Monday, 9 October 2017
Brosur
"Ep, ada tamu", kata temanku sambil wajahnya menunjuk ke sofa tamu.
Kulihat di sofa duduk seorang anak muda, berpakaian rapih necis berdasi sedang memegang buku.
"Siang Bu Ana, saya dari Virtus"
Virtus? Bukannya Virtus itu vendor IT, kok nyariin aku. Hmmm..pasti salah orang nih..
"Ya?"
"Saya dari Virtus Culinary ingin memberikan penawaran snack box dan nasi kotak, bla bla bla."
Oalaaahh..ya, aku ingat. Aku pernah memesan tumpeng dari sebuah website, yang kemudian pembayarannya transfer ke sebuah perusahaan yang bernama Virtus Culinary itu. OOwwhh...
Jadi dia datang untuk menawarkan produk lain dari perusahaannya tersebut, yaitu nasi kotak dan snack box.
-----------------------------
Siang yang panas, aku dan anakku berkeliling dari kantor ke kantor untuk menyebarkan brosur. Brosur berwarna yang isinya menawarkan katering untuk pegawai. Senyumku tak berhenti terkembang. Aku senang, karena aku ingin masakanku bisa dirasakan oleh semua kawan-kawan pekerja kantoran.
Menu yang ditawarkan ada 5 set. Untuk hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat. Ada 2 macam, jadi selang seling menunya antara minggu I, II, III dan minggu ke IV.
Menu terdiri dari nasi putih/merah, sayuran, lauk pendamping, telur/ikan/ayam/daging. Ada juga paket nusantara, seperti paket nasi uduk, paket nasi kuning, paket nasi pecel dan paket lontong sayur atau bubur ayam.
Harga sarapan berkisar 10-12 ribu per porsi, sedangkan makan siang berkisar antara 12-20 ribu rupiah. Diantar sampai tempat.
Jadi, tak ada lagi pertanyaan : "Makan siang apa kita hari ini?" yang biasanya ditanyakan ke kawan yang kawan pun bingung mau menjawab. Karena kadang kala menu makan siang itu adalah hal yang sulit dijawab. Hahaha.
Sepulang menyebarkan brosur, aku akan mulai menyiapkan masakan untuk besok pagi. Menyiangi sayuran, memotong-motong bahan makanan dan mengecek bumbu-bumbu. Ouhh..sungguh menyenangkan.
Setiap sore akan tercium aroma masakan yang wangi, memenuhi setiap jengkal dapur kecilku. Dan besok pagi harinya, tepat pukul 6 kurirku sudah siap mengantarkan pesanan pelanggan ke kantor-kantor di Jakarta. Selepas kurirku berangkat, aku mulai menyiapkan menu makan siang yang nanti jam 10 akan siap diantar kembali oleh kurirku. Ya ampun betapa menyenangkan sekali pekerjaan ini..
---------------------------------------
"Whoy! Ngelamun ajaa"
Terkaget-kaget tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
Ya, ternyata kerjaan sebagai owner katering yang bagi-bagi brosur tadi masih berbentuk khayalan saja. Hahahaha.
Sampai dengan detik ini aku masih menjadi pegawai negeri yang pergi pagi pulang petang untuk mencari rezeki.
Fyuuhh...
Saturday, 7 October 2017
Mimpi Besar
Kawan,
Mimpimu itu terlalu besar
Mengenai keadaan kita, kamu harus sadar
Sudah sejak kecil kita diajari
Apa-apa yang harus kita pelajari
Harusnya kita bisa tahu diri
Apa kamu lupa
Kita ini apa
Duhai,
Kalau bermimpi besar saja kita takut
Bagaimana bisa nasib kita ikut
Tak perlu banyak kata
Cukup kau kirimi aku doa
Sepanjang kata, sepanjang masa
Biar kalau mimpiku menyata
Kuajak kita semua.
Friday, 6 October 2017
Anak
"Di sini, Mbak," sahutku.
"Oh...," jawabnya sambil menghampiriku.
"Habis mudik to, Mbak?"
"Iya nih, baru datang kemarin."
"Naik apa?"
"Biasa, naik bis. Udaranya puanaaasss, saya sampai gembrobyos. Untung aja nggak macet, Bu."
"Anak jadi ikut ke Jakarta?"
"Nggak mau, Bu. Katanya mau kerja di sana saja. Lagian kerja di sini juga mau kerja apa ..."
"Sudah selesai sekolahnya?"
"Sudah. Sudah lulus SMA kemaren itu, tapi tetep enggak mau ikut kesini. Ya tadinya kan kalau ikut ke sini kumpul semua sekeluarga."
Terdengar bunyi telepon genggam. Mbak Mur mengangkat telepon dan mendekatkan alat itu di telinganya.
"Lagi kerja." Telepon ditutup.
"Ibu tambah gemuk aja. Ayem ya, Bu."
"Hahaha. Iya, Mbak Mur. Ayem. Seneng."
"Saya juga ini tambah gemuk. Tapi gak enaknya jadi gampang capek."
"Iya keberatan kakinya, Mbak. Hehehe. Dulu Mbak Mur sama Mas Jono kenal dimana?"
"Kenal di yayasan, pas lagi pelatihan, Bu. Terus kerja bareng, terus nikah."
"Cinta lokasi nih ye? Hahahaha."
"Ibu bisa aja. Hehe."
"Anak Mbak Mur normal?"
"Lihat maksudnya, Bu? Iya, alhamdulillah orang lihat, Bu. Nggak tuna netra seperti bapak ibunya."
"Di kampung tinggal sama kakek neneknya?"
"Iya, Bu. Sejak umur 4 tahun saya tinggal kerja. Sekarang udah gede, eh tetap mau di sana. Nggak mau diajak ke sini."
Setiap kali kesini aku selalu ingin tahu tentang anaknya. Bagaimana mereka merawat dan mendidik anaknya? Bagaimana sikap anaknya terhadap mereka? Bagaimana kakek neneknya mengasuhnya? Apakah anaknya bangga punya orang tua seperti mereka, atau sebaliknya? Bagaimana kasih sayang anak ke orang tuanya dan sebaliknya? Aku sungguh ingin tahu.
"Permisi!" Terdengar ada orang datang.
"Mau pijit, Pak?" teriak Mak Mur.
""Iya. Mas Jono-nya ada?"
"Tunggu ya!" Mbak Sum menelepon Mas Jono yang ada di kontrakan samping rumah ini.
Tak lama terdengar suara Mas Jono datang dan mulai memijit orang yang baru datang tadi di kamar sebelah. Lalu aku mulai tertidur.
Tiba-tiba terdengar bunyi gaduh. Bunyi tangisan dan beberapa orang berteriak.
"Bu, maaf ya, Bu. Mbak Murnya pingsan. Anaknya di kampung kecelakaan." Wanita tua yang biasa membersihkan rumah ini membangunkanku. Aku buru-buru bangun dan keluar kamar.
Kulihat Mbak Sum terbaring di bale bambu, di pangkuan Mas Jono yang sibuk memijit dan mengoleskan minyak angin di pelipis Mbak Mur yang sudah mulai sadar. Kaki Mas Jono terlihat berdarah, sepertinya karena tanpa sengaja tersandung sesuatu saat menolong Mbak Mur. Pasangan itu terlihat sangat berduka, bagaimana tidak, anaknya semata wayang yang sedari kecil tinggal jauh dari mereka sedang mendapat celaka. Dan entah bagaimana keadaannya sekarang, sedangkan untuk kesana, dibutuhkan waktu belasan jam naik bus.
"Mas Jono, Mbak Mur, mau pulang kampung? Ayo bersiap-siap, kami yang akan antar," kata suamiku yang sebelumnya duduk di teras depan membaca buku untuk membunuh waktu menungguku dipijit.
Aku tidak mampu berkata apa-apa. Tak terasa air mataku mengalir. Mbak Mur, perempuan setengah baya tanpa bola mata itu terdiam. Tatapan kosong pun dia tak punya. Seumur hidupnya tak pernah sekalipun dia melihat wajah putrinya, tapi rasa cinta seorang ibu siapa yang bisa menandingi. Mas Jono, laki-laki tambun yang buta sejak kecil itu beranjak ke kontrakannya, bersiap-siap katanya.
Tak apa. Dua hari ini kami berikan waktu kami untuk mereka. Untuk tahu besarnya kasih sayang orang tua kepada anaknya, tidak harus menjadi orang tua dulu. Delapan tahun kami menunggu, tapi kalau Tuhan belum memberi kami bisa apa.
Matahari mulai terbenam ketika kami berangkat menuju kampung halaman Mbak Mur. Kami mampir sebentar ke rumah untuk mengambil bekal dan pakaian secukupnya. Aku belum sekalipun menanyakan bagaimana kondisi putri mereka, karena mereka tiba-tiba saja menjadi pendiam yang paling diam. Aku berharap, putri tercinta mereka masih hidup.
Thursday, 5 October 2017
Menerima Kenyataan
Perempuan itu susah menerima kenyataan. Kenyataan yang membuat dia merasa kalah dari orang lain.
Wah, ini lagi ngomongin tante-tante 50 tahun yang tampak seperti ABG ya?
Itu salah satunya, Beb.
Sebetulnya nggak cuma soal tante ABG 50 tahun, tetapi siapapun yang membuat perempuan terlihat kalah, misalnya Nia Ramadhani yang sudah berbuntut-buntut, tetapi tetap cantik seperti bidadari turun dari taksi, misalnya lagi tetangga yang masih tetap langsing singset biarpun sudah punya anak 3 padahal dia seumuran. Hahahahaha
Kamu curhat nih ceritanya?
Setengahnya, Beb. Setengahnya lagi sedang belajar menerima kenyataan, hahahahahaha.
Tapi apakah benar kita itu sudah menerima kenyataan to, Beb?
Sebetulnya itu tergantung masing-masing orang kok, Beb. Ada yang beneran susah menerima kenyataan, lalu muncuk prasangka. Muncul pembelaan-pembelaan yang sebetulnya tidak diperlukan oleh siapapun. Misalnya soal tante ABG 50 tahun itu, beberapa langsung bilang, "Gak mungkin banget, masak umur 50 tahun seperti itu, itu pasti botox, biar ga muncul kerutan." Dan sebagainya yang mirip-mirip menandakan dia susah menerima kenyataan. Bahahahaha.
Tapi, di sisi lain ada juga yang sebaliknya. Dia mati-matian membela kakak ABG 50 tahun ini dan mencoba menjadikannya role model. Mulai ikut ngegym, makan raw material..eh raw food, aerobic, berhenti makan nasi putih dan seterusnya. Jadi, menurut aku kawan-kawan yang seperti ini langsung menerima kenyataan itu, Beb...
Lha kalo kamu gimana, Beb?
Aku? Aku sih ketika melihat dia langsung kepo, Beb. Pengen tau bagaimana kehidupan sehari-hari dia, Beb. Setelah kepo, aku langsung balik kanan, Beb. Aku langsung menerima kenyataan bahwa aku disini dan dia disana, hanya berjumpa via dunia maya... Eh maksudnya, hidupnya dan hidupku itu seperti jarak Jakarta ke Banyuwangi, Beb. Jauuuhh... Dia makan sehat aku makan enak, dia olah raga aku olah jiwa, jadi memang sudah sebaiknya aku tidak membandingkan diriku dengan dirinya. Hidup itu pedih, Jendral... T.T
Trus dari tadi kamu ngomongin tentang menerima kenyataan itu tadi buat apa, Beb? Aku belum menemukan inti dan kesimpulan dari obrolanmu lho..
Intinya ya, Beb, wes jangan suka prasangka sama orang lain, sebagian prasangka itu datang karena rasa iri. Sedangkan iri itu sendiri adalah penyakit hati, Beb. Orang tidak mungkin mencapai hasil yang WOW kalau usahanya nggak WOW juga. Jadi kalo kamu mau hasil yang WOW, ya harus usaha yang WOW, jangan cuma irinya aja yang gede, giliran disodorin bakwan sama cabe ijo langsung nyomot ludes 5 bijik. Ditambah minum capcip segelas gede. Lha kayak gitu pengen body kayak tante ABG 50 tahun. Kan yo mimpi to, Beb..
Oh ngono..
Iyo, Beb.
Wednesday, 4 October 2017
Tuhan Maha Adil
Kamu percaya Tuhan Maha Adil?
Jika kamu percaya, mengapa setiap hari dari mulutmu hanya menuntut hak dan hak
Sedangkan kamu tahu, kamu pun punya kewajiban yang jadi hakku
Jika kamu percaya, mengapa setiap hari mulutmu terus mengancamku
Sedangkan kamu tahu, ada hal yang bukan kewajibanku, tapi kau wajibkan padaku
Jadi apakah kamu percaya Tuhan Maha Adil?
Kalau kamu percaya,
Jangan lagi kamu pilih aturan-Nya hanya yang menguntungkanmu saja
Karena jika tak di dunia, di akhirat Dia akan membalasnya..
Jika kamu percaya,
Kamu pasti tahu, tidak mungkin dia hanya mendukung pemimpin sepertimu,
Sedang padaku tidak.
Kelakuanmu Waktu Kecil Gimana?
Ya, aku buat status seperti ini :
Kakak kedua diejek karena gayanya yang sok kece sejak dari kecil. Dulu waktu kecil setiap beli barang baru, ngacaaaa mulu,,dengan berbagai gaya, tiduran kaki di atas, berdiri kaki diangkat dan seterusnya..
Sampai kemudian, dia bikin kaos. Gue bilang bikin kaos yang lucu-lucu aja, yang kekinian gitu..
Dia gak mau, kekeuh bilang, "Kalo aku mau bikin kaos, sekalian yang bagus, kualitasnya harus bagus, gak mau lah setengah-setengah"
Dan dia membuktikan omongannya dengan memulai bisnis kaos, bikin web sendiri, masukin ke lazada juga, offline juga..
Harganya murah banget pulak,,,coba deh cek, soalnya lagi promo ulang tahun tuh...
http://jointoriginal.com/
Hahahaha
Sebetulnya kalo versi utuhnya, memang ternyata bisnis yang kami jalankan sekarang itu gak jauh-jauh dari kelakuan masa kecil kami.
Kakak pertama. Seingat aku, kakak pertamaku itu hobinya bikin bikin karya seni misalnya lukisan, kaligrafi gitu. Nah, sekarang kerjaane opo? Sekarang dia adalah fotografer dan tukang edit foto.
Kakak kedua. Kakak kedua ini anak yang paling peduli sama penampilannya. Dulu waktu kecil nih, kalo habis beli sepatu, itu sepatu gak boleh tersentuh lantai sebelum dia benar-benar memakainya untuk ke sekolah. Dan sepatu itu akan dipakai ngaca dengan berbagai gaya, sambil berdiri kaki diangkat, tiduran kaki di atas dari depan, tiduran kaki diatas dari samping, dari belakang, dah pokoknya sampai yang liat malessssss... Beli baju juga ngaca terusss...
Nah, sekarang bisnisnya apa? Ya seperti yang aku sebutin di status facebook aku tadi, dia sedang menjalankan bisnis clothing, jualan kaos yang dia buat sendiri. Seideal mungkin.
Adek. Adekku itu waktu kecil hobine protes. Hahahaha. Nggak bukan itu yang sorotin. Adekku itu hobinya nyanyi, dia sempat jadi vokalis gitu di grup rebana masjid kampung, hehehehehehe. Trus bisnisnya apa sekarang? Bisnisnya jadi pedagang gembreng. Hahahahahaha. Lhah kok pedagang? Iya lah, pedagang itu membutuhkan kemampuan berkoar-koar dan saking kencengnya sampai kayak gembreng. Oke ini mulai memaksakan kehendak, hahahaha. Cukup.
Kalo aku sendiri?
Yeah, dari kecil hobiku makan dan tidur. Makanan favorit krupuk sambel. Bisnis sekarang? Ya jelas bakulan sambel to yoooo....
Wes ngono wae, intinya kebanyakan pilihan bisnis yang kita jalani sekarang adalah pilihan kita. Kembali ke pilihan kita, yang bahkan sejak kita kecil sudah kita pilih :)
Hayooo...kelakuanmu waktu kecil gimana?
Monday, 2 October 2017
Pesan
"Belum tidur kamu, nduk?"
"Belum, Pak. Rani baru pulang dari kampus. Banyak tugas kelompok yang harus diselesaikan tadi," jawab Rani sambil membereskan tempat tidurnya.
"Bapak sendiri kok belum tidur? Tadi Rani lihat ibu sudah tidur, malah terlihat sangat tenang sekali tidurnya"
"Sebentar lagi bapak nemenin ibu lagi. Bapak juga baru datang. Belum begitu ngantuk."
Lelaki sepuh berambut putih itu lalu duduk di satu-satunya kursi yang ada di kamar Rani. Ditatapnya putrinya yg sudah beranjak dewasa itu penuh arti.
"Nduk, kamu itu sudah besar, sudah bisa mengatur kebutuhanmu sendiri. Nanti seumpama ada laki-laki baik yg memintamu jadi istrinya, Bapak sudah rela."
"Bapak ini lho, Rani kan masih satu semester lagi to kuliahnya. Lagian, ibu masih butuh banyak uang, Rani mau bantu Bapak dulu," jawab Rani sambil duduk di dipan menghadap bapaknya.
"Masalah ibumu itu tanggung jawab bapak, Nduk. Kalau sudah ada yg menjaga kamu, kan bapak juga lebih tenang nanti. Wes pokoke itu pesen bapak ya, Nduk, kamu harus patuh."
"Tapi, Pak..."
"Wes to, bapak tau siapa yg ada di hati kamu. Dan bapak setuju saja. Ibu dan bapak sudah lama kenal dia," jawab bapaknya sambil tersenyum.
"Iya, Pak. Mas Brama juga sudah bilang sama Rani. Tapi ..."
"Brama tau bapak sama ibu merestui. Bapak juga sudah sampaikan ke Brama, jaga kamu baik-baik, kamu satu-satunya anak bapak dan ibu. Bapak dan ibu sudah percaya sama Brama."
"Ya, Pak. Tunggu Rani selesai kuliah dulu. Baru Rani putuskan nanti. Wes bapak istirahat dulu, biar besok bisa kerja lagi," tutup Rani.
"Ya sudah, kamu juga istirahat. Bapak dan ibu sayang sama kamu, Nduk."
"Rani juga sayang sama bapak dan ibu." Dipeluknya lelaki tua itu erat-erat.
Pak Rustam keluar dari kamar Rani lalu menutup pintunya dari luar. Rani berbaring di tempat tidur, mulai memikirkan pesan bapaknya. Kenapa tiba-tiba bapaknya membicarakan Brama? Lelaki yang sudah lama mendekati dia dan juga keluarganya. Lelaki yang selama ini membantu kesulitan keluarganya. Mantri desa itu memang sangat baik, dan punya niat memperistri Rani.
Tiba-tiba pintu rumah Rani diketuk keras dari luar. Rani terlonjak, tidak biasanya malam-malam ada yang bertamu.
"Siapa!"
"Brama! Buka pintunya, Ran!"
Rani bergegas ke pintu dan membukanya. Tampak Brama, pak RT dan Pak Burhan tetangga pak RT, satu-satunya warga yang punya mobil di kampung itu. Di belakangnya, terparkir mobil Pak Burhan.
"Rani kamu yang sabar ya... Bapakmu ...," kalimat Brama terputus sambil dia menggiring Rani ke mobil.
Bapaknya terbujur kaku di bak belakang mobil Pak Burhan. Laki-laki itu tidak bernafas, berwajah tenang dengan sebaris senyuman. Di sampingnya, tersandar cangkul yang biasa dibawa bapaknya berangkat bekerja di sawah.
"Bapaaaaaakkk!" Dipeluknya tubuh kaku bapaknya. Diciuminya wajah lelaki yang sudah membesarkan dia itu penuh haru.
"Bapak kenapa bisa begini, Paaakk? Kenapaaa?"
Brama memeluk Rani, mengusap-usap punggungnya menenangkan. Dia pun merasa sangat kehilangan.
Dan mereka tidak sadar. Perempuan tua lumpuh yang terbaring di dalam rumah itu juga sudah mulai mendingin, dan menjadi kaku.