Monday, 23 October 2017

Bakso Beranak

Ada yg kangen sama cerita upin ipin. Nih dikasih 👧👧

Tadi pulang kantor hujan, mampir JnT ngirim pesenan sambel. Suami nunggu juragan sambel sambil beli bakso yg lewat. Ternyata, itu bakso beranak. Waaahh..saya ingat upin ipin belum pernah nih makan bakso beranak, yowes bungkus 3 deh buat upin, ipin dan kak ros..

Sampai rumah :
B : bunda bawa bakso beranaakk!

U : waaahhh..apakah ada anaknya? 😨😨

B : iya doongg

I : apakah anaknya keciiillll? 😯😯

B : iyalaahh

U : apakah baksonya melahirkan? 😕😕

B : iya, nanti kita bedah dulu yaa... (sambil belahin bakso)

I : waah baksonya seperti bundaaaa!! Baksonya melahirkan seperti bundaaa!! 😄😄😄

U : bunda, bakso itu hidupnya dimana?

B : di panci

U : kenapa sekarang di potong diam saja, apakah sudah meninggal?

B : iya kan sudah direbus

I : apakah telur juga hidupnya di panci? Kok di baksonya juga melahirkan telur..

B : hmm....bisa juga..

I : bunda, potongkan ibunya bakso

B : anaknya sudh dimakan?

I : belum, aku baru makan bayinya, kalau anaknya belum dimakan!
(bayi itu yg di dalam, anak yg kecil di luar 😂😂😂)

U : bunda, apakah baksonya itu seperti kita?

I : iyaa..baksonya dilahirkan sama bundanya seperti kita

B : 😌😌😌😌😌😌

Dan satu porsi semangkok besar bakso, masing-masing anak habis lho..

Akhir kata :
"Bunda, nanti kita beli bakso beranak lagi yaaaa!"

😘😘😘😘

Daya Tahan

Someday, ada yang cerita pada saya. Tentang suaminya yang tidak bertindak sebagaimana layaknya suami. Sering berkata kasar bahkan mengusir dia dari rumah.

Mungkin kalian berfikir, suaminya berlaku demikian karena dia banyak uang? No. Bahkan suaminya ini juga ternyata tidak memberi istri dan anak-anaknya nafkah yang layak. Istrinya ini banting tulang mencari uang dengan melakukan apa saja, ojek, dagang, semua dilakoninya.

Sering kali si istri harus tidur di gudang karena dia terkunci di luar. Sementara suaminya? Ya jelas tidur di dalam kamarnya.

Dalam posisi seperti itu, si istri tetap mau bertahan. Daya tahannya kuat sangat.

Saya pun tidak habis pikir, apa yang diharapkan dari suami macam itu, tapi dia tidak. Dia bilang, "kalau kamu ada di posisi aku, mungkin kamu juga akan bertahan".

Hmm..apakah suaminya dekat dengan anak-anaknya? Ho, ternyata tidak juga.
Apakah suaminya baik dan dekat dengan orang tua istri? Apalagi itu, ternyata sama sekali tidak.

Aduh.

Mungkin daya tahanku memang gak sebesar dia.

Saturday, 21 October 2017

Maida

Maida, hidup ini tidak rumit
Cukup kamu sadar sedikit
Bahwa untuk bahagia itu tidaklah sulit

Maida, hidup itu bukan tentang cantik
Karena apapun bagiku kamu cantik
Dan jelek itu hanya kiasan!

Maida, lelah itu sudah niscaya
Tak usah kau membuatnya semakin terasa
Dengan mengeluhkannya kemana-mana

Maida, cukupkan keluhanmu sampai sini
Tak ada lagi jawabku kini
Kalau kau ingat umur
Cukupkan dengan sabar dan syukur

Maida,
Akupun tak pernah sesabar ini
Tapi mendengarmu
Aku merasa dikuliti

Maida,
Terima kasih dan terimalah kasihku

Jalan Itu Banyak

Asalnya adalah kalimat "Banyak Jalan Menuju Roma", jadi jalan itu banyak. Dan dengan adanya banyak sekali jalan itu, alternatif rutenya tentu sangat banyak. Satu yang pasti, tidak semua jalan yang ada harus dan bisa kita lewati. Fyuh, panjang ya?

Intinya, dalam hidup ini kita punya rute kita masing-masing. Dan kita tidak mungkin melewati semua rute yang ada di kehidupan ini. Jadi, nikmati saja rutemu, supaya ketika kamu sampai di tujuanmu nanti, kamu akan bangga, punya kenangan dan seluruh waktumu bisa kamu pertanggungjawabkan.

Bayangkan jika kita berjalan di rute kita, tetapi pandangan kita fokus memperhatikan rute orang lain. Kita sibuk melihat orang lain menjalani rutenya, sampai kita tidak tau pemandangan indah yang ada di sepanjang rute kita sendiri. Kita tidak tahu betapa sejuknya lindungan pohon-pohon yang ada di rute kita, bahkan kita pun tidak tahu, di seberang sana ada seseorang yang iri melihat enaknya rute kita.

Aduh malah terlalu panjang saya membahas rute.

Sebetulnya saya cuma mau menyampaikan, ketika kamu berniat untuk diet, ingatlah bahwa di dunia ini ada banyak sekali makanan. Dan kita tidak harus menikmati semua makanan yang ada itu. Pilih makanan yang halal lagi BAIK. Ingat, jangan sekedar halal, tetapi juga BAIK!!

Mengantarnya Ke Alamnya

Di kampungku, seperti halnya di kampung-kampung di Pulau Jawa, masih banyak mitos dan kepercayaan terkait orang yang meninggal dunia. Banyak mitos, banyak juga adat istiadatnya, salah satunya adalah selamatan pada hari-hari tertentu setelah salah satu kerabat meninggal dunia. Selamatan dilaksanakan pada hari ke-3, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, setahun, dua tahun dan terakhir hari ke-1000. Terhitung 7 kali selamatan di luar tahlilan dari hari pertama sampai hari ke-7.

Selamatan biasanya dilaksanakan malam hari, dimulai habis maghrib atau habis isya dan berlangsung kurang lebih satu jam. Acara dimulai dengan tahlil, wirid lalu diakhiri dengan doa-doa.

Untuk selamatan itu, keluarga almarhum/almarhumah harus menyiapkan binat (uang), rokok, minuman, makanan yg disantap di tempat (snack dan makan besar), serta makanan yg dibawa pulang (berkat). Lumayan menguras kantong karena biasanya jumlah undangan kurang lebih sekitar 100 orang. Contoh susunan menunya adalah, begitu datang tamu disuguh rokok dan minuman komplit dengan snack beberapa macam. Setelah acara selesai, tamu disuguh makan besar misalnya nasi soto ayam. Setelah itu tamu diberikan "berkat" untuk dibawa pulang. Berkat itu sendiri terdiri dari nasi, lauk pauk komplit (mie goreng, oseng buncis, tempe orek, ayam goreng, tahu kecap, serundeng, rempeyek/krupuk, kue apem, telur rebus/ceplok).

Mereka berkeyakinan, pada hari-hari itu almarhum/almarhumah pulang kembali ke rumahnya. Harapannya, ketika dia pulang, keluarganya sedang mengingat dia, sedang bersedekah untuk dia. Dan nanti setelah 1000 hari, dia akan benar-benar kembali ke alam selanjutnya.

Beberapa kali saya pulang kampung untuk menghadiri acara-acara selamatan ini. Dan saya takjub, bukan hanya acaranya itu sendiri yg menjadi adat, bahkan sajiannya juga! Wow. Suatu saat saya lihat keluarga almarhum menyiapkan es untuk tamu, alasannya karena adat disana begitu, tamu disuguhi es! Hahaha.

Satu hal yang membuat saya sedih dengan adat ini adalah ketika keluarga almarhum kondisi ekonominya kurang. Mereka sampai menjual harta benda demi menyelenggarakan selamatan yang berkali-kali itu. Mereka memaksa mengadakan "sesuai adat" demi menghindari omongan dan perlakuan aneh tetangganya. Miris, bro, sis.

Di satu sisi, adat ini bagus untuk mempererat silaturahmi, membudayakan sedekah dan mengingatkan kita untuk terus berbakti. Tapi di sisi lain, untuk keluarga yang tidak mampu, adat ini seperti hukuman, ibaratnya sudahlah jatuh ditimpa tangga. Sedih.

But, itulah adat istiadat di sana, buat merubah semua itu mungkin bisa, tetapi tidak mudah, mungkin mendekati mustahil. Saya nggak tahu sampai kapan adat ini akan dijalankan di sana, but now, saya menikmati sangat, walaupun kadang berat.

Ditulis untuk memenuhi tantangan #ODOP.

Thursday, 19 October 2017

Tabuh Subuh

Hari ini aku melihatmu
Kembali mendengar tabuh subuh yang lama kau biarkan berlalu

Tubuhmu bergetar pilu
Rasanya baru kali ini aku melihatmu kembali "pulang"

Tangismu dua hari lalu
Seolah mengatakan selama ini kamu terlalu jauh pergi

Kedatanganmu tiga hari lalu
Menunjukkan perjuanganmu yang ternyata salah jalan

Tabuh subuh pagi ini aku terharu
Kulihat bahkan kau sudah menyambutnya dengan sajadahmu yang lusuh
Kau pulang, Nak
Aku senang kau masih ingat pesanku saat kau pamitan tujuh tahun yang lalu
Sambutlah tabuh subuh,
sehingga kau tau kemana harus berlabuh.

Tuesday, 17 October 2017

Motivator

Sepanjang perjalanan hidup saya, saya sering menjadi tempat curhat kawan-kawan saya. Pada posisi itu, seringkali saya merasa perlu memberikan saran-saran dan nasihat yang menurut saya baik. Itulah salah satu kesalahan saya dan sekaligus kelebihan saya. Itu kesalahan karena, sebetulnya sebagian besar orang yang curhat, menumpahkan isi hati adalah karena ingin didengarkan saja. Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Kelebihan ketika ada kawan yang memang pada saat bercerita bertujuan untuk mencari pemecahan masalah.

Di situ saya merasa sotoy.

Saya tanpa sadar berbicara padanya panjang lebar, menanyakan padanya ini banyak hal, mulai dari situasi dan kondisi, latar belakang, pihak yang terlibat, dan kejadian perkaranya seperti apa. Dalam hal ini saya merasa menjadi seorang psikolog sekaligus detektif. Hahahaha.

Dan entah berguna atau tidak, kawan-kawan saya banyak yang kembali lagi untuk curhat atau meneruskan kisah yang pernah mereka curhatkan pada saya.

Sampai beberapa kawan akhirnya bertanya, "Kamu nggak kepengen jadi motivator?"

Ugh! Siapalah saya ini. Hanya remah-remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan. Serpihan kecil yang dikangeni dan selalu bertemu dengan orang-orang yang sedang mencari.
Dan tidak ada motivator yang lebih hebat dari diri kita sendiri! Ya, motivator terbaikmu adalah dirimu sendiri, kawan :)

Bukannya saya tidak ingin menjadi motivator, saat ini pun saya sering secara tidak langsung memotivasi kawan-kawan saya itu. Privat. Empat mata dan empat juta semangat.

Satu-satunya yang menjadi catatan saya ketika sedang melakukan sesi penerimaan curhatan, adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi kemudian semua ada di tangan kawan saya ini. Iya, tentu dengan seijin Allah.
Saya selalu mengingatkan kepada diri saya sendiri, satu-satunya yang bisa merubah nasib seseorang adalah dirinya sendiri, sehingga satu-satunya tugas saya adalah memberikan sedikit gambaran tentang apa yang kawan saya ini hadapi dan mengatakan kepada mereka, ini pilihanmu, terserah kamu pilih jalan yang mana.

Lucunya, pernah suatu hari beberapa kali ada kawan yang saya pun tidak kenal dia, tiba-tiba muncul di layar chat hape saya dan berkata ingin curhat. Wah! Siapa ini...
Sebagai seorang motivator amatir, saya pun mempersilahkan dia bercerita dan menyelesaikan ceritanya sampai tuntas. Kemudian saya bertanya hal-hal yang saya ingin ketahui dan kemudian memberikan kesimpulan dan saran. Well, saya sangat menikmati sesi ini.

Setelah selesai sesi penerimaan curhat, giliran saya yang deg-degan. Saya takut saya salah memberikan saran. Hahaha. Piye sih?

Ya begitulah motivator amatiran. Hahaha.