Tuesday, 24 March 2015
Monday, 23 March 2015
Friday, 20 March 2015
Sholat Jumat
Tadi siang saya makan bakso di seputaran Slipi. Warung baksonya ramai sekali, sampai-sampai banyak orang yang mengantri berdiri di luar warung sambil menunggu orang yang sudah selesai makan meninggalkan kursinya. Ramai sekali. Beneran ramai. Silih berganti orang duduk dan makan di sana.
Lalu saya ingat kalau hari ini adalah hari Jumat, dimana para muslim laki-laki punya kewajiban menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid. Dan saya kemudian memandang satu per satu pelayan yang ada di warung itu, hampir semuanya laki-laki. Dengan cekatannya mereka mengisi mangkuk, mengedarkan mengkuk, mengisi gelas-gelas, mengedarkan gelas-gelas, mengambil piring-piring dan gelas kotor, mengelap meja dan mencuci alat-alat makan yang kotor.
Begitupun pengunjungnya, kira-kira setengahnya adalah laki-laki. Saya tidak tau mereka memeluk agama apa.
Pertanyaan saya cuman satu : Mereka ini gak pada jumatan ya?
Lalu saya ingat kalau hari ini adalah hari Jumat, dimana para muslim laki-laki punya kewajiban menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid. Dan saya kemudian memandang satu per satu pelayan yang ada di warung itu, hampir semuanya laki-laki. Dengan cekatannya mereka mengisi mangkuk, mengedarkan mengkuk, mengisi gelas-gelas, mengedarkan gelas-gelas, mengambil piring-piring dan gelas kotor, mengelap meja dan mencuci alat-alat makan yang kotor.
Begitupun pengunjungnya, kira-kira setengahnya adalah laki-laki. Saya tidak tau mereka memeluk agama apa.
gambar dari sini
Pertanyaan saya cuman satu : Mereka ini gak pada jumatan ya?
Ketika
Ketika kamu merasa menjadi orang yang paling susah,,
mungkin kamu belum bertemu dengan orang lain yang jauh lebih susah dari kamu.
Dan mereka itu ada, nyata.
mungkin kamu belum bertemu dengan orang lain yang jauh lebih susah dari kamu.
Dan mereka itu ada, nyata.
Wednesday, 11 March 2015
Simply Mint Tea
Selamat siang semuanyaaa...
Saya kira musim hujan sudah berakhir setelah agak lama ya tidak turun hujan di seputaran Jakarta ini. Eh, tiba-tiba dua hari kemaren mendung kembali menggelayut di langit dan kemaren saya kembali terguyur hujan :(
Sore-sore berhujan enak ya kalo kita minum secangkir teh hangat beraroma mint? Nah, pas banget kali ini saya akan memberikan resep yahud untuk membuat teh mint yang super simpel dan enak.
Siapkan bahan-bahannya :
- Teh Manis Panas
- Permen Mint Jadul
Saya menggunakan teh merek apa saja yang ada di kantor (soalnya biasanya pas sore berhujan saya masih ada di kantor) :D
Yang kedua saya menggunakan permen mint jadul yang seperti ini :
Saya kira musim hujan sudah berakhir setelah agak lama ya tidak turun hujan di seputaran Jakarta ini. Eh, tiba-tiba dua hari kemaren mendung kembali menggelayut di langit dan kemaren saya kembali terguyur hujan :(
Sore-sore berhujan enak ya kalo kita minum secangkir teh hangat beraroma mint? Nah, pas banget kali ini saya akan memberikan resep yahud untuk membuat teh mint yang super simpel dan enak.
Siapkan bahan-bahannya :
- Teh Manis Panas
- Permen Mint Jadul
Saya menggunakan teh merek apa saja yang ada di kantor (soalnya biasanya pas sore berhujan saya masih ada di kantor) :D
Yang kedua saya menggunakan permen mint jadul yang seperti ini :
gambar dari sini
Cara membuat :
- Buatlah secangkir teh manis panas. Manisnya sesuai selera aja, dan sebaiknya tidak terlalu manis karena akan kita tambahkan permen di dalamnya.
- Masukkan beberapa butir permen mint jadul ke dalam teh panas. Aduk rata.
- Nikmati selagi panas.
Yummy...hangat..segar dan gampang sekali membuatnya.
Di kepala saya sih masih ada bayangan-bayangan teh dengan rasa-rasa yang lain ya,,,misalnya dengan ditambahkan permen rasa jeruk? Permen mint yang ada rasa-rasanya seperti permen KISS, RELAXA? Pasti seru..
Bagi penggemar teh bisa dicoba nih, trus kabari saya ya gimana hasilnya :)
Monday, 9 March 2015
Someone We Meet (3)
Kakek penjual kitiran.
Hari sudah beranjak malam ketika kami pulang dari rumah sakit untuk mengantar anak saya berobat. Sudah hampir jam 10 malam sepertinya. Di perjalanan pulang, motor kami menyalip seorang kakek-kakek yang mengendarai sepeda butut. Di sepedanya terpancang sebatang kayu yang menjadi tempat dia menancapkan banyak sekali kitiran bambu.
Kami pun berhenti, menunggu kakek itu sampai di hadapan kami. Tubuhnya renta, usianya sepertinya sudah kepala 7 atau 8. Giginya ompong. Tubuhnya kurus berbalut baju yang bertumpuk-tumpuk. Aku lihat dia memakai kaos kaki panjang kumal yang tebal (sepertinya didobel juga) dan juga sepatu belel.
Saya tanya berapa harga kitirannya, dia menjawab dengan sangat ramah dan ceria, "Lima ribuuuuu", memperlihatkan giginya yang ompong. Aku lihat matanya, mata yang menunjukkan bahwa dia bangga dan senang sekali melakukan pekerjaannya itu. Subhanallah...
Di usianya yang renta, dia tetap berusaha sekuat tenaga. Malam itu dingin, dengan terseok-seok dia mengayuh sepeda pancalnya. Dengan baju dan kaos kaki rangkap-rangkapnya, dinginpun dilawannya. Hebat.
Saya senang ketika dalam lanjutan perjalanan saya pulang, beberapa motor yang menyalip motor kami berlalu dengan meninggalkan bunyi-bunyian yang khas. Bunyi kitiran bambu itu. Rezeki untuk sang kakek.
Note :
Setelah saya googling, ternyata kitiran ini adalah mainan jadul khas Jepara. Kitiran ini terbuat dari bambu dan kertas minyak. Ketika berputar, baling-baling ini akan mengeluarkan suara yang khas,,tek tek tek tek tek tek tek,,,,
Bisa dilihat di sini atau di sini.
Hari sudah beranjak malam ketika kami pulang dari rumah sakit untuk mengantar anak saya berobat. Sudah hampir jam 10 malam sepertinya. Di perjalanan pulang, motor kami menyalip seorang kakek-kakek yang mengendarai sepeda butut. Di sepedanya terpancang sebatang kayu yang menjadi tempat dia menancapkan banyak sekali kitiran bambu.
gambar dari sini
Kami pun berhenti, menunggu kakek itu sampai di hadapan kami. Tubuhnya renta, usianya sepertinya sudah kepala 7 atau 8. Giginya ompong. Tubuhnya kurus berbalut baju yang bertumpuk-tumpuk. Aku lihat dia memakai kaos kaki panjang kumal yang tebal (sepertinya didobel juga) dan juga sepatu belel.
Saya tanya berapa harga kitirannya, dia menjawab dengan sangat ramah dan ceria, "Lima ribuuuuu", memperlihatkan giginya yang ompong. Aku lihat matanya, mata yang menunjukkan bahwa dia bangga dan senang sekali melakukan pekerjaannya itu. Subhanallah...
Di usianya yang renta, dia tetap berusaha sekuat tenaga. Malam itu dingin, dengan terseok-seok dia mengayuh sepeda pancalnya. Dengan baju dan kaos kaki rangkap-rangkapnya, dinginpun dilawannya. Hebat.
Saya senang ketika dalam lanjutan perjalanan saya pulang, beberapa motor yang menyalip motor kami berlalu dengan meninggalkan bunyi-bunyian yang khas. Bunyi kitiran bambu itu. Rezeki untuk sang kakek.
Note :
Setelah saya googling, ternyata kitiran ini adalah mainan jadul khas Jepara. Kitiran ini terbuat dari bambu dan kertas minyak. Ketika berputar, baling-baling ini akan mengeluarkan suara yang khas,,tek tek tek tek tek tek tek,,,,
Bisa dilihat di sini atau di sini.
Subscribe to:
Posts (Atom)



