk ‘membayar’ hutang rezeki yang kita miliki, maka ada hal yang lebih berharga daripada uang, yang akan diambil dari kita untuk membayarnya..
Hal itu bisa berupa kesehatan diri kita (sakit berat datang silih berganti), keluarga kita (perselingkuhan, anak jadi nakal dan perceraian), nama baik kita (dihukum penjara dan terkenal di media), sahabat kita (ditinggal teman-teman yang baik, dikerubungi teman jahat) dll..
Pertanyaannya, seberapa banyak hutang rezeki Kita?
Sudahkah Kita membayarnya? (dengan sedekah, mengembalikan kepada mereka yang berhak, bekerja keras tanpa mengharap ikut memakan rezeki orang tua dll)"
 (dari tulisan ketiga)

So, sudahkah kita berusaha yang terbaik hari ini?
Sudahkah kita mensyukuri segala nikmat kita hari ini?

Paling Benar

Terkadang, kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling benar sejagat raya. Orang lain selalu saja ada salahnya, sedangkan kita ... memang sih ada salah, tapi kan ada alasannya sehingga kita menjadi tidak salah.

Terkadang, kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling baik sedunia. Orang lain baik sih, tapi itu juga palingan karena mereka ingin terlihat baik aja, sedangkan kita kan emang aslinya orang baik. Uhuk.

Terkadang kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling miskin sesemesta. Apapun yang kita punya rasanya masih kurang, apalagi jika dibandingkan dengan si A, si B, si C dan teman-teman kita yang lain. Kitalah yang paling menderita dan kekurangan.

Terkadang juga, kita merasa menjadi orang yang paling pintar sealam raya. Apapun yang orang katakan di sosial media, kita punya alasan untuk menyalahkannya dan kita punya pendapat kita yang lebih yahuudd...

Ada yang salah yang saya katakan?
gambar dari sini

Memang, kita sering banget menempatkan diri sebagai komentator. Paham atau nggak paham masalahnya yang penting komentar.

Pernahkah teman-teman merasa menyesal setelah melontarkan sebuah komentar karena baru sadar kalo komentar yang barusan keluar adalah salah?

Pernahkah teman-teman merasa menyesal setelah menempelkan label tertentu kepada seseorang yang ternyata label yang kamu berikan itu jelas-jelas salah?

Saya sering. Dan ketika saya menyesal, terkadang saya gengsi untuk meminta maaf. And then?

And then marilah kita sering-sering introspeksi diri, sering-sering muhasabah, apa yang kita lihat belum tentu seperti yang kita sangkakan, apa yang kita tau belum tentu itu yang benar.

Sama-sama berucap, berucaplah yang baik. Sama-sama berfikir, berfikirlah yang baik.
Semoga Allah selalu melindungi kita semua. Amiiin.

Tuesday, 24 February 2015

Jika Si Kecil Panas

Salah satu hal yg membuat seorang ibu hilang separuh jiwanya adalah ketika mendapati anaknya sakit. Rasanya kalau bisa ditukar, bolehlah dia saja yg merasakan sakit yang dirasakan oleh anaknya.
Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, si kecil saya agak hangat badannya. Beberapa kali sudah dia BAB sejak bangun tidurnya pada pukul 5 pagi. Berdasar pengalaman yang sudah-sudah, pencernaan anak-anak membalik setelah diberi L-Bio, suami saya langsung meluncur ke apotik rumah sakit deket rumah untuk membeli L-Bio. Setelah memberikan instruksi kepada pengasuh, kami pun berangkat ke kantor.
Selepas adzan magrib kami sampai kembali di rumah. Si kecil sedang tidur dan badannya panas sekali. Saya cek pakai termometer. 40 derajat celcius. Allah.

Saya cari obat demam, lalu saya berikan ke anak saya via anus karena suhunya sudah di atas 38,5. Saya menunggu. Tak lama si kecil bangun, lalu tersenyum dan berlarian seperti biasa. Tak merasakan sakit rupanya. Sayapun keluar rumah lagi untuk membeli tolak angin anak, dan sediaan obat demam karena sediaan di rumah habis.

Sampai kembali di rumah saya cek suhu si kecil. 38,8. Lumayan sudah turun. Diapun bermain, makan dan minum seperti biasa. Pukul 10 dia tertidur bersama ayahnya. Setengah 11 dia terbangun lalu berjalan menuju saya. Saya pegang badannya panas sekali. Saya susui dia, supaya turun panasnya dan tidak dehidrasi. Dia pun tidur. Tak lama bangun. Tidur lagi. Bangun lagi minta dipakaikan celana. Muntah. BAB. Saya luar biasa sedih. Apalagi panasnya masih di kisaran 38,8. Dikompres hangat dia tidak mau. Aduh.

Alhamdulillah sehabis BAB dia tertidur. Saya pegangpun badannya sudah tidak sepanas sebelumnya. Nafasnya jg sudah tidak secepat sebelumnya. Get well soon ya nak..

Ini yg ada di kepala saya ketika anak demam :
- Jika demam melebihi 38,3 saya beri penurun panas oral
- Jika demam melebihi 39, saya beru penurun panas anal
- Pakaikan baju yg tipis
- Beri minum yg banyak karena demam bisa membuat dehidrasi
- Kompres dengan air hangat, jangan air dingin karena air dingin bisa membuat anak menggigil
- Kurangi aktivitas yg terlalu banyak gerak
- Jika pup terlihat tidak normal dan frekuensi terlalu sering, saya berikan L-Bio.

Oke, mohon doanya semoga si kecil saya lekas sehat kembali ya. Amiin