Siang itu udara panas di luar rumah, sedangkan di dalam rumah, tentu saja kipas angin memiliki peran besar membuat udara bergerak sehingga terasa sedikit sejuk. Ayah baru berniat memasang televisi baru yang dibelinya untuk menggantikan televisi yang tiba-tiba rusak semalam. Celingak celinguk dicarinya kantong plastik kecil berisi 6 butir baut. Tidak ketemu. Dia mencurigai kedua anaknya yang memang biasa memindahkan barang-barang ke tempat yang tidak terduga-duga.
"Siapa nih yang mindahin baut ayah?"
"Aku tidak," jawab si Bungsu
"Aku juga tidak," sahut si Sulung.
"Apa tidak usah dipasang saja nih tivinya? Biar ga bisa liat tivi lagi?"
Ayah mencari ke seluruh penjuru rumah sambil kesal. Tidak juga ditemukannya baut itu. Bunda pun mulai ikut mencari dan hasilnya pun nihil. Kedua anak itu tidak kalah sibuk, mereka berlarian kesana kemari sambil melemparkan barang-barang, berusaha "mencari baut". Tanpa suara ayah dan bunda terus mencari dan memikirkan solusi.
"Hafi, ayo sini," si Sulung memanggil adiknya. Dia berdiri di samping dipan yang terletak di ruang keluarga. Adiknya yang sedang "mencari baut" di dapur, buru-buru menghampiri.
"Ayo angkat! Satu! Dua! Tiiii...ga!." Kedua anak kecil berumur 4 dan 6 tahun itupun bekerja sama mengangkat satu sisi dipan, seperti yang biasa dilakukan ayah atau ibunya ketika mencari benda yang dicurigai berada di bawah dipan. Mereka terlihat keberatan.
"Sudah sudah!" suara ayah terdengar sedikit melunak, mungkin karena dalam hati dia menghargai usaha kedua anak itu.
"Sudah Hafi ayo kita turunkan! Kata ayah tidak ada!"
"Huh, berat sekali. Sekarang kita jadi detektif, Hafi, sekarang kamu jadi asisten aku!" Si kakak berkata dengan sangat serius.
"Jadi apakah aku sekarang bernama Gani?" Si adik menjawab tidak kalah serius.
"Tidak Hafi, kamu jadi Baba."
"Baiklah. Kasus ke sebelas, siapakah yang menghilangkan baut?"
"Iya. Detektif peet, kasus ke sebelas, siapakah yang menghilangkan baut? Ayo kita pecahkan kasusnya!"
Dan mereka pun mulai berkeliaran di seluruh rumah mengintip kesana kesini mencari baut yang hilang. Sedangkan ayah dan bunda tidak tahu harus bilang apa, mereka hanya saling melirik dan tersenyum geli bercampur kesal. Dalam kondisi serius, kedua anaknya malah bermain peran mengikuti film kartun "Detektif Peet" dicampur "Tayo" ketika Rogi dan Gani pura-pura menjadi detektif.
Tak lama kemudian, ayah memutuskan unuk berangkat membeli baut pengganti. Dan kedua detektif itupun mengucap :
"Da da, Ayaaahh! Hati-hati di jalan yaaa!"
Tuesday, 31 October 2017
Monday, 30 October 2017
Manusia Tanpa Kartu
Semua warga kampung sini memanggilnya Fulan, walaupun sebenarnya, tidak ada satupun yang tahu nama aslinya. Rumahnya ada di ujung jalan setapak yang memisahkan rumahku dengan rumah kakekku, tepat berada di bawah rimbunan pohon bambu. Di sanalah setiap hari aku bermain dan mendengarkan dia bercerita tentang apapun yang kutahu sebagian besar ceritanya itu hanya ada di dalam kepalanya saja, tidak benar-benar ada di dunia nyata.
Paman Fulan orangnya sangat tampan, kulitnya putih dan matanya kebiru-biruan. Rambutnya coklat dan hidungnya sangat mancung, sangat berbeda dengan orang-orang di kampung kami yang berkulit cokelat gelap dan rambut hitam. Kalau mau tau seperti apa dia, kamu bisa lihat di televisi, dia itu mirip seperti Mike Lewis, tapi rambutnya cokelat dan matanya biru, itu saja. Saking miripnya sampai-sampai dulu aku mengira Paman Fulan bisa masuk ke dalam televisi. Cuma bentuk fisiknya saja yang membuatnya sangat berbeda, logat bicara dan tindak tanduknya sama saja dengan kebanyakan warga kampung kami. Tapi ada satu kelebihan Paman Fulan, yaitu dia sangat suka sekali bercerita, kurasa kalau dia sungguh-sungguh, dia bisa jadi juru dongeng paling hebat di seantero dunia. Karena ceritanya itu pulalah setiap hari aku rajin datang dan membantunya meraut bilah-bilah bambu tanpa dibayar.
Pagi ini aku sudah duduk rapih di depan ruman Paman Fulan, membawa pisau kecil untuk menghaluskan bilah-bilah bambu.
"Anak pintar, pagi-pagi sudah siap bekerja!" Paman Fulan keluar dari rumahnya masih berbungkus sarung.
"Iya Paman, hari ini aku mau mendengar ceritamu yang baru, dan seperti biasa, aku akan membantumu menghaluskan bilah-bilah bambu yang akan kau anyam ini," jawabku penuh semangat.
"Hari ini kita libur bekerja, Nak. Kamu duduk saja mendengarkan ceritaku, karena hari ini hari istimewa." Paman Fulan mengangkat aku dan mendudukkan aku di bale-bale yang ada di depan rumah bambunya, lalu dia masuk kembali ke dalam rumah kecilnya.
Tak lama kemudian Paman Fulan keluar membawa sebuah peti dan meletakkannya di depanku. Dibukanya dengan hati-hati peti itu lalu dikeluarkannya sebuah kain berwarna coklat yang berbentuk seperti baju penjaga hutan yang pernah aku lihat di televisi.
"Kamu tahu apa ini?" Aku menggeleng.
"Hari ini aku akan bercerita tentang baju ini. Baju ini sangat bersejarah dan penuh arti buat paman. Mungkin seumur hidup paman, baju ini akan tetap paman jaga. Nanti, kalau sewaktu-waktu paman meninggal, paman menitipkan wasiat besar padamu ya! Tolong ikutkan baju ini di kubur paman." Aku mengangguk riang, aku diberi wasiat penting! Meskipun aku tidak yakin Paman Fulan akan cepat mati, karena umurnya masih muda, kata ayahku, perkiraan umur Paman Fulan itu tiga puluhan, apakah mendekati tiga puluh atau empat puluh aku tak tahu, jadi kubilang umurnya tiga puluh lima tahun saja.
Aku menatap matanya yang biru berkilauan. Aku tahu Paman Fulan adalah orang yang sangat cerdas, aku pernah mendengar cerita kakekku tentang asal usul Paman Fulan. Bahwa suatu hari di kampung kami tiba-tiba muncul seseorang dari hutan yang terletak di ujung kampung. Dia hanya berdiri saja sepanjang hari di bawah pohon beringin di pasar, memperhatikan orang-orang lalu lalang. Anak-anak kecil, mengerumuninya karena keanehannya. Tubuhnya mirip seperti gembel gila, tanpa baju. Setelah tiga hari seperti itu, para tetua kampung membawanya ke kantor desa, membersihkannya, menggunduli rambutnya yang gimbal dan memberikannya pakaian. Ditanya apapun mulutnya hanya mengembangkan senyum yang sangat lebar, tanpa satu patah kata pun, sehingga warga kampung mengira dia bisu dan tuli. Lalu dia tinggal di pondok kecil ini, pondok yang sebelumnya adalah rumah nenek tua tanpa keluarga yang meninggal beberapa hari sebelum kedatangan Paman Fulan di kampung ini. Setiap hari dia duduk di pasar, memperhatikan orang-orang seperti sedang mempelajari sesuatu, dan benar, selang lima bulan sejak kedatangannya, tiba-tiba Paman Fulan bisa berbicara dan bertingkah layaknya manusia biasa. Paman Fulan sudah ada di rumah ini kurang lebih 10 tahun, aku rasa dia datang ke sini ketika aku dalam kandungan ibuku.
"Baju ini adalah milik seorang perempuan yang sangat mencintai hutan. Sepanjang hari sepanjang malam dia berkeliling hutan. Dibuatnya pondok kecil di atas pohon tempat dia tidur bersama burung-burung hantu dan juga monyet-monyet. Anjing-anjing hutan menjadi teman bermainnya sehari-hari. Dia sangat senang tinggal di hutan itu, hingga suatu hari, perempuan itu menemukan seorang laki-laki yang juga sangat mencintai hutan. Sama seperti dia, hanya saja, laki-laki ini belum tinggal di hutan."
"Apakah di hutan itu ada makanan?"
"Ya, di hutan banyak sekali makanan, ada sayuran, ada buah-buahan dan juga ada umbi-umbian. Kamu bisa membuat ikan bakar, membuat sate ayam dan juga membakar burung. Lezat sekali."
"Wow. Lalu perempuan dan laki-laki itu, apakah mereka memberikan bajunya padamu?"
"Iya, tapi dengarkan dulu ceritanya. Perempuan dan laki-laki itu kemudian menikah lalu bersama-sama tinggal di hutan. Tak lama perempuan itu mengandung seorang bayi. Sayangnya, ketika saat melahirkan, suaminya sedang pergi ke kota membeli kebutuhan dan tidak ada saat istrinya melahirkan. Dan ternyata, perempuan itu akhirnya harus meninggal karena kelahiran putranya tidak berjalan sebagaimana seharusnya." Paman Fulan tersenyum sangat samar.
"Lalu apakah anaknya masih hidup? Apakah anaknya bertemu dengan ayahnya?"
"Iya, anaknya masih hidup. Monyet-monyet dan anjing-anjing yang baik hati membawa anak itu pergi dan sampai saat terakhir, bayi itu tidak bertemu dengan ayahnya." Paman Fulan berhenti bercerita, dielus-elusnya kepalaku yang mulai gondrong.
"Bayi itu tumbuh besar dan hidup di dalam hutan bersama monyet-monyet dan anjing-anjing. Setiap hari berlarian kesana kemari bersama-sama. Mereka tumbuh besar dan menua bersama, hingga anjing-anjing dan monyet-monyet yang membersamainya sejak bayi mati satu per satu."
"Si bayi yang beranjak besar mulai berfikir, hewan apakah dia? Orang tuanya siapa? Apakah ada makhluk yang seperti dia? Kenapa dia hidup bersama monyet dan anjing dan hewan-hewan hutan yang tidak ada yang seperti dia?"
"Kasihan bayi itu."
"Iya, kasihan. Sampai pada akhirnya dia berjalan terus menerus berkeliling hutan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Lama sekali dia berjalan dan sangat jauh sampai akhirnya dia sampai di sebuah perkampungan. Di sana dia melihat mereka semua, sekumpulan manusia! Iya, makhluk yang sama seperti dia. Dia sangat senang sekali tapi dia sama sekali tidak mengerti apa yang orang-orang itu lakukan dan bicarakan."
"Sepanjang hari dia mengamati orang-orang itu berusaha mencerna, dia ingin bersuara tetapi tidak bisa. Jadi dia hanya mematung disitu sampai pada akhirnya ada orang-orang yang datang membawanya pergi dan menjadikannya seperti manusia yang lain."
"Apakah bayi itu adalah, Paman?"
Paman Fulan hanya tersenyum tanpa memperlihatkan giginya, tanda bahwa jawaban atas pertanyaanku adalah benar. Paman Fulan setiap hari menceritakan kisah baru kepadaku dan selalu membuatku bertanya-tanya. Terkadang ceritanya sangat ajaib sehingga aku tahu cerita itu hanya karangan dia saja. Tetapi terkadang ceritanya begitu dapat aku percaya, sehingga aku berfikir bahwa dia sedang menceritakan orang yang ada di sekitarku, atau bahkan tentang dirinya sendiri. Setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu membuatku berpikir keras, tetapi aku bisa merasakan apa jawaban yang ingin diberikan Paman Fulan. Aku mungkin terdengar sok tahu, tapi kurasa aku benar tentang hal itu.
Pernah suatu kali Paman Fulan bercerita tentang bagaimana cara dia menemukan teknik menganyam bambu yang baik dan benar. Katanya dia memperoleh ilmu menganyam itu dari seorang nenek-nenek tua yang memberikannya ilmu lewat mimpi. Di mimpinya itu, dia diajari cara meraut bambu tanpa menyentuh dan tanpa tenaga. Lalu dia bilang, nenek-nenek itu kenal dengan aku, makanya aku jadi rajin datang ke pondok Paman Fulan dan membantu dia meraut bambu-bambu yang sudah dia belah-belah. Aku tahu dia mengarang penuh cerita itu, walaupun pada kenyataannya dia berhasil meraut bambu tanpa menyentuh dan tanpa tenaga, karena akulah yang megerjakannya. Sungguh jenius bukan?
"Jadi baju itu adalah baju ibunya Paman?"
Lagi-lagi Paman Fulan hanya tersenyum seperti sebelumnya. Dia lalu mencium baju itu, dan memasukkannya kembali ke dalam peti.
"Kamu tahu, Danar, manusia itu diberikan akal dan perasaan oleh Tuhannya sehingga dia itu bisa berfikir dan merasakan. Manusia dari hutan itu pada akhirnya bisa berbicara seperti kita, bertingkah laku seperti kita dan hidup seperti kita. Seperti bayi yang awalnya tidak bisa berbicara, berjalan dan berhitung, manusia ini bertahun kemudian akhirnya menjalani hidupnya benar-benar sebagai manusia."
"Apakah manusia yang berasal dari hutan itu adalah Paman? Hahaha. Menurut kamu, apakah mungkin ada bayi yang dirawat oleh monyet-monyet dan anjing-anjing sampai besar?"
"Ya mungkin saja, Paman. Anjing-anjing dan monyet-monyet itu kan baik." Paman Fulan tergelak mendengar jawabanku.
"Kalau begitu, mungkin saja bayi itu adalah paman."
"Suatu saat nanti, apakah paman akan tinggal di hutan?"
"Tentu tidak. Paman akan terus di sini sampai paman memiliki anak cucu."
"Hahahaha! Kalau begitu Paman harus menikah!"
"Iya, nanti paman akan menikah setelah paman memiliki kartu-kartu itu. Kartu-kartu manusia, kartu yang harus paman urus supaya paman bisa disebut manusia seutuhnya," jawabnya sambil tersenyum sangat lebar.
Aku tertawa mendengar kalimat terakhirnya, karena aku melihat Paman Fulan adalah laki-laki yang utuh tidak kurang satu apapun. Bahkan banyak sekali gadis-gadis yang tertawan wajahnya yang rupawan. Hanya saja, kata orang-orang, kalau dia mau menikah minimal dia punya KTP dan KK, sedangkan nama pun Paman Fulan tidak punya. Ah urusan orang tua terkadang memang rumit.
Paman Fulan orangnya sangat tampan, kulitnya putih dan matanya kebiru-biruan. Rambutnya coklat dan hidungnya sangat mancung, sangat berbeda dengan orang-orang di kampung kami yang berkulit cokelat gelap dan rambut hitam. Kalau mau tau seperti apa dia, kamu bisa lihat di televisi, dia itu mirip seperti Mike Lewis, tapi rambutnya cokelat dan matanya biru, itu saja. Saking miripnya sampai-sampai dulu aku mengira Paman Fulan bisa masuk ke dalam televisi. Cuma bentuk fisiknya saja yang membuatnya sangat berbeda, logat bicara dan tindak tanduknya sama saja dengan kebanyakan warga kampung kami. Tapi ada satu kelebihan Paman Fulan, yaitu dia sangat suka sekali bercerita, kurasa kalau dia sungguh-sungguh, dia bisa jadi juru dongeng paling hebat di seantero dunia. Karena ceritanya itu pulalah setiap hari aku rajin datang dan membantunya meraut bilah-bilah bambu tanpa dibayar.
Pagi ini aku sudah duduk rapih di depan ruman Paman Fulan, membawa pisau kecil untuk menghaluskan bilah-bilah bambu.
"Anak pintar, pagi-pagi sudah siap bekerja!" Paman Fulan keluar dari rumahnya masih berbungkus sarung.
"Iya Paman, hari ini aku mau mendengar ceritamu yang baru, dan seperti biasa, aku akan membantumu menghaluskan bilah-bilah bambu yang akan kau anyam ini," jawabku penuh semangat.
"Hari ini kita libur bekerja, Nak. Kamu duduk saja mendengarkan ceritaku, karena hari ini hari istimewa." Paman Fulan mengangkat aku dan mendudukkan aku di bale-bale yang ada di depan rumah bambunya, lalu dia masuk kembali ke dalam rumah kecilnya.
Tak lama kemudian Paman Fulan keluar membawa sebuah peti dan meletakkannya di depanku. Dibukanya dengan hati-hati peti itu lalu dikeluarkannya sebuah kain berwarna coklat yang berbentuk seperti baju penjaga hutan yang pernah aku lihat di televisi.
"Kamu tahu apa ini?" Aku menggeleng.
"Hari ini aku akan bercerita tentang baju ini. Baju ini sangat bersejarah dan penuh arti buat paman. Mungkin seumur hidup paman, baju ini akan tetap paman jaga. Nanti, kalau sewaktu-waktu paman meninggal, paman menitipkan wasiat besar padamu ya! Tolong ikutkan baju ini di kubur paman." Aku mengangguk riang, aku diberi wasiat penting! Meskipun aku tidak yakin Paman Fulan akan cepat mati, karena umurnya masih muda, kata ayahku, perkiraan umur Paman Fulan itu tiga puluhan, apakah mendekati tiga puluh atau empat puluh aku tak tahu, jadi kubilang umurnya tiga puluh lima tahun saja.
Aku menatap matanya yang biru berkilauan. Aku tahu Paman Fulan adalah orang yang sangat cerdas, aku pernah mendengar cerita kakekku tentang asal usul Paman Fulan. Bahwa suatu hari di kampung kami tiba-tiba muncul seseorang dari hutan yang terletak di ujung kampung. Dia hanya berdiri saja sepanjang hari di bawah pohon beringin di pasar, memperhatikan orang-orang lalu lalang. Anak-anak kecil, mengerumuninya karena keanehannya. Tubuhnya mirip seperti gembel gila, tanpa baju. Setelah tiga hari seperti itu, para tetua kampung membawanya ke kantor desa, membersihkannya, menggunduli rambutnya yang gimbal dan memberikannya pakaian. Ditanya apapun mulutnya hanya mengembangkan senyum yang sangat lebar, tanpa satu patah kata pun, sehingga warga kampung mengira dia bisu dan tuli. Lalu dia tinggal di pondok kecil ini, pondok yang sebelumnya adalah rumah nenek tua tanpa keluarga yang meninggal beberapa hari sebelum kedatangan Paman Fulan di kampung ini. Setiap hari dia duduk di pasar, memperhatikan orang-orang seperti sedang mempelajari sesuatu, dan benar, selang lima bulan sejak kedatangannya, tiba-tiba Paman Fulan bisa berbicara dan bertingkah layaknya manusia biasa. Paman Fulan sudah ada di rumah ini kurang lebih 10 tahun, aku rasa dia datang ke sini ketika aku dalam kandungan ibuku.
"Baju ini adalah milik seorang perempuan yang sangat mencintai hutan. Sepanjang hari sepanjang malam dia berkeliling hutan. Dibuatnya pondok kecil di atas pohon tempat dia tidur bersama burung-burung hantu dan juga monyet-monyet. Anjing-anjing hutan menjadi teman bermainnya sehari-hari. Dia sangat senang tinggal di hutan itu, hingga suatu hari, perempuan itu menemukan seorang laki-laki yang juga sangat mencintai hutan. Sama seperti dia, hanya saja, laki-laki ini belum tinggal di hutan."
"Apakah di hutan itu ada makanan?"
"Ya, di hutan banyak sekali makanan, ada sayuran, ada buah-buahan dan juga ada umbi-umbian. Kamu bisa membuat ikan bakar, membuat sate ayam dan juga membakar burung. Lezat sekali."
"Wow. Lalu perempuan dan laki-laki itu, apakah mereka memberikan bajunya padamu?"
"Iya, tapi dengarkan dulu ceritanya. Perempuan dan laki-laki itu kemudian menikah lalu bersama-sama tinggal di hutan. Tak lama perempuan itu mengandung seorang bayi. Sayangnya, ketika saat melahirkan, suaminya sedang pergi ke kota membeli kebutuhan dan tidak ada saat istrinya melahirkan. Dan ternyata, perempuan itu akhirnya harus meninggal karena kelahiran putranya tidak berjalan sebagaimana seharusnya." Paman Fulan tersenyum sangat samar.
"Lalu apakah anaknya masih hidup? Apakah anaknya bertemu dengan ayahnya?"
"Iya, anaknya masih hidup. Monyet-monyet dan anjing-anjing yang baik hati membawa anak itu pergi dan sampai saat terakhir, bayi itu tidak bertemu dengan ayahnya." Paman Fulan berhenti bercerita, dielus-elusnya kepalaku yang mulai gondrong.
"Bayi itu tumbuh besar dan hidup di dalam hutan bersama monyet-monyet dan anjing-anjing. Setiap hari berlarian kesana kemari bersama-sama. Mereka tumbuh besar dan menua bersama, hingga anjing-anjing dan monyet-monyet yang membersamainya sejak bayi mati satu per satu."
"Si bayi yang beranjak besar mulai berfikir, hewan apakah dia? Orang tuanya siapa? Apakah ada makhluk yang seperti dia? Kenapa dia hidup bersama monyet dan anjing dan hewan-hewan hutan yang tidak ada yang seperti dia?"
"Kasihan bayi itu."
"Iya, kasihan. Sampai pada akhirnya dia berjalan terus menerus berkeliling hutan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Lama sekali dia berjalan dan sangat jauh sampai akhirnya dia sampai di sebuah perkampungan. Di sana dia melihat mereka semua, sekumpulan manusia! Iya, makhluk yang sama seperti dia. Dia sangat senang sekali tapi dia sama sekali tidak mengerti apa yang orang-orang itu lakukan dan bicarakan."
"Sepanjang hari dia mengamati orang-orang itu berusaha mencerna, dia ingin bersuara tetapi tidak bisa. Jadi dia hanya mematung disitu sampai pada akhirnya ada orang-orang yang datang membawanya pergi dan menjadikannya seperti manusia yang lain."
"Apakah bayi itu adalah, Paman?"
Paman Fulan hanya tersenyum tanpa memperlihatkan giginya, tanda bahwa jawaban atas pertanyaanku adalah benar. Paman Fulan setiap hari menceritakan kisah baru kepadaku dan selalu membuatku bertanya-tanya. Terkadang ceritanya sangat ajaib sehingga aku tahu cerita itu hanya karangan dia saja. Tetapi terkadang ceritanya begitu dapat aku percaya, sehingga aku berfikir bahwa dia sedang menceritakan orang yang ada di sekitarku, atau bahkan tentang dirinya sendiri. Setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu membuatku berpikir keras, tetapi aku bisa merasakan apa jawaban yang ingin diberikan Paman Fulan. Aku mungkin terdengar sok tahu, tapi kurasa aku benar tentang hal itu.
Pernah suatu kali Paman Fulan bercerita tentang bagaimana cara dia menemukan teknik menganyam bambu yang baik dan benar. Katanya dia memperoleh ilmu menganyam itu dari seorang nenek-nenek tua yang memberikannya ilmu lewat mimpi. Di mimpinya itu, dia diajari cara meraut bambu tanpa menyentuh dan tanpa tenaga. Lalu dia bilang, nenek-nenek itu kenal dengan aku, makanya aku jadi rajin datang ke pondok Paman Fulan dan membantu dia meraut bambu-bambu yang sudah dia belah-belah. Aku tahu dia mengarang penuh cerita itu, walaupun pada kenyataannya dia berhasil meraut bambu tanpa menyentuh dan tanpa tenaga, karena akulah yang megerjakannya. Sungguh jenius bukan?
"Jadi baju itu adalah baju ibunya Paman?"
Lagi-lagi Paman Fulan hanya tersenyum seperti sebelumnya. Dia lalu mencium baju itu, dan memasukkannya kembali ke dalam peti.
"Kamu tahu, Danar, manusia itu diberikan akal dan perasaan oleh Tuhannya sehingga dia itu bisa berfikir dan merasakan. Manusia dari hutan itu pada akhirnya bisa berbicara seperti kita, bertingkah laku seperti kita dan hidup seperti kita. Seperti bayi yang awalnya tidak bisa berbicara, berjalan dan berhitung, manusia ini bertahun kemudian akhirnya menjalani hidupnya benar-benar sebagai manusia."
"Apakah manusia yang berasal dari hutan itu adalah Paman? Hahaha. Menurut kamu, apakah mungkin ada bayi yang dirawat oleh monyet-monyet dan anjing-anjing sampai besar?"
"Ya mungkin saja, Paman. Anjing-anjing dan monyet-monyet itu kan baik." Paman Fulan tergelak mendengar jawabanku.
"Kalau begitu, mungkin saja bayi itu adalah paman."
"Suatu saat nanti, apakah paman akan tinggal di hutan?"
"Tentu tidak. Paman akan terus di sini sampai paman memiliki anak cucu."
"Hahahaha! Kalau begitu Paman harus menikah!"
"Iya, nanti paman akan menikah setelah paman memiliki kartu-kartu itu. Kartu-kartu manusia, kartu yang harus paman urus supaya paman bisa disebut manusia seutuhnya," jawabnya sambil tersenyum sangat lebar.
Aku tertawa mendengar kalimat terakhirnya, karena aku melihat Paman Fulan adalah laki-laki yang utuh tidak kurang satu apapun. Bahkan banyak sekali gadis-gadis yang tertawan wajahnya yang rupawan. Hanya saja, kata orang-orang, kalau dia mau menikah minimal dia punya KTP dan KK, sedangkan nama pun Paman Fulan tidak punya. Ah urusan orang tua terkadang memang rumit.
Sunday, 29 October 2017
Bapak
Saya mengenal seorang laki-laki yang sangat galak
Kaku dan suka marah-marah
Tidak ada satu orangpun yang saya kenal
Yang berbaur bersamanya
dan tidak pernah kena marah
Namun,
Dia adalah laki-laki yang penuh dengan cinta yang pernah saya kenal
Dia adalah laki-laki yang penuh tanggung jawab yang pernah saya kenal
Dia adalah laki-laki yang penuh perhatian yang saya kenal
Dia adalah laki-laki yang paling teguh pendirian yang saya kenal
Dia adalah bagi ribuan orang yang pernah saya kenal dan tanpa pamrih
Dia adalah seorang guru yang sebenar-benarnya
Dia adalah seorang pembelajar yang sesungguhnya
Dia adalah bapak
Bapak saya
Yang saya cintai
Kaku dan suka marah-marah
Tidak ada satu orangpun yang saya kenal
Yang berbaur bersamanya
dan tidak pernah kena marah
Namun,
Dia adalah laki-laki yang penuh dengan cinta yang pernah saya kenal
Dia adalah laki-laki yang penuh tanggung jawab yang pernah saya kenal
Dia adalah laki-laki yang penuh perhatian yang saya kenal
Dia adalah laki-laki yang paling teguh pendirian yang saya kenal
Dia adalah bagi ribuan orang yang pernah saya kenal dan tanpa pamrih
Dia adalah seorang guru yang sebenar-benarnya
Dia adalah seorang pembelajar yang sesungguhnya
Dia adalah bapak
Bapak saya
Yang saya cintai
Saturday, 28 October 2017
Ibuk
Ibuk adalah panggilan saya kepada ibu saya. Seorang perempuan yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, dan sejuta kegiatan lainnya untuk saya komplit dengan limpahan kasih sayangnya. Seorang perempuan sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarganya, terutama kami, anak-anaknya.
Saya akan memperkenalkan teman-teman semua pada ibu saya. Namanya Endang, lahir pada tahun 1954, silahkan hitung sendiri berapa usia beliau (seandainya masih hidup saat ini). Ibu saya asli orang Ngawi, Jawa Timur. Ibu saya dua bersaudara seayah dan seibu dengan kakaknya, dan memiliki 5 saudara seayah berbeda ibu. Ibuk kecil menjadi piatu pada usianya yang ke 3,5 tahun.
Suatu ketika, bapaknya ibuk kecil ingin menikah lagi dengan seorang wanita, dimana wanita itu adalah anak angkat dari suami istri yang tidak dikaruniai anak. Untuk menggantikan anak angkat yang dinikahi oleh bapaknya, ibuk kecil kemudian diangkat menjadi anak dari mertua bapaknya tersebut. Dan sejak saat itu, orang tua dari ibuk adalah kakek dan neneknya tersebut. Dan kelak kakek nenek itu juga yang saya kenal sebagai kakek dan nenek saya.
Ibuk menempuh pendidikan di SR dan PGA 4 tahun di Ngawi. Dimana ketika PGA itulah ibuk bertemu dengan bapak yang saat itu adalah guru di PGA. Hingga kemudian ibuk dan bapak menikah dan tinggal di rumah orang tua bapak. Ibuk adalah menantu kesayangan di rumah bapak, dimana waktu itu ayahnya bapak sudah meninggal jadi tinggal ibu dari bapak yang masih ada. Ibu merawat mbak putri dengan sangat baik dan mbah putri juga sangat menyayangi ibuk. Setiap kali membutuhkan seseorang, mbah putri selalu mencari ibuk sampai saudara-saudara bapak menjadi cemburu. Haha. Hingga kemudian mbah putri pun meninggal dunia.
Ibuk lulus PGA, tetapi tidak pernah melihat ijazahnya. Iya, beliau tidak mengurus sampai selesai ijazahnya tersebut. Bapak yang berkomitmen menafkahi keluarganya tidak membiarkan ibuk ikut bekerja, tugas ibuk adalah mengurus rumah dan keluarga kami. Tiga tahun setelah menikah, bapak dan ibuk baru dikaruniai putra, kakak pertama saya. Empat tahun kemudian, putri kedua lahir. Sayangnya, kakak kedua saya ini hanya berumur 2 bulan lalu kemudian meninggal dunia. Betapa sedihnya hati ibuk dan bapak sampai masih sering menangis bertahun kemudian. Dua tahun setelah itu, lahir kakak ketiga saya, cowok. Dua tahun setelahnya, baru saya lahir dan disusul adik saya dua tahun setelah saya lahir. Iya, kami lima bersaudara dan sekarang tinggal empat bersaudara.
Ibuk adalah wanita biasa saja yang setiap hari kegiatannya adalah memasak, membersihkan dan merapikan rumah serta mengurus anak-anak dan suaminya. Ibu adalah wanita cerdas yang setiap malam tidak pernah absen mengajari kami banyak hal, membaca, menulis, mengaji, sholat dan bernyanyi. Ibu adalah wanita yang pintar memasak, tetangga, saudara dan tamu yang pernah datang ke rumah saya saksinya. Dan asal kamu tahu, saking istimewanya masakan ibuk, saya bisa membedakan mana masakan ibuk dan mana masakan orang lain ketika banyak masakan diletakkan di suatu meja.
Kami berempat sudah bisa sholat komplit dengan bacaannya dan membaca alquran sebelum kami masuk TK. Kami sudah pandai menulis sebelum masuk TK juga. Menyanyi? Wah, saat teman-teman belajar menyanyi di TK, kami sudah hafal semua lagi yang sedang diajarkan. Ibuk memang luar biasa.
Ibuk juga mengajari kami melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, mencuci baju, menyapu, dan juga memasak. Kami harus mahir menyapu dan mencuci piring saat SD. Dan ketika mulai memasuki SMP, kami harus sudah bisa mencuci baju kami masing-masing. Tanpa kecuali. Saya mampu mengikuti pendidikan itu, tapi...ternyata saya juga baru bisa keramas sendiri ketika masuk SMP. Hahahahaha, sungguh terlalu saya ini.
Saya sering terkenang ibuk,
Saya terkenang setiap pagi ibuk akan membangunkan kami dengan suaranya yang berasal dari dapur.
Saya terkenang ibuk yang setiap malam sehabis magrib membaca alquran di ruang tamu sambil masih menganakan mukena sepulang dari musholla.
Saya terkenang ibuk akan terlihat sedang memasak ketika saya pulang sekolah sewaktu SD. Jika ibuk membuat bubur kacang hijau hari itu, saya akan melihat pawon yang tidak dimatikan ketika ibuk selesai memasak dan menyapu seluruh dapur, karena di atasnya sedang dimasak kacang hijau yang lama sekali untuk bisa empuk. Dan nanti sore, kami akan menikmati bubur kacang hijau (bercampur beras) yang super lezat dengan kuah yang bercampur parutan kelapa (karena perasan santan yang terikut). Terkadang, ibuk menambahkan potongan ubi jalar dan irisan jahe di bubur itu.
Saya terkenang terkadang di malam hari ibuk memasak lagi makanan karena bapak ingin masakan yang lain dari yang ada di meja makan. Saat itu ibuk sangat kreatif, entah bagaimana caranya ibuk bisa menyulap sebuah jenis makanan baru dari bahan-bahan yang entaha bagaimana caranya ibuk bisa dapatkan (jaman dulu tidak ada kulkas di rumah penduduk ya).
Saya terkenang setiap kali sore hari sehabis mandi, ibuk menggambar alisnya dengan garis kurus melengkung dan memakai lipstik merah. Cantik sekali ibuku.
Saya juga terkenang sewaktu TK dan SD, setiap habis mandi pagi saya didandani oleh ibuk, dipakaikan baju, disisir rambut (dikepang, dikuncir atau di gelung) karena rambut saya yang panjang bukan main. Kemudia diakhiri dengan disuapin nasi pecel dan berangkat sekolah.
Saya juga ingat bahwa saya sering sekali sakit saat ujian catur wulan, sehingga saya harus mengikuti ujian susulan, saat itu ibuk akan mengantarkan saya ke sekolah dengan sepeda. Dan kaki saya diikat di sepeda di bawah sadel supaya kaki saya tidak khawatir terkena jeruji.
Sampai kemudian saya beranjak ABG dan SMA. Saya bersekolah di luar kota saat itu. Ibuk terkadang menelepon saya melalui telepon tetangga kost. Padahal untuk menelepon saya, ibuk harus menempuh jarak kurang lebih 5 kilometer dari rumah sampai ke wartel terdekat. Tidak banyak yang dibahas, ibuk biasanya hanya menanyakan kabar saya dan bagaimana sekolah saya, lalu apakah saya masih punya uang untuk makan dan seterusnya.
Selama ngekost, saya pulang sebulan/dua bulan sekali. Setiap pulang ibuk akan membekali saya dengan beras, kering tempe dan sambel terasi matang. Masakan ibuk itu akan habis satu sampai dua minggu ke depan. Saya jadi kangen dengan sambel terasi ibuk T.T
Bapak saya meninggal saat saya baru saja lulus SMA. Dan sejak itu, ibuk seperti orang asing. Ibuk seperti orang agak gila, pendiam dan tidak mau keluar rumah. Hampir setahun ibuk seperti itu dan baru mau keluar ketika saya minta ibuk mengantar saya ke Surabaya mengurus proses saya pindah kuliah ke Jakarta.
Tak banyak cerita yang saya alami dengan ibuk sejak saya tidak lagi tinggal di rumah, saya hanya pulang beberapa kali dalam setahun sejak SMA itu hingga kemudian saya kuliah di Surabaya dan Jakarta dan kemudian menikah dan tinggal di Jakarta saat ini.
Kami hanya sering bercakap lewat telepon sampai di hari tuanya. Beberapa kali pulang dan beberapa kali juga ibuk mengunjungi saya (yaitu saat saya melahirkan anak pertama saya, melahirkan anak kedua saya dan terakhir ketika ibu mendaftar haji yang tidak sempat berangkat).
Ibuk adalah orang yang sangat sabar penuh kasih sayang, semua saudara keluarga besar dan tetangga saya sayang pada ibuk. Ibuk adalah tetangga yang sangat rajin berbagi dan tidak pernah menolak jika dimintai tolong. Bahkan jika ibuk sendiri pun tidak bisa membantu, dia akan tetap memberikan bantuan semampunya.
Saya tidak sedang memuji-muji ibuk, karena tanpa saya puji, memang seperti itulah ibuk. Wanita luar biasa dengan segala kesederhanaanya. Quote ibuk yang paling saya ingat adalah : Gusti Allah sing mbales, Gusti Allah mboten sare. Biarlah Allah yang membalas dan Allah tidak pernah tidur.
Kenangan akan ibuk tidak akan pernah habis jika saya tuliskan di sini, di kepala dan hati saya, kenangan itu seperti pasir yang memebuhi botol, penuh dan padat. Kenangan yang akan saya bawa sampai seumur hidup saya.
Ibu saya meninggal pada tanggal 18 Oktober 2015 di Rumah Sakit Panti Waluyo Caruban setelah dirawat beberapa hari karena stroke. Stroke yang tiba-tiba terjadi di suatu sore. Ibuk yang semenjak ditinggal bapak ternyata didiagnosa memiliki penyakit diabetes melitus type II akhirnya meninggalkan kami semua selepas sholat maghrib dengan sangat tenang. Insyaallah ibuk khusnuk khotimah dengan banyak sekali amal jariyah yang menemaninya. Amiiiin ya robbal alamiin..
Saya akan memperkenalkan teman-teman semua pada ibu saya. Namanya Endang, lahir pada tahun 1954, silahkan hitung sendiri berapa usia beliau (seandainya masih hidup saat ini). Ibu saya asli orang Ngawi, Jawa Timur. Ibu saya dua bersaudara seayah dan seibu dengan kakaknya, dan memiliki 5 saudara seayah berbeda ibu. Ibuk kecil menjadi piatu pada usianya yang ke 3,5 tahun.
Suatu ketika, bapaknya ibuk kecil ingin menikah lagi dengan seorang wanita, dimana wanita itu adalah anak angkat dari suami istri yang tidak dikaruniai anak. Untuk menggantikan anak angkat yang dinikahi oleh bapaknya, ibuk kecil kemudian diangkat menjadi anak dari mertua bapaknya tersebut. Dan sejak saat itu, orang tua dari ibuk adalah kakek dan neneknya tersebut. Dan kelak kakek nenek itu juga yang saya kenal sebagai kakek dan nenek saya.
Ibuk menempuh pendidikan di SR dan PGA 4 tahun di Ngawi. Dimana ketika PGA itulah ibuk bertemu dengan bapak yang saat itu adalah guru di PGA. Hingga kemudian ibuk dan bapak menikah dan tinggal di rumah orang tua bapak. Ibuk adalah menantu kesayangan di rumah bapak, dimana waktu itu ayahnya bapak sudah meninggal jadi tinggal ibu dari bapak yang masih ada. Ibu merawat mbak putri dengan sangat baik dan mbah putri juga sangat menyayangi ibuk. Setiap kali membutuhkan seseorang, mbah putri selalu mencari ibuk sampai saudara-saudara bapak menjadi cemburu. Haha. Hingga kemudian mbah putri pun meninggal dunia.
Ibuk lulus PGA, tetapi tidak pernah melihat ijazahnya. Iya, beliau tidak mengurus sampai selesai ijazahnya tersebut. Bapak yang berkomitmen menafkahi keluarganya tidak membiarkan ibuk ikut bekerja, tugas ibuk adalah mengurus rumah dan keluarga kami. Tiga tahun setelah menikah, bapak dan ibuk baru dikaruniai putra, kakak pertama saya. Empat tahun kemudian, putri kedua lahir. Sayangnya, kakak kedua saya ini hanya berumur 2 bulan lalu kemudian meninggal dunia. Betapa sedihnya hati ibuk dan bapak sampai masih sering menangis bertahun kemudian. Dua tahun setelah itu, lahir kakak ketiga saya, cowok. Dua tahun setelahnya, baru saya lahir dan disusul adik saya dua tahun setelah saya lahir. Iya, kami lima bersaudara dan sekarang tinggal empat bersaudara.
Ibuk adalah wanita biasa saja yang setiap hari kegiatannya adalah memasak, membersihkan dan merapikan rumah serta mengurus anak-anak dan suaminya. Ibu adalah wanita cerdas yang setiap malam tidak pernah absen mengajari kami banyak hal, membaca, menulis, mengaji, sholat dan bernyanyi. Ibu adalah wanita yang pintar memasak, tetangga, saudara dan tamu yang pernah datang ke rumah saya saksinya. Dan asal kamu tahu, saking istimewanya masakan ibuk, saya bisa membedakan mana masakan ibuk dan mana masakan orang lain ketika banyak masakan diletakkan di suatu meja.
Kami berempat sudah bisa sholat komplit dengan bacaannya dan membaca alquran sebelum kami masuk TK. Kami sudah pandai menulis sebelum masuk TK juga. Menyanyi? Wah, saat teman-teman belajar menyanyi di TK, kami sudah hafal semua lagi yang sedang diajarkan. Ibuk memang luar biasa.
Ibuk juga mengajari kami melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, mencuci baju, menyapu, dan juga memasak. Kami harus mahir menyapu dan mencuci piring saat SD. Dan ketika mulai memasuki SMP, kami harus sudah bisa mencuci baju kami masing-masing. Tanpa kecuali. Saya mampu mengikuti pendidikan itu, tapi...ternyata saya juga baru bisa keramas sendiri ketika masuk SMP. Hahahahaha, sungguh terlalu saya ini.
Saya sering terkenang ibuk,
Saya terkenang setiap pagi ibuk akan membangunkan kami dengan suaranya yang berasal dari dapur.
Saya terkenang ibuk yang setiap malam sehabis magrib membaca alquran di ruang tamu sambil masih menganakan mukena sepulang dari musholla.
Saya terkenang ibuk akan terlihat sedang memasak ketika saya pulang sekolah sewaktu SD. Jika ibuk membuat bubur kacang hijau hari itu, saya akan melihat pawon yang tidak dimatikan ketika ibuk selesai memasak dan menyapu seluruh dapur, karena di atasnya sedang dimasak kacang hijau yang lama sekali untuk bisa empuk. Dan nanti sore, kami akan menikmati bubur kacang hijau (bercampur beras) yang super lezat dengan kuah yang bercampur parutan kelapa (karena perasan santan yang terikut). Terkadang, ibuk menambahkan potongan ubi jalar dan irisan jahe di bubur itu.
Saya terkenang terkadang di malam hari ibuk memasak lagi makanan karena bapak ingin masakan yang lain dari yang ada di meja makan. Saat itu ibuk sangat kreatif, entah bagaimana caranya ibuk bisa menyulap sebuah jenis makanan baru dari bahan-bahan yang entaha bagaimana caranya ibuk bisa dapatkan (jaman dulu tidak ada kulkas di rumah penduduk ya).
Saya terkenang setiap kali sore hari sehabis mandi, ibuk menggambar alisnya dengan garis kurus melengkung dan memakai lipstik merah. Cantik sekali ibuku.
Saya juga terkenang sewaktu TK dan SD, setiap habis mandi pagi saya didandani oleh ibuk, dipakaikan baju, disisir rambut (dikepang, dikuncir atau di gelung) karena rambut saya yang panjang bukan main. Kemudia diakhiri dengan disuapin nasi pecel dan berangkat sekolah.
Saya juga ingat bahwa saya sering sekali sakit saat ujian catur wulan, sehingga saya harus mengikuti ujian susulan, saat itu ibuk akan mengantarkan saya ke sekolah dengan sepeda. Dan kaki saya diikat di sepeda di bawah sadel supaya kaki saya tidak khawatir terkena jeruji.
Sampai kemudian saya beranjak ABG dan SMA. Saya bersekolah di luar kota saat itu. Ibuk terkadang menelepon saya melalui telepon tetangga kost. Padahal untuk menelepon saya, ibuk harus menempuh jarak kurang lebih 5 kilometer dari rumah sampai ke wartel terdekat. Tidak banyak yang dibahas, ibuk biasanya hanya menanyakan kabar saya dan bagaimana sekolah saya, lalu apakah saya masih punya uang untuk makan dan seterusnya.
Selama ngekost, saya pulang sebulan/dua bulan sekali. Setiap pulang ibuk akan membekali saya dengan beras, kering tempe dan sambel terasi matang. Masakan ibuk itu akan habis satu sampai dua minggu ke depan. Saya jadi kangen dengan sambel terasi ibuk T.T
Bapak saya meninggal saat saya baru saja lulus SMA. Dan sejak itu, ibuk seperti orang asing. Ibuk seperti orang agak gila, pendiam dan tidak mau keluar rumah. Hampir setahun ibuk seperti itu dan baru mau keluar ketika saya minta ibuk mengantar saya ke Surabaya mengurus proses saya pindah kuliah ke Jakarta.
Tak banyak cerita yang saya alami dengan ibuk sejak saya tidak lagi tinggal di rumah, saya hanya pulang beberapa kali dalam setahun sejak SMA itu hingga kemudian saya kuliah di Surabaya dan Jakarta dan kemudian menikah dan tinggal di Jakarta saat ini.
Kami hanya sering bercakap lewat telepon sampai di hari tuanya. Beberapa kali pulang dan beberapa kali juga ibuk mengunjungi saya (yaitu saat saya melahirkan anak pertama saya, melahirkan anak kedua saya dan terakhir ketika ibu mendaftar haji yang tidak sempat berangkat).
Ibuk adalah orang yang sangat sabar penuh kasih sayang, semua saudara keluarga besar dan tetangga saya sayang pada ibuk. Ibuk adalah tetangga yang sangat rajin berbagi dan tidak pernah menolak jika dimintai tolong. Bahkan jika ibuk sendiri pun tidak bisa membantu, dia akan tetap memberikan bantuan semampunya.
Saya tidak sedang memuji-muji ibuk, karena tanpa saya puji, memang seperti itulah ibuk. Wanita luar biasa dengan segala kesederhanaanya. Quote ibuk yang paling saya ingat adalah : Gusti Allah sing mbales, Gusti Allah mboten sare. Biarlah Allah yang membalas dan Allah tidak pernah tidur.
Kenangan akan ibuk tidak akan pernah habis jika saya tuliskan di sini, di kepala dan hati saya, kenangan itu seperti pasir yang memebuhi botol, penuh dan padat. Kenangan yang akan saya bawa sampai seumur hidup saya.
Ibu saya meninggal pada tanggal 18 Oktober 2015 di Rumah Sakit Panti Waluyo Caruban setelah dirawat beberapa hari karena stroke. Stroke yang tiba-tiba terjadi di suatu sore. Ibuk yang semenjak ditinggal bapak ternyata didiagnosa memiliki penyakit diabetes melitus type II akhirnya meninggalkan kami semua selepas sholat maghrib dengan sangat tenang. Insyaallah ibuk khusnuk khotimah dengan banyak sekali amal jariyah yang menemaninya. Amiiiin ya robbal alamiin..
Friday, 27 October 2017
Ketika Nganu Menjadi Hiburan
Biasanya, saya jarang nonton TV. Namun akhir-akhir ini saya mulai kembali menonton TV hampir setiap malam menjelang tidur bahkan sampai tertidur dan TV saya nyalakan mode sleep. Bukan apa-apa, terkadang saya takut memejamkan mata, dan suara dari TV itu membuat saya merasa ada kawan sehingga lebih mudah memejamkan mata untuk tidur. Acar yang saya tonton tak lain dan tak bukan adalah acara Stand Up Comedy. Setelah seharian bekerja dan berfikir, saya pikir sebaiknya melemaskan pikiran dengan sesuatu yang lucu seperti Waktu Indonesia Bercanda dan Stand Up Comedy ini.
Sehari-dua hari saya menonton dengan biasa saja, tidak ada pikiran yang mengganjal. Sampai pada suatu ketika saya merasa ada sesuatu yang salah. Dan kemudian seperti biasa saya mulai "berbicara" pada diri saya sendiri. Jadi selama ini saya menertawakan orang yang mengolok-olok orang lain. Itulah yang menurut saya membuat SUC ini menjadi agak salah. Memang tidak semua materinya berisi olok-olok, tetapi banyak yang membuat lelucon dari olok-olok ini.
Duh dek, piye iki? Padahal aku suka nontonnya. Hiks
Dan saya pun sebagai orang yang (sok-sokan) suka nulis, akhirnya menantang diri sendiri untuk membuat skrip/materi SUC, sekaligus membuktikan apakah memang susah mencari materi lucu yang tidak berisi olok-olok. Tantangan yang ternyata membuat saya terdiam lama di depan dekstop tanpa mengetik apa-apa. Mungkin memang susah, atau memang sayanya aja yang tidak pandai melucu.
Sebetulnya tidak cuma di SUC ya, bahkan OVJ dan Fesbuker sudah lebih dulu dicap menjadi tontonan yang tidak baik oleh netizen, kalau SUC sejauh ini masih aman. Olok-olok, pembullyan atau bahkan memaki-maki orang lain dijadikan lelucon dan hiburan kita sehari-hari. Bahkan kalau di media sosial, sempat viral foto-foto dan screen capture percakapan anak SD dengan "pacarnya" dimana mereka bertingkah seperti orang dewasa. sebagian besar orang merasa itu lucu, sebagian yang lain merasa sedih dan miris.
Jadi, setelah seharian capek bekerja, lelah berfikir, lalu kita pulang dan mencari hiburan kemudian kita akan mendapatkan hal-hal nganu yang diharapkan akan membuat kita rileks. Dan semenjak saya berfikir "ada yang salah" itu, saya kok jadi malah berfikir lagi, bukannya rileks. #duhDek
Mungkin memang sebaiknya saya kembali lagi ke buku. Menjadikan buku sahabat karib dalam suka, duka, dan gegana (gelisah galau merana). Nah masalahnya, saya kalau sudah baca buku sulit berhentinya sampai kadang lupa waktu dan urusan lainnya. #DuhDek.
Ah sepertinya ada yang salah dengan saya juga.
Sehari-dua hari saya menonton dengan biasa saja, tidak ada pikiran yang mengganjal. Sampai pada suatu ketika saya merasa ada sesuatu yang salah. Dan kemudian seperti biasa saya mulai "berbicara" pada diri saya sendiri. Jadi selama ini saya menertawakan orang yang mengolok-olok orang lain. Itulah yang menurut saya membuat SUC ini menjadi agak salah. Memang tidak semua materinya berisi olok-olok, tetapi banyak yang membuat lelucon dari olok-olok ini.
Duh dek, piye iki? Padahal aku suka nontonnya. Hiks
Dan saya pun sebagai orang yang (sok-sokan) suka nulis, akhirnya menantang diri sendiri untuk membuat skrip/materi SUC, sekaligus membuktikan apakah memang susah mencari materi lucu yang tidak berisi olok-olok. Tantangan yang ternyata membuat saya terdiam lama di depan dekstop tanpa mengetik apa-apa. Mungkin memang susah, atau memang sayanya aja yang tidak pandai melucu.
Sebetulnya tidak cuma di SUC ya, bahkan OVJ dan Fesbuker sudah lebih dulu dicap menjadi tontonan yang tidak baik oleh netizen, kalau SUC sejauh ini masih aman. Olok-olok, pembullyan atau bahkan memaki-maki orang lain dijadikan lelucon dan hiburan kita sehari-hari. Bahkan kalau di media sosial, sempat viral foto-foto dan screen capture percakapan anak SD dengan "pacarnya" dimana mereka bertingkah seperti orang dewasa. sebagian besar orang merasa itu lucu, sebagian yang lain merasa sedih dan miris.
Jadi, setelah seharian capek bekerja, lelah berfikir, lalu kita pulang dan mencari hiburan kemudian kita akan mendapatkan hal-hal nganu yang diharapkan akan membuat kita rileks. Dan semenjak saya berfikir "ada yang salah" itu, saya kok jadi malah berfikir lagi, bukannya rileks. #duhDek
Mungkin memang sebaiknya saya kembali lagi ke buku. Menjadikan buku sahabat karib dalam suka, duka, dan gegana (gelisah galau merana). Nah masalahnya, saya kalau sudah baca buku sulit berhentinya sampai kadang lupa waktu dan urusan lainnya. #DuhDek.
Ah sepertinya ada yang salah dengan saya juga.
Mitch Albom dan Bukunya
Pernah mendengar buku Tuesday With Morrie? Five People You Meet in Heaven? Time Keeper? For One More Day? Have a Little Faith? Itu semua adalah karya-karya Mitch Albom, penulis favorit saya yang berasal dari New Jersey, Amerika Serikat.
Mitch Albom adalah salah satu penulis yang mengangkat sisi kemanusiaan dan kerohanian manusia pada umumnya. Hampir semua buku-bukunya isinya akan membuat kita baper dan tersentuh sisi kemanusiaan kita. Seperti Tuesday With Morrie, sebuah memoar yang dia tulis dimana dia menceritakan pertemuan-pertemuannya dengan mantan dosennya semasa kuliah, Morrie Schwartz, seorang profesor Sosiologi di Brandeis University. Dimana waktu itu Morrie terjangkit amyotrophic lateral sclerosis (ASL), sebuah penyakit ganas yang menyerang sistem saraf. Dia menjadwalkan sebuah "kuliah kehidupan" dari seorang Morrie yaitu setiap hari Selasa. Buku ini sukses membuat saya tersentuh dan belajar sangat banyak tentang kehidupan dan kemanusiaan. Salah satu kalimat favorit saya di buku ini adalah ketika dia menggambarkan Morrie sebagai sosok yang hangat dimana ketika dia tersenyum, ia seperti baru mendengar kelakar paling lucu di dunia. Saya sampai membayangkan bagaimana senyum Morrie dan berusaha menconteknya. Buku-buku Mitch selalu membuat saya banyak belajar tanpa merasa digurui, membuat saya merasa harus menjadi manusia yang baik dan benar tanpa merasa dipaksa. Buat saya, hampir semua karya Mitch itu luar biasa.
Menurut Wikipedia, karya paling berhasil Mitch Albom adalah bukunya berjudul Tuesday With Morrie. Karyanya yang berjudul For One More Day yang diterbitkan di Amerika Serikat pada tahun 2006 menjadi buku bestseller versi The New York Times selama 9 bulan. Karyanya berjudul Five Peoples You Meet in Heaven juga merupakan keberhasilan dengan terjualnya lebih dari sepuluh juta kopi dan diterjemahkan dalam 35 bahasa. Tiga novel yang telah dia tulis telah difilmkan, termasuk Satu Hari Bersamamu dan Oprah Winfrey menjadi produsernya pada tahun 1999.
Mitch Albom yang saat ini berusia 59 tahun mengawali karir menulisnya sebagai penulis lepas untuk beberapa media massa di New York, melanjutkan karir menjadi penulis tetap untuk beberapa media di Florida dan kemudian menjadi jurnalis olah raga setelah dia pindah ke Detroit. Saat ini, Mitch bekerja untuk radio WJR dan juga sering muncul dalam on ESPN Sports Reporters and Sports Center.
Mitch menempuh pendidikannya di Universitas Brendeis di Waltham, Massachusetts dalam bidang Sosiologi, mungkin itulah salah satu alasan kenapa Mitch sangat lihai melihat sudut-sudut kecil kehidupan sehingga buku-bukunya sarat dengan "pelajaran kehidupan". Mitch juga melanjutkan pendidikan magister dari Columbia University’s Graduate School of Journalism dan diikuti dengan mendapatkan gelar MBA dari Columbia University’s Graduate School of Business. Latar belakang pendidikan inilah yang mungkin membuat tulisan-tulisan Mitch terasa cerdas dan keren, pendidikan sosiologi, jurnalisme, ditambah manajemen, perpaduan yang sangat bagus menurut saya.
Ada satu hal lagi yang membuat karya Mitch begitu mempesona, ternyata dia adalah seorang seniman juga. Pada masa remajanya Mitch belajar piano dan menjadi anggota beberapa grup musik. Bahkan dia juga menulis dan membuat rekaman beberapa lagu. Terlebih lagi, dia menyelesaikan kedua gelar magisternya dengan biaya dari pekerjaannya sebagai pemain piano. Paket komplit, penulis, penulis lagu, pemain musik, penampil televisi sekaligus pengisi radio, Mitch, salah satu penulis favorit saya sampai saat ini.
Mitch Albom adalah salah satu penulis yang mengangkat sisi kemanusiaan dan kerohanian manusia pada umumnya. Hampir semua buku-bukunya isinya akan membuat kita baper dan tersentuh sisi kemanusiaan kita. Seperti Tuesday With Morrie, sebuah memoar yang dia tulis dimana dia menceritakan pertemuan-pertemuannya dengan mantan dosennya semasa kuliah, Morrie Schwartz, seorang profesor Sosiologi di Brandeis University. Dimana waktu itu Morrie terjangkit amyotrophic lateral sclerosis (ASL), sebuah penyakit ganas yang menyerang sistem saraf. Dia menjadwalkan sebuah "kuliah kehidupan" dari seorang Morrie yaitu setiap hari Selasa. Buku ini sukses membuat saya tersentuh dan belajar sangat banyak tentang kehidupan dan kemanusiaan. Salah satu kalimat favorit saya di buku ini adalah ketika dia menggambarkan Morrie sebagai sosok yang hangat dimana ketika dia tersenyum, ia seperti baru mendengar kelakar paling lucu di dunia. Saya sampai membayangkan bagaimana senyum Morrie dan berusaha menconteknya. Buku-buku Mitch selalu membuat saya banyak belajar tanpa merasa digurui, membuat saya merasa harus menjadi manusia yang baik dan benar tanpa merasa dipaksa. Buat saya, hampir semua karya Mitch itu luar biasa.
Menurut Wikipedia, karya paling berhasil Mitch Albom adalah bukunya berjudul Tuesday With Morrie. Karyanya yang berjudul For One More Day yang diterbitkan di Amerika Serikat pada tahun 2006 menjadi buku bestseller versi The New York Times selama 9 bulan. Karyanya berjudul Five Peoples You Meet in Heaven juga merupakan keberhasilan dengan terjualnya lebih dari sepuluh juta kopi dan diterjemahkan dalam 35 bahasa. Tiga novel yang telah dia tulis telah difilmkan, termasuk Satu Hari Bersamamu dan Oprah Winfrey menjadi produsernya pada tahun 1999.
Mitch Albom yang saat ini berusia 59 tahun mengawali karir menulisnya sebagai penulis lepas untuk beberapa media massa di New York, melanjutkan karir menjadi penulis tetap untuk beberapa media di Florida dan kemudian menjadi jurnalis olah raga setelah dia pindah ke Detroit. Saat ini, Mitch bekerja untuk radio WJR dan juga sering muncul dalam on ESPN Sports Reporters and Sports Center.
Mitch menempuh pendidikannya di Universitas Brendeis di Waltham, Massachusetts dalam bidang Sosiologi, mungkin itulah salah satu alasan kenapa Mitch sangat lihai melihat sudut-sudut kecil kehidupan sehingga buku-bukunya sarat dengan "pelajaran kehidupan". Mitch juga melanjutkan pendidikan magister dari Columbia University’s Graduate School of Journalism dan diikuti dengan mendapatkan gelar MBA dari Columbia University’s Graduate School of Business. Latar belakang pendidikan inilah yang mungkin membuat tulisan-tulisan Mitch terasa cerdas dan keren, pendidikan sosiologi, jurnalisme, ditambah manajemen, perpaduan yang sangat bagus menurut saya.
Ada satu hal lagi yang membuat karya Mitch begitu mempesona, ternyata dia adalah seorang seniman juga. Pada masa remajanya Mitch belajar piano dan menjadi anggota beberapa grup musik. Bahkan dia juga menulis dan membuat rekaman beberapa lagu. Terlebih lagi, dia menyelesaikan kedua gelar magisternya dengan biaya dari pekerjaannya sebagai pemain piano. Paket komplit, penulis, penulis lagu, pemain musik, penampil televisi sekaligus pengisi radio, Mitch, salah satu penulis favorit saya sampai saat ini.
Wednesday, 25 October 2017
Sikap
Kemarin di timeline media sosial saya ramai tentang perusahaan ekspedisi yang mengadakan gathering namun menyajikan minuman keras disana. Selain itu ditampilkan juga video dimana ada beberapa tamu (atau petinggi perusahaan?) yang sampai mabuk di acara itu. Lalu ramai-ramai banyak yang mengambil sikap untuk berhenti menggunakan ekspedisi tersebut.
Beberapa postingannya tentang pernyataan sikap, namun ada juga yang berupa pernyataan sikap dan "ajakan tersirat" kepada orang lain untuk juga berhenti menggunakan ekspedisi tersebut.
Saya hampir setiap hari mengirimkan barang entah itu barang pribadi atau dagangan untuk dikirimkan ke customer. Dulu saya merasa agak repot ketika harus mengantarkan barang ke kantor ekspedisi yang saya gunakan. Sampai suatu ketika perusahaan ini muncul, dimana dia memberikan layanan jemput barang tanpa minimal paket. Saya merasa sangat terbantu, dan alhamdulillah selama ini dari sekian banyak transaksi hanya ada 2 paket yang bermasalah dalam pengiriman. Selebihnya, barang datang sesuai prediksi atau kadang lebih cepat.
Begitu ramai tentang acara gathering itu kemarin, ada yang bertanya kepada saya, apakah masih akan menggunakan ekspedisi tersebut?
Saya jawab iya. Karena kelakuan pimpinan perusahaan atau tamu mereka itu tidak mengganggu saya, apalagi dalam hal ini saya tidak melihat langsung kejadian (situasi dan kondisinya) dan hanya membaca dari media sosial yang sumbernya adalah "hanya 2 akun" yang dishare banyak orang. Kedua, saya pun tidak sebegitu detail juga terkait acara-acara atau kegiatan atau visi misi perusahaan ekspedisi lain yang ada di lingkungan saya yang lain (selain ekspedisi ini). Ketiga, ilmu saya mungkin belum sampai untuk hal muamalah ini, jadi saya akan belajar terus insyaallah.
Selama ini saya menggunakan semua ekspedisi yang ada di lingkungan saya kok, tergantung mana yang mudah saya jangkau, jadi sikap saya adalah tetap seperti itu. Hehe. Tetap menggunakan ekspedisi apa saja sepanjang mudah saya jangkau dan bisa membantu saya mengirimkan barang saya kepada penerima. Begitu.
Dan saya tidak akan mengajak atau melarang siapapun untuk memakai ekspedisi mana :)
"Dari
penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa keputusan memberlakukan
boikot, atau yang sering disebut dengan istilah embargo, adalah wewenang
pemerintah Muslim. Ada pun masyarakat biasa, siapa pun orangnya, tidak
dibenarkan berbuat lancang mendahului keputusan pemerintahnya, agar
tidak terjadi kekacauan karena lepas kontrol. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab."
Dikutip dari sini.
"Boleh melakukan transaksi dengan mereka dalam perdagangan, sewa menyewa dan jual beli barang, selama alat tukar, dan barangnya dibenarkan menurut syari’at Islam."
Dikutip dari sini.
Beberapa postingannya tentang pernyataan sikap, namun ada juga yang berupa pernyataan sikap dan "ajakan tersirat" kepada orang lain untuk juga berhenti menggunakan ekspedisi tersebut.
Saya hampir setiap hari mengirimkan barang entah itu barang pribadi atau dagangan untuk dikirimkan ke customer. Dulu saya merasa agak repot ketika harus mengantarkan barang ke kantor ekspedisi yang saya gunakan. Sampai suatu ketika perusahaan ini muncul, dimana dia memberikan layanan jemput barang tanpa minimal paket. Saya merasa sangat terbantu, dan alhamdulillah selama ini dari sekian banyak transaksi hanya ada 2 paket yang bermasalah dalam pengiriman. Selebihnya, barang datang sesuai prediksi atau kadang lebih cepat.
Begitu ramai tentang acara gathering itu kemarin, ada yang bertanya kepada saya, apakah masih akan menggunakan ekspedisi tersebut?
Saya jawab iya. Karena kelakuan pimpinan perusahaan atau tamu mereka itu tidak mengganggu saya, apalagi dalam hal ini saya tidak melihat langsung kejadian (situasi dan kondisinya) dan hanya membaca dari media sosial yang sumbernya adalah "hanya 2 akun" yang dishare banyak orang. Kedua, saya pun tidak sebegitu detail juga terkait acara-acara atau kegiatan atau visi misi perusahaan ekspedisi lain yang ada di lingkungan saya yang lain (selain ekspedisi ini). Ketiga, ilmu saya mungkin belum sampai untuk hal muamalah ini, jadi saya akan belajar terus insyaallah.
Selama ini saya menggunakan semua ekspedisi yang ada di lingkungan saya kok, tergantung mana yang mudah saya jangkau, jadi sikap saya adalah tetap seperti itu. Hehe. Tetap menggunakan ekspedisi apa saja sepanjang mudah saya jangkau dan bisa membantu saya mengirimkan barang saya kepada penerima. Begitu.
Dan saya tidak akan mengajak atau melarang siapapun untuk memakai ekspedisi mana :)
"Dari
penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa keputusan memberlakukan
boikot, atau yang sering disebut dengan istilah embargo, adalah wewenang
pemerintah Muslim. Ada pun masyarakat biasa, siapa pun orangnya, tidak
dibenarkan berbuat lancang mendahului keputusan pemerintahnya, agar
tidak terjadi kekacauan karena lepas kontrol. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab."
Dikutip dari sini.
"Boleh melakukan transaksi dengan mereka dalam perdagangan, sewa menyewa dan jual beli barang, selama alat tukar, dan barangnya dibenarkan menurut syari’at Islam."
Dikutip dari sini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
