Thursday, 19 October 2017
Tabuh Subuh
Kembali mendengar tabuh subuh yang lama kau biarkan berlalu
Tubuhmu bergetar pilu
Rasanya baru kali ini aku melihatmu kembali "pulang"
Tangismu dua hari lalu
Seolah mengatakan selama ini kamu terlalu jauh pergi
Kedatanganmu tiga hari lalu
Menunjukkan perjuanganmu yang ternyata salah jalan
Tabuh subuh pagi ini aku terharu
Kulihat bahkan kau sudah menyambutnya dengan sajadahmu yang lusuh
Kau pulang, Nak
Aku senang kau masih ingat pesanku saat kau pamitan tujuh tahun yang lalu
Sambutlah tabuh subuh,
sehingga kau tau kemana harus berlabuh.
Tuesday, 17 October 2017
Motivator
Di situ saya merasa sotoy.
Saya tanpa sadar berbicara padanya panjang lebar, menanyakan padanya ini banyak hal, mulai dari situasi dan kondisi, latar belakang, pihak yang terlibat, dan kejadian perkaranya seperti apa. Dalam hal ini saya merasa menjadi seorang psikolog sekaligus detektif. Hahahaha.
Dan entah berguna atau tidak, kawan-kawan saya banyak yang kembali lagi untuk curhat atau meneruskan kisah yang pernah mereka curhatkan pada saya.
Sampai beberapa kawan akhirnya bertanya, "Kamu nggak kepengen jadi motivator?"
Ugh! Siapalah saya ini. Hanya remah-remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan. Serpihan kecil yang dikangeni dan selalu bertemu dengan orang-orang yang sedang mencari.
Dan tidak ada motivator yang lebih hebat dari diri kita sendiri! Ya, motivator terbaikmu adalah dirimu sendiri, kawan :)
Bukannya saya tidak ingin menjadi motivator, saat ini pun saya sering secara tidak langsung memotivasi kawan-kawan saya itu. Privat. Empat mata dan empat juta semangat.
Satu-satunya yang menjadi catatan saya ketika sedang melakukan sesi penerimaan curhatan, adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi kemudian semua ada di tangan kawan saya ini. Iya, tentu dengan seijin Allah.
Saya selalu mengingatkan kepada diri saya sendiri, satu-satunya yang bisa merubah nasib seseorang adalah dirinya sendiri, sehingga satu-satunya tugas saya adalah memberikan sedikit gambaran tentang apa yang kawan saya ini hadapi dan mengatakan kepada mereka, ini pilihanmu, terserah kamu pilih jalan yang mana.
Lucunya, pernah suatu hari beberapa kali ada kawan yang saya pun tidak kenal dia, tiba-tiba muncul di layar chat hape saya dan berkata ingin curhat. Wah! Siapa ini...
Sebagai seorang motivator amatir, saya pun mempersilahkan dia bercerita dan menyelesaikan ceritanya sampai tuntas. Kemudian saya bertanya hal-hal yang saya ingin ketahui dan kemudian memberikan kesimpulan dan saran. Well, saya sangat menikmati sesi ini.
Setelah selesai sesi penerimaan curhat, giliran saya yang deg-degan. Saya takut saya salah memberikan saran. Hahaha. Piye sih?
Ya begitulah motivator amatiran. Hahaha.
Monday, 16 October 2017
Diet (Lagi)
Ngomongin diet buat gue adalah sesuatu yang membingungkan.
Masing-masing orang punya teorinya sendiri.
Si A bilang diet itu seharusnya ngurangin gula dan karbo.
Si B bilang diet itu seharusnya makan buah dan sayuran aja.
Si C bilang diet itu seharusnya makan protein hewani aja.
Si D bilang diet itu seharusnya boleh makan apa saja asalkan jumlahnya tertakar dan waktunya sesuai jam tubuh.
Dan masih ada huruf E sampai Z lhoh kalo mau disebutin semua.
Terus terang Hayati lelah, Mak
Semua diet itu punya satu kesamaan, yaitu sama-sama menimbulkan keterpaksaan.
Dan seperti kita semua tahu, keterpaksaan itu menyiksa.
Itulah sebabnya diet (penurunan berat badan) itu rawan gagal.
Kita semua gak suka disiksa. Well said ya kan?
Gue punya mimpi tentang diet ini.
Yaitu menciptakan diet yang sehat, enak dan gue senang menjalankannya.
Ada nggak?
Belum.
Tapi yang pasti, diet yang seperti itu, CUMA gue yang tau resep dan programnya.
Karena gue sendiri yang lebih paham sama diri gue. Bukan orang lain.
Mereka itu, orang-orang yang menciptakan dietnya masing-masing itu, ya..
Mereka itulah contoh yang sudah menemukan "jalan" mereka.
Dan semuanya beda-beda. Baik teori, praktek maupun hasilnya.
Singkatnya,
Kita harus mulai menyayangi diri kita sendiri.
Sayangi seluruh tubuh kita dengan memperlakukannya dengan penuh cinta.
Semua yang masuk ke tubuh, harus halal dan baik.
Satu lagi, jangan berlebihan.
Bismillahirrohmanirrohim...
Niat ingsun menyehatkan badan.
Karena sudah banyak keluhan.
Nyuwun pangestunipun sedoyo mawon..🙏🙏🙏🙏
Sunday, 15 October 2017
Diet
Ini adalah puisi tentang diet
Sebuah wacana, yg seringnya membuat otak dan perasaan tidak seirama
Penyebab kekacauan psikis
Membicarakannya membuatku kesal
Kita sudahi saja.
Saturday, 14 October 2017
Hujan Merindu Juni
Ini bukan bulan Juni
tapi hujan menemuiku hari ini
bertanya lagi tentang peristiwa kecil
yang kita lewati di bulan Juni
Angin mendingin dan berisik,
memaksaku terus mencarimu
melewati rinai hujan yg mengetuk kepalaku
Katanya, kau ada di dalam sana
Ah,
Kamu memang selalu berada di sana
dan akan selalu tersenyum
Semanis senyummu di bulan Juni itu
Ketika angin berisik,
dan hujan mengetuk kepalaku
seperti saat ini..
Friday, 13 October 2017
Gelandangan
Sejak subuh tadi aku terbangun, mengamati satu per satu orang yang lewat di depanku. Lelaki, perempuan, tua, muda, semua aku perhatikan wajahnya. Dan dia tidak ada di antara mereka semua. Aku akan menunggu sampai mataku tak kuat lagi membuka. Seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi.
Beberapa orang melempar koin kepadaku. Ada juga yang melemparkan makanan, roti, permen, nasi bungkus bahkan air mineral. Dikiranya aku pengemis. Sama sekali aku tidak ada niatan mengemis, hai Tuan Nyonya. Aku hanya sedang menunggu. Tapi aku tidak berbicara. Kau tau, aku hanya berbicara pada diriku sendiri, karena yang lain tidak bisa kupercaya.
Koin-koin itu tidak aku apa-apakan, nanti malam akan ada yang mengambilnya, seperti biasa. Dan makanan minuman itu, aku memakannya jika perutku bilang aku harus memakannya. Tapi sisanya nanti malam juga akan ada yang mengambilnya dari hadapanku, seperti biasa. Mereka butuh koin, makanan dan minuman itu melebihi aku, katanya.
Satu hari
Dua hari
Satu minggu
Dua minggu
Sebulan
Empat bulan
Setahun
Dia tetap tidak ada di antara orang-orang yang lalu lalang.
Bentukku sudah semakin mirip dengan pembatas jalan di belakangku ini.
Hitam, kumal, berdebu dan kotor.
Begitu juga di dalamnya.
Sudah seminggu ini darah keluar dari batukku.
Nafasku juga mulai susah, seperti mengandung ribuan butir debu.
Itu dia. Pemuda gagah berkaos putih itu dia.
Aku berdiri. Susah. Aku bisa berdiri. Aku berlari mengejarnya. Aku terjatuh. Aku tak kuat lagi.
"Anakkuuu!!". Itu satu-satunya kata yang bisa kukeluarkan.
Tubuhku sudah tidak mau lagi bergerak. Aku bergerak sendiri, aku berlari ke arahnya tetapi tubuhku terdiam tergeletak di jalanan. Dia sama sekali tidak mengabaikanku. Aku berbicara, tapi tidak ada suara. Aku seperti tidak terlihat. Seperti biasanya.
Dan dia terus berjalan menjauh, menaiki mobil dan berlalu.
Seperti biasanya.
Thursday, 12 October 2017
Kamar Mandi
Toilet perempuan, terdiri dari dua bilik yang bersebelahan.
Jumlah pegawai perempuan di lantai yang kutempati ini adalah 5 orang.
Aku, Mita, Anis, Nurul, dan Rina.
Pukul 12 siang, biasanya para pegawai keluar untuk makan siang.
Aku jarang ikut, karena aku lebih suka bawa bekal dari rumah.
Lebih enak dan murah.
Selepas makan siang, aku ke toilet.
Membawa handphone karena aku berniat buang air besar.
Daripada bengong menunggu hajat selesai, aku browsing.
Terdengar ada yang masuk ke bilik di sebelahku.
Oh rupanya kawan-kawanku sudah pada balik kantor.
Tak lama terdengar kloset disiram dan seseorang itu keluar dari toilet.
Keasikan browsing aku jadi masih disitu sampai terdengar ada langkah lagi orang masuk ke bilik sebelah.
"Na?"
"Ya! Rina yak?"
"Iya. Sore nanti ke rumahku ya."
"Ada acara apa?"
"Nggak kok, cuma kumpul-kumpul aja, ajakin yang lain juga."
"Insyaallah."
Aku menyudahi kegiatanku. Menyiram kloset dan membersihkan diri.
"Duluan ya Rin!"
"Ya."
Aku pun kembali ke ruanganku dan melanjutkan pekerjaanku.
Tak lama beberapa kawanku datang membawa banyak makanan.
Donat, pizza, asinan dan juga berbagai macam jus buah.
"Kami dataaaangggg!"
"Na, ayo makan. Rina ulang tahun ternyata hari ini, makanya dia nyuruh kita-kita bawain ini semua buat kita seruangan," kata Anis semangat sekali.
"Ohh,,pantesan dia nyuruh aku ngajak kalian ke rumahnya sore ini," kataku sambil mengambil donat coklat kacang dan menggigitnya.
"Apaan, nggak jadiii... Rina tadi langsung cabut ke bandara setelah memborong ini semua. Kan adeknya jemput disana tadi," sahut Anis.
"Yeee...bandara dari hong kong, barusan gue ketemu di toilet, dia nyuruh aku ngajak kalian kok," kataku gak mau kalah.
"Yaelah kagak percaya banget, pesawatnya berangkat sore ini jam 3 coy! Dia pulang kampung," sahut Nurul.
"Masak sih?"
Tiba-tiba aku merinding.