Sebenernya mau sharing rapotku berikutnya, tapi lupa bawa bukunya, ehehehehe. Yaudah aku spill dikit-dikit menu makan aku saja ya..
Tuesday, 1 November 2022
Resep Menu Makanku
Tuesday, 25 October 2022
Rapotku Minggu Pertama
Setelah pulang dari klinik tanggal 11 Oktober, aku pun mulai cek gula darah dan tensi 2x sehari. Malam sebelum tidur dan pagi setelah bangun tidur.
Ya ada sih saat-saat aku lupa atau terlambat, haha. Misalnya udah keburu masak baru inget belum cek, jadi ngeceknya setelah masak.
Dan inilah hasilnyaaaaa :
Resep Sehat Buat Aku
Cerita sebelumnya :
------------------------
Setelah mencatat hasil laboratoriumku yang tidak bagus itu, Dokter Agus memberiku selembar kertas. "Sekarang resepnya. Kamu catat!"
Beginilah kira-kira yang beliau diktekan :
Hasil Laboratoriumku
Tanggal 7 Oktober 2022 akhirnya aku ke Lab Prodia di Bintaro. Sebelum datang, karena ada pemeriksaan gula darah puasa, aku tidak makan dan minum kecuali air putih minimal 12 jam. Kami datang sekitar pukul 9, kemudian karena ada pemeriksaan gula darah 2 jam setelah makan, maka setelah pengambilan sampel pertama dan EKG kami disuruh segera makan dan kembali 15 menit sebelum tepat 2 jam setelah kami terakhir mengkonsumsi makanan/minuman untuk pengambilan sampel darah kedua.
Hasil lab akhirnya aku ambil sorenya sekitar pukul 5. Dan inilah hasilnya...
Thursday, 20 October 2022
Akhirnya ke Dokter Agus Rahmadi
Akhirnya tanggal 5 Oktober 2022, aku datang ke klinik dokter Agus Rahmadi di Pondok Aren. Sebenernya itu gak jauh dari rumahku sih, tapi nawaitunya baru muncul sekarang.
Aku datang pas waktu magrib. Kliniknya sekarang sudah bagus, bersih dan cantik sekali. Meskipun kecil, di dalamnya ada kafetaria (kafetarianya ini khusus ya, menunya beda dengan kafetaria pada umumnya) dan ada musholla. Jadi kita misalnya pengen sholat tidak perlu cari masjid jauh-jauh.
Oke akhirnya bertemu dengan dokter Agus. Pertemuan pertama diisi dengan perkenalan dan cerita tentang asal muasal sakitnya aku. Dokter Agus juga tanya, darimana kami tau soal praktek beliau. Setelah mendengar cerita aku, dokter Agus menyampaikan beberapa hal ini :
1. Jika berobat ke dokter Agus, itu metodenya herbal dulu, dan harus nurut dengan beliau selama satu tahun. Ehehehe. Kalau tidak mau ga usah keknya sih (dokter Agus ga bilang gitu sih yaa..)
2. Karena sakitku diabetes, aku disuruh nonton video beliau di Youtube tentang pengobatan penyakit diabetes.
Aku nonton ini :
https://www.youtube.com/watch?v=GbrizexLWSs
dan ini :
https://www.youtube.com/watch?v=QpzSeWewBYk&t=2696s
3. Aku harus cek laboratorium terlebih dahulu. Dokter Agus berikan pengantar apa saja yang harus dicek. Disarankan ceknya ke Prodia saja.
4. Minggu depannya, aku dijadwalkan datang lagi dengan membawa hasil laboratorium dan dikasih "resep" yang sesuai.
Saat itu aku meminta juga dokter Agus untuk memberikan pengantar lab untuk suamiku. Kenapa? Karena suamiku itu gemuk sekali dan pernah ada riwayat kateterisasi. Meskipun saat kateterisasi dinyatakan jantungnya sehat, tapi kan kita tidak tahu bagaimana sebenarnya kondisi tubuh kita sekarang. Iya kan?
Maka dari itu kami pulang dengan membawa dua lembar pengantar ke laboratorium, satu buat aku dan satu buat suamiku.
Tuesday, 18 October 2022
Hanya Dipikirin
Ini lanjutan dari postingan sebelum ini.
Sejak divonis diabetes, yang ada di kepalaku adalah bayang-bayang ibuku. Ibuku divonis diabetes setelah bapak meninggal. Tahun 2004. Setelah itu ibu harus rutin kontrol ke internis setiap bulannya. Diperiksa dokter dan menebus obat yang harus diminumnya setiap hari yang konon katanya seumur hidup. Sampai akhirnya ibu meninggal dunia pada Oktober 2015.
Aku berfikir, apakah harusnya aku juga ke dokter? Apakah aku harus ke klinik dulu meminta surat rujukan lalu nanti ke internis untuk membuat janji rutin setiap bulan?
Tapi semua itu hanya aku pikirkan saja. Tidak aku lakukan dan tidak juga aku sampaikan kepada siapa-siapa.
Seperti biasa, hal yang sangat menyakitkan lebih mudah diabaikan, dianggap tidak ada dan tidak kenapa-kenapa daripada harus dihadapi.
Sampai suatu hari, aku sedang zumba sama teman-teman kantorku. Di tengah-tengah kegiatan senam, aku berhenti karena suatu hal lalu kembali ke ruanganku. Sampai ruangan aku merasa kesadaranku seperti akan hilang. Temanku bilang wajahku sangat pucat. Ketika aku melihat wajahku sendiri di cermin, betul, wajahku pucat dan agak biru kehijauan. Keringat membanjir besar-besar di wajahku. Teman-temanku membuatkan teh manis panas, mengambilkan air hangat buat kuminum. Kulepas sepatuku dan aku rebahkan badan di meja. Setelah minum teh dan air hangat, berangsur-angsur pandanganku membaik. Dan tubuhku tak lagi selemas sebelumnya.
Sejak itu aku lebih takut. Jangan-jangan selama ini tubuhku memburuk tanpa aku sadari.
Dan aku mulai memikirkan opsi ke dokter.
Aku membayangkan suasana klinik, suasana rumah sakit, ruang periksa dan antrian di poli rumah sakit. Kok rasanya berat ya.
Aku memikirkan opsi yang lain. Apakah ada dokter praktek yang enak, dan mungkin bisa memberikan harapan sembuh? Harapan agar aku tidak perlu ngobat terus?
Lalu aku teringat tentang seorang dokter yang selain dia dokter juga mendalami pengobatan ala Nabi. Selain memberikan resep medis, terlebih dulu akan memberikan jalan herbal. Dan terutama, mengubah pola hidup pasiennya.
Dan aku mencari info (lewat google tentu saja) tentang dokter ini. Dokter Agus Rahmadi.
Friday, 14 October 2022
Awalnya...
Ketika 2019 mulai muncul pandemi covid di Indonesia, kemudian di awal tahun 2020 anak dan suamiku sakit bergantian dan kantor-kantor mulai melaksanakan WFH, aku yang biasanya setiap minggu rutin cek gula darah di kantor (ada dokter yang datang seminggu sekali, dokter Nurul namanya), menjadi lama gak cek gula darah.
Hari itu di akhir tahun 2020. Jadwal dokter datang. Aku pun antri untuk cek darah. Saat itu aku sedang baik baik saja, dan tidak merasa ada yang aneh dengan badanku. Saat itu waktu pukul 2 siang. 380. Aku kaget. Dokter Nurul kaget. Iya, tinggi banget.
Dokter Nurul bilang 2 jam lagi aku agar kembali ke ruang dokter, untuk cek gula lagi.
300. Masih tetap buruk. Saat itu Dokter Nurul bilang, oke kamu kurangin nasi dan gula ya, minggu depan kita cek lagi.
Seminggu berlalu. 280. Iya masih buruk. Dokter Nurul bilang, oke kamu cek ke laboratorium ya. Hba1c dan mulai sekarang kamu wajib diet dan olah raga setiap hari minimal 30 menit.
Hba1c : 12.5. Interpretasi : SANGAT BURUK.
Dan sejak saat itu aku disarankan minum metformin 500mg setiap hari. Satu hari satu butir.
Dan sejak saat itu juga aku ngurangin makan nasi, tepung dan yang bergula. Jalan kaki 30 menit-2 jam per hari. Berlangsung sampai pada akhirnya aku pindah ke kantor baru di Mei 2021. Tidak lagi bertemu dengan dokter Nurul. Tapi aku masih mengikuti sarannya untuk minum obat itu.
Sembuh? Tidak.
Gula darah jadi normal? Tidak. Betul turun, terkadang sampai normal juga, tetapi rata-rata masih tinggi.
Selama berbulan-bulan kemudian aku masih konsisten seperti itu sampai kemudian..mungkin di akhir 2021 karena tidak ada keluhan perlahan-lahan aku kembali makan biasa seperti orang pada umumnya. Olah raga pun sekenanya, sesempatnya dan semaunya. Haduh!
Selama berbulan-bulan aku memikirkan apakah harus ke internis untuk kontrol setiap bulan? Atau aku harus apa. Dan pada akhirnya aku tidak melakukan apa-apa.
.jpeg)



.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)






.jpeg)
.jpeg)
